Rabu, 04 Februari 2009

Sandra Dewi

created by : Gilbert

Sempat Menjadi Pedagang Kain, Kini Bersinar Sebagai Artis


Semenjak penampilannya yang memukau dalam film Quickie Express, gadis keturunan tionghoa ini seketika langsung menyedot banyak perhatian publik. Selain itu, kehadirannya di jagad hiburan sebagai pendatang baru yang cukup memukau, membuat Sandra Dewi menjadi kelimpahan tawaran job, mulai dari sinetron sampai menjadi bintang iklan beberapa produk terkemuka. Kini hampir setiap hari, wajah cantiknya tidak pernah absen menghiasi layar kaca, dan sampul majalah. Lantas, bagaimana jatuh bangun Sandra Dewi dalam mewujudkan karirnya sebagai entertainer di Jakarta?

Pemilik nama lengkap Monica Nicole Sandra Dewi Gunawan Basri, atau yang kerap disapa dengan Sandra Dewi ini, merupakan sulung dari tiga bersaudara yang lahir di Pangkal Pinang, Bangka Belitung pada 24 tahun yang lalu. Sandra sendiri merupakan anak dari pasangan Gunawan Basri dan Chatarina Erliani. Semenjak kecil hingga masuk pada masa remaja, Sandra memang menghabiskan waktunya di tempat kelahirannya yaitu di Pangkal Pinang, Bangka Belitung. Bersama kedua adiknya, Kartika Dewi dan Raymond, Sandra hidup dengan penuh belaian kasih sayang dan perhatian yang cukup dari kedua orang tuanya. Memasuki usia lima tahun, Sandra bersekolah di TK St. Theresa I. Hingga SMP, Sandra bersekolah di tempat yang sama. Kemudian menjelang masa SMU, Sandra masuk ke SMUK St. Yoseph.

Berdagang. Bicara soal kemandirian memang bukanlah satu hal yang baru dialami oleh Sandra. Kemandiriran Sandra mulai terlihat ketika ia masih duduk di kelas tiga SD. Di mana kala itu demi mendapatkan penghasilan tambahan, Sandra mulai memberanikan diri untuk berdagang. Sebut saja seperti berdagang pakaian perempuan, kue-kue, kertas kado, dan peralatan atau keperluan anak perempuan yang lain di masanya kala itu. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mendapatkan penghasilan tambahan, guna menambah uang jajan sekolahnya. ”Orang tuaku memang memberikan aku uang jajan, tapi entah mengapa dulu itu aku selalu berpikir bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang jajan tambahan, tanpa harus menambah beban orang tua,” tutur Sandra. Beruntung, Sandra merupakan tipe gadis yang mau mengerjakan apa saja sepanjang pekerjaan tersebut halal. Selain itu, ia juga tidak merasa malu bila sedang berjualan. Kegiatan semacam ini terus dijalaninya sampai Sandra lulus dari SMU. “Pokoknya aku punya prinsip selagi aku mampu kerjakan sendiri, maka aku tidak akan pernah mau merepotkan papa dan mamaku,” ujarnya.

Kedua orang tua Sandra sendiri dapat dikatakan termasuk orang yang cukup mampu untuk membiayai kehidupan Sandra dan adik-adiknya secara menyeluruh. Gunawan Basri, ayahnya bekerja sebagai wiraswasta di bidang perkayuan, sementara ibunya Chatarina Erliani bekerja sebagai instruktur senam. Sikap sandra yang selalu hidup mandiri sedikit banyak terbentuk atas didikan kedua orang tuanya yang selalu menerapkan sistem kedisiplinan yang dimulai dari dalam rumah. “Papa sama mamaku itu selalu mengajarkan, kalau kita mau berhasil di luar, semuanya itu terlebih dahulu harus dimulai disiplin dari dalam rumah,” tuturnya.

Kendati disibukkan dengan berbagai kegiatan kemandirian di luar rumah, Sandra tidak pernah sedikit pun melupakan tugasnya sebagai anak untuk belajar demi meraih cita-cita dan masa depan. Hal ini dapat dibuktikannya dengan prestasi yang selalu dicetak Sandra ketika bersekolah. Bahkan terhitung dari mulai TK hingga SMU, Sandra mengaku bahwa prestasinya tidak pernah bergeser dari posisi dua besar di dalam kelas.

Merantau ke Jakarta. Setamatnya dari SMU sekitar tahun 2001, sandra memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya ke Jakarta. Kala itu, kedua orang tuanya memang agak keberatan dengan keputusan yang diambil Sandra untuk hijrah ke jakarta, karena mengingat sepanjang hidupnya ia tidak pernah jauh dari kedua orang tuanya. Kekhawatiran pun semakin bertambah ketika mereka mengetahui bahwa Jakarta dikenal sebagai kota yang sangat keras dan penuh dengan kompetisi. Apalagi untuk ukuran seorang anak perempuan seperti Sandra yang polos dan lugu, dan sama sekali belum pernah mengenal ibukota Jakarta. Semuanya itu bisa menjadi hal yang sangat berat untuk bisa dilaluinya.

Namun kekhawatiran kedua orang tua Sandra tidak terlalu dihiraukannya, malah dengan penuh rasa percaya diri, Sandra meyakinkan kedua orang tuanya bahwa dirinya akan baik-baik saja hidup di Jakarta.”Pokoknya Papa dan Mama tenang saja, aku bisa menjaga diriku baik-baik,” kata Sandra meyakinkan kedua orang tuanya kala itu. Boleh dibilang hijrahnya Sandra ke Jakarta merupakan satu titik permulaan dari peraduan nasib yang hendak dihadapi Sandra di Jakarta. Dengan satu tujuan kalau dirinya tidak mau mengalami nasib yang sama dengan kebanyakan temannya di Bangka, yakni sehabis kuliah lalu menikah dan mempunyai keturunan. Penilaian seperti itulah yang ingin diubah dalam pribadi Sandra. “Bagiku hidup seperti rasanya standar sekali, tetapi aku punya keinginan selagi masih muda aku mau terus berkarya dan biarlah hidupku dipenuhi dengan berbagai pengalaman hidup, karena kaya akan pengalaman hidup itu, rasanya tidak bisa digantikan dengan apapun,” papar pemeran Indah dalam sinetron Cinta Indah ini.

Benar saja, hanya dengan bermodalkan sikapnya yang polos, akhirnya Sandra meneguhkan hati dan menapakkan kakinya di Jakarta. Ketika kali pertama singgah di Jakarta, Sandra pun tinggal di rumah pamannya di kawasan Jelambar, Jakarta Barat. Meski tinggal di rumah pamannya tetapi tetap saja membuat Sandra tidak bisa seenaknya, ada batasan-batasan yang harus dilakukan dan dikerjakannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawab. Sandra pun tetap sadar dan tahu diri. Ajaran kedisiplinan yang diterapkan kedua orang tuanya, ternyata sangat bermanfaat ketika Sandra berada di Jakarta dimana Sandra tidak menjadi pribadi yang cengeng.

Korban Penjambretan. Datang ke Jakarta, Sandra berkuliah di London School of Public Relation (LSPR), mengambil jurusan Public Relation. Benar saja ketika menghadapi atmosfir kota Jakarta, sesaat Sandra mengalami suatu phobia kepada orang yang baru saja dijumpainya. Hal ini tentu saja berefek buruk atas diri Sandra. Ketika rasa takut itu terus menghantuinya, membuat Sandra menjadi santapan para pelaku tindak kejahatan. Bagaimana tidak, dengan paras cantik dan kulit bersih yang dimilikinya, tentunya membuat Sandra menjadi sasaran empuk penjambretan.

Dulu itu seingatku, aku adalah orang yang paling sering menjadi korban penjambretan,” ujar Sandra. “Saking takutnya, aku sering menjadi bahan tertawaan ke kampus karena setiap datang ke kampus dandananku selalu lecek dan berkeringat seperti orang yang tidak mandi,” lanjutnya. Karena sering menjadi korban penjambretan, membuat Sandra tak tahan untuk terus bisa tinggal di Jakarta. Maka sebagai solusinya Sandra pun mencurahkan keluhannya pada ayahnya di Bangka, dengan tujuan ia bisa mendapatkan solusi yang lebih baik lagi. Namun apa daya ternyata keluhan Sandra tersebut malah ditanggapi dengan teguran keras dari papanya. “Papa bilang juga apa, kamu tidak akan kuat tinggal di Jakarta, sudah kalau begitu keadaannya, lebih baik kamu balik ke Bangka lagi,” ujar Sandra sembari menirukan ucapan ayahnya kala itu.

Merasa mendapatkan teguran yang dianggapnya keras, membuat Sandra menghapuskan air matanya dan menguatkan hatinya untuk tetap pada tujuan semula, menjadi yang terbaik tinggal di Jakarta, demi cita-cita dan masa depan. Malah kejadian itu membuat Sandra semakin yakin bahwa suatu saat ia akan membuktikan pada kedua orang tuanya, ia mampu berkompetisi di Jakarta. Setelah itu, kuliah pun dijalaninya dengan penuh keseriusan, karena Sandra selalu kembali pada niatan awal, ke Jakarta hanyalah untuk menuntut ilmu, tidak lebih daripada itu. Niat tersebut tentunya membuat Sandra mendapatkan nilai semester yang sangat baik. Bahkan hingga kelulusannya pun, Sandra menjadi salah satu siswa yang lulus dengan mendapatkan IPK 3.89, dengan kategori cumlaude.


Menjadi Duta Pariwisata. Namun di tengah kesibukannya menjalani kuliah, Sandra acapkali kehabisan uang. “Maklumlah namanya juga jauh dari orang tua, jadinya suka kebablasan,” tandasnya. Karena merasa tak enak hati lantaran sering menelepon untuk meminta uang. Maka Sandra pun mencoba peruntungannya dengan mengikuti pemilihan duta pariwisata Jakarta Barat. Hingga akhirnya dengan modal kecantikan yang dimilikinya, ditambah lagi dengan kecerdasaannya, maka Sandra pun terpilih sebagai duta pariwisata Jakarta Barat. Kala itu, ia bertugas bersama suku dinas Jakarta Barat, mempromosikan pariwisata yang ada di Jakarta Barat. “Lumayanlah honornya bisa digunakan untuk bertahan hidup,” ulasnya seraya tersenyum.

Dinobatkannya Sandra sebagai duta pariwisata Jakarta Barat, berbuntut banyaknya aktivitas sebagai duta yang wajib dijalaninya hampir setiap hari. Sadar akan jadwalnya berubah oleh karena kesibukan, maka akhirnya Sandra memutuskan lebih memilih kuliah sebagai prioritas utama. “Kalau dilihat dari segi materi memang sangat lumayan tapi dari awal aku berpikir sebelum kuliah aku rampung, aku nggak mau terlena dengan asyik mencari uang. Aku juga tidak mau mengecewakan papa dan mamaku,” ucap Sandra.

Lepas dari jabatannya sebagai duta pariwisata Jakarta Barat, Sandra memang kembali menjalankan kuliahnya dengan normal. Tetapi karena memang rasa keingintahuannya yang teramat mendalam apalagi ditambah dengan kemolekan wajah yang dimilikinya, jadilah Sandra kembali mencoba peruntungan dengan mengikuti satu kontes kecantikan yang diselenggarakan oleh sebuah majalah perempuan terkemuka di Jakarta. Padahal status Sandra saat itu sudah bekerja sebagai PR promotion di sebuah advertising agency bernama d’fortune. Aura kecantikannya ternyata mengundang perhatian Nia Dinata, salah satu sutradara yang cukup diperhitungkan, yang kala itu bertindak selaku dewan juri. Maka lewat kemenangannya, Sandra bertemu dengan Nia Dinata. Ternyata Nia Dinata sendiri merupakan orang yang diidolakan Sandra. Diam-diam ia menyimpan keinginan untuk bisa bermain dalam film garapan Nia Dinata. Sadar akan kapasitasnya, Sandra pun mengubur angan-angannya tersebut.

Sandra sangat bersyukur karena sejak kecil selalu diajarkan soal kasih sayang Tuhan. “Bagiku Tuhan Yesus itu baik, Dia sudah seperti orang tua aku sendiri yang selalu menyayangi, melindungi, dan memelihara aku,” tutur Sandra. “Jadi, itu sebabnya aku juga harus sayang sama Tuhan Yesus. Burung di udara saja Tuhan pelihara dan kasih makan, apalagi kita ini anak-anaknya yang diciptakan serupa degan gambaran Allah. Sebab secara tubuh rohani kita ini anak-anak-Nya Tuhan Yesus,” lanjut Sandra yang selalu mengingat ajaran ibunya. Ketaatannya kepada Tuhan ditunjukkan dengan memantapkan iman, bahwa semua yang terbaik hanya ada pada-Nya. Itu sebabnya Sandra selalu belajar untuk mengucap syukur atas hidup yang diterimanya.

Mama selalu ingatkan aku, apapun yang aku butuhkan mintalah itu dalam doa dengan hati yang hancur dan penuh kesungguhan. Maka jikalau waktunya tiba semuanya itu pasti akan diberikan. Jangan pernah sekalipun berharap pada manusia, karena manusia bisa saja mengecewakan tetapi Tuhan Allah kita tidak akan pernah mengecewakan setiap umat-Nya, yang berharap penuh dengan-Nya,” urai Sandra yang begitu mengagumi ajaran ibunya tersebut. Selain itu ibunya juga kerapkali mengajarkan kepada Sandra, agar jangan pernah berubah sedikitpun. Kalau sedang berada di atas, tetap rendah hati dan jangan pernah sombong. Karena kesombongan merupakan awal dari kehancuran. Tak heran kesuksesannya saat ini, membuat Sandra tak jemu-jemu untuk memberikan yang terbaik buat keluarganya. Kelimpahan materi yang didapatkannya tidak membuat Sandra menjadi lupa diri akan kewajiban perihal hukum perpuluhan, seperti yang tertulis dalam kitab Maleakhi 3:10. “Soal persepuluhan itu wajib hukumnya. Sisanya kan masih ada 90 persen. Untuk kita kelola dengan baik,” tegas Sandra sembari menutup pembicaraan. Gilbert


Selalu Memulai Setiap Kegiatannya dengan Membaca Doa Novena

Satu hal yang tidak pernah disangka dalam diri Sandra, dan mungkin inilah buah dari penantian panjang atas jawaban pergumulannya dalam doa. Perihal keinginannya untuk bisa menjadi pemain film, dan doa-doa novena pun terus dipanjatkannya sepanjang hari. “Aku hanya takjub melihat cara Tuhan yang ajaib. Dari situ aku belajar, kalau hal itu baik untuk aku tentunya pasti Tuhan akan kasih,” kenangnya akan kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Ketakjubannya akan Tuhan masih terus berlanjut. Ketika mengikuti kasting untuk film berjudul Quickie Express, Sandra melihat para pesaingnya bukan dari pemain sembarangan, tetapi para aktor dan aktris pemenang piala Citra dan sederet penghargaan lainnya. Rasa takut langsung dirasakannya. Namun ia tak lantas menyerah untuk berusaha menampilkan yang terbaik. Kedua hal itulah yang terpola dalam pikiran Sandra kala itu. Karena baginya tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada di depan mata. Di ruang tunggu kasting, Sandra terus memuja dan memuliakan nama Tuhan dengan doa-doa.

Sepanjang penantiannya untuk di-casting, sebagai umat yang taat dan percaya Tuhan, Sandra hanya bisa berserah diri dalam doa. Keyakinannya terbukti, ketika Sandra kembali berpikir kalau segala yang terbaik menurut Tuhan pastinya akan diberikan Tuhan. “Dalam penantianku yang penuh dengan detak jantung, atas permintaanku selama ini, akhirnya dijawab juga oleh Tuhan, dan membuat aku sangat bersyukur dan seakan tidak percaya, kalau aku bisa menjadi seperti ini,” tuturnya dengan penuh haru. Baginya apa yang dipercayakan Tuhan lewat sinetron, iklan, dan film merupakan buah dari ketaatan dan kesetiaannya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat. Gilbert

From Nothing to Something

Olga Syahputra, Komedian dan Presenter


Dari Hanya Sekadar “Pesuruh” Artis, Kini Menjadi Selebritis Paling Laris


Lewat penampilannya yang cuek dan kocak, Olga Syahputra berhasil meraih simpati para penonton. Namanya pun semakin dikenal ketika ikut bermain dalam Extravaganza ABG, sebuah acara sitkom yang ditayangkan TransTV. Siapa sangka kalau kesuksesan yang diraihnya harus diawali dari bawah. Kegemarannya nongkrong di lokasi syuting sekadar untuk melihat bintang pujaan, telah menghantarkannya menjadi seorang komedian terkenal. Bagaimana kemudian Olga bisa berkenalan dan masuk dalam dunia hiburan?


Penampilannya di televisi yang selalu terlihat konyol, ternyata tidak jauh berbeda dengan pembawaan aslinya. Setidaknya, itulah yang bisa dirasakan Realita ketika menjumpai Olga Syahputra di studio RCTI usai membawakan sebuah acara beberapa waktu lalu. Sikap dan pembawaannya yang supel, tentu saja membuat pria kelahiran Jakarta, 8 Februari 1983 ini mudah bergaul dengan siapa saja dan dari kalangan mana saja. Dengan gaya banyolannya yang ceplas ceplos, Olga yang saat itu mengenakan t-shirt putih dipadu dengan setelan jeans, mulai menceritakan perjalanan hidupnya dalam meretas karir. Walau hanya bermodal wajah yang pas-pasan, Olga nekad untuk menembus pasar industri hiburan.

Dalam keluarganya, Olga adalah anak sulung dari tujuh bersaudara. Ia lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang sederhana dari pasangan Nurahman dan Nursidah. Diakuinya, saat kecil merupakan masa yang paling membahagiakan, meski hidup di dalam keluarga yang sederhana, tak sedikitpun Olga merasa kehilangan masa kanak-kanaknya. Hari-harinya penuh dengan dunia permainan.

Olga kecil banyak menghabiskan waktu dengan bermain di sekitar tempat tinggalnya di kawasan Cipinang, daerah pemukiman penduduk yang terkenal dengan kawasan yang rawan banjir. Kendati tempat tinggalnya seringkali terendam banjir apabila hujan deras, justru membuatnya bahagia karena merasa mendapatkan mainan baru. Maklum saja kala itu Olga masih kanak-kanak.

Diakuinya, kala itu kenakalan-kenakalan kecil sering diperbuatnya. Contohnya adalah mencuri buah jambu dan mangga milik tetangga. Setelah berhasil mencuri buah mangga dan jambu tersebut, maka Olga pun akan menjualnya untuk mendapatkan uang jajan tambahan.

Ada satu kejadian saat kecil yang tidak pernah akan dilupakan oleh Olga. Dimana ia sempat akan menghajar teman sekolahnya dengan sebilah golok. Pasalnya, teman sekolahnya itu seringkali memperlakukan Olga dengan cara yang tidak menyenangkan. Lama kelamaan Olga pun tidak tahan dan menuangkan kekesalannya dengan membawa golok dari rumah sambil menangis. Beruntunglah saat itu, sang penjaga sekolah berhasil meredam emosi Olga sehingga ia tidak jadi menumpahkan kekesalannya pada temannya. “Setelah kejadian tersebut, gue tidak pernah lagi diganggu sama teman gue itu,” ucap Olga mengenang masa-masa saat bersekolah di SDN 15 Cipinang, Jakarta Timur tahun 1990-1996.

Didikan Agama. Dalam didikan agama, sang ibulah yang sangat disiplin terhadap Olga dalam menjalankan shalat lima waktu. Setiap adzan Maghrib, sang ibu segera menyuruh Olga shalat dan kemudian mengaji. Diakuinya, shalat lima waktu menjadi rutinitas serta kebiasaan yang wajib dilakukannya di rumah.

Walau sulit untuk bangun pagi, Nursidah, sang ibu dengan sabar selalu membangunkannya di pagi hari untuk melakukan shalat subuh. “Sejak kecil gue memang lebih dekat sama nyokap ketimbang sama bokap. Makanya nyokap selalu mengingatkan gue agar jangan pernah meninggalkan shalat,” ujar Olga. Yang jelas, Olga merasa bahwa pondasi agama yang diberikan orang tuanya sedari kecil sudah cukup baik. Dan ajaran tersebut terus dibawanya hingga sekarang.

Lepas dari pendidikan Sekolah Dasar, kenakalan Olga sedikit demi sedikit mulai berkurang. Pasalnya, ketika melanjutkan ke SLTP tahun 1997, selain disibukkan dengan pelajaran di sekolah, Olga juga mulai banyak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya seperti mengikuti latihan beladiri Taekwondo dan bermain sepakbola yang memang sejak SD sudah digemarinya. Ternyata, selain disibukkan dengan berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, Olga juga mempunyai kebiasaan baru yaitu setiap pulang sekolah selalu menyempatkan diri untuk mampir sekadar menonton syuting di sebuah rumah milik bintang iklan Asmiar Yahya, di kompleks Kehakiman yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.

Mengalami Kesulitan Ekonomi. Di tengah-tengah kebiasaan barunya itu, Olga harus menerima kenyataan pahit dimana keluarganya mulai mengalami kesulitan ekonomi. Di tahun 1998, sang ayah yang tadinya bekerja pada seorang pejabat kehakiman, terpaksa harus kehilangan pekerjaan karena sang majikan meninggal dunia. Kondisi ini sontak membuat perekonomian keluarga Olga turun drastis. Apalagi sang ibu hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga biasa. Belum lagi keenam adiknya yang juga butuh biaya. Sampai-sampai, untuk bisa bertahan dan melanjutkan hidup, orang tua Olga mulai menjual perabotan rumahnya satu per satu.

Sebagai anak sulung, beban yang harus ditanggung Olga tentu sangatlah berat. Musibah yang menimpa sang ayah, telah mengubah sikap dan perilaku Olga menjadi semakin dewasa dalam berpikir. Olga yang tadinya banyak menghabiskan waktunya untuk bermain bersama teman-temannya, kemudian lebih memilih untuk langsung pulang ke rumah ketika usai jam pelajaran sekolah. Ia pun lebih memilih untuk membantu usaha sang ibu yang baru dirintis yaitu rumah makan Padang.

Hanya mengandalkan usaha sang ibu yang masih kecil, tentu tidaklah cukup. Olga pun terus berpikir bagaimana caranya agar ia bisa mengubah hidup dan membuat ekonomi keluarganya bangkit kembali. Dalam hati Olga selalu berdoa agar Allah memberikan jalan kepadanya agar bisa membantu meringankan beban kehidupan kedua orang tuanya.

Kendati disibukkan dengan membantu usaha sang ibu, kebiasaan Olga yang suka mampir ke tempat syuting ternyata terus berlanjut. Sebisa mungkin setiap pulang sekolah, Olga berusaha untuk menyempatkan diri mampir ke lokasi syuting, sekadar memuaskan keinginannya melihat aktris dan aktor pujaannya beradu akting di depan kamera.

Berkenalan dengan Dunia Hiburan. Siapa sangka, kebiasaannya nongkrong di lokasi syuting tersebut, membuat Olga menjadi dikenal. Mulai dari kru film sampai dengan para aktris dan aktor yang membintangi film tersebut, mulai mengenal Olga. Tak ayal, Olga pun kerap dijadikan pesuruh oleh beberapa artis yang tengah bermain, seperti membelikan jajanan, minuman, dan rokok. “Ya lumayanlah, selain gue bisa dekat dengan artis tersebut, gue juga bisa dapat tambahan uang saku. Karena dari disuruh-suruh itu, gue mendapatkan tips,” kata Olga dengan logat Betawinya yang kental. Gaya dan banyolan Olga yang sok akrab justru membuat dirinya banyak dikenali.

Seiring dengan berjalannya waktu, kebiasaan Olga nongkrong di lokasi syuting mulai membuahkan hasil. Pada suatu ketika, ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Iladot, salah satu anggota kru di tempat syuting yang sering ia tongkrongi. Wanita yang juga terkesan dengan gaya banyolan Olga itu pun membawanya untuk dipertemukan dengan Aditya Gumay, pemimpin sanggar Ananda Theater Kawula Muda Lenong Bocah. Oleh perempuan tersebut, Olga dimasukkan ke sanggar yang berlokasi di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Sejak tahun 2000, Olga mulai bergabung dengan sanggar tersebut. Selama beberapa tahun bergabung, seminggu sekali Olga berlatih di Senayan. Diakuinya, lewat sanggar tersebut ia banyak sekali mendapatkan pelajaran mendasar tentang berlatih akting yang baik dan tampil berani serta percaya diri. Berangkat dari sanggar tersebut, bakat seninya sedikit demi sedikit mulai terasah. Lama berlatih di sanggar, ternyata belum juga membuat Olga dipercayakan sebuah peran oleh Aditya Gumay. Tentu saja hal ini membuatnya sedikit agak kecewa.

Meski demikian, Olga tidak menyerah. Dan benar saja, ketekunannya dalam berlatih mulai membuahkan hasil. Olga pun mulai dipercayakan sebuah peran kendati peran yang didapatkannya tidak begitu besar. Namun hal tersebut paling tidak bisa mengobati luka dihatinya dan rasa putus asa yang sempat mendera. Hanya ada satu tujuan dalam pikirannya saat itu yaitu menyelamatkan kehidupan keluarganya.

Perjalanan yang harus dilalui Olga menuju kesuksesannya saat ini memang terbilang tidak mudah. Olga harus rela datang jauh-jauh dari rumahnya untuk syuting, dan pulang sampai larut malam, hanya untuk menunggu dapat giliran berperan yang porsinya hanya sedikit. “Kalau gue ingat dulu zamannya merintis, sakitnya minta ampun. Bayangin aja, gue ditelepon disuruh datang ke lokasi syuting. Udah jauh-jauh, gue cuma dapat peran yang hanya melintas di depan kamera. Sudah begitu, nunggunya sampai malam segala lagi. Habis itu, sudah, nggak ada lagi,” papar Olga mengingat jalannya dalam meretas karir.

Meski hanya mendapat bayaran beberapa puluh ribu saja, tidak membuat semangat Olga kendur. Uang hasil honornya itu sedikit demi sedikit disimpan dalam lemari pakaian agar bisa ditabung dan sisanya digunakan untuk uang jajan dan keperluannya sehari-hari.

Kecewa dengan Sang Ayah. Suatu ketika Olga mendapati honor yang selama ini ia simpan di dalam lemari, raib entah kemana. Sang ibu pun tidak tahu siapa yang mengambil uang tersebut. Namun tak lama kemudian sang ayah datang kepadanya dan mengakui kalau dialah yang telah mengambil uang Olga, dan digunakan untuk bermain judi bersama tetangganya. Sang ayah berharap jika menang, uangnya bisa digunakan untuk tambah-tambah biaya hidup keluarga.

Pengakuan sang ayah membuat hati Olga kecewa. Namun Olga tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai anak yang hanya ingin berbakti kepada orang tua, Olga pun akhirnya memaafkan sang ayah. “Gue sadar bokap bersikap seperti itu karena ia sedang menganggur,” ucap Olga. Setelah kejadian itu, sang ayahpun sadar dan terpacu untuk mencari pekerjaan. Berkat ketekunannya, sang ayahpun kini sudah bisa bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik otomotif. Kondisi ekonomi keluarga Olga pun sedikit demi sedikit mulai membaik.

Kendati sang ayah telah mendapatkan pekerjaan, tidak lantas membuat semangat Olga untuk meretas karir, redup begitu saja. Merasa karirnya tidak terlalu berkembang dengan baik di lenong bocah, tahun 2003 Olga pun memutuskan untuk keluar. Namun Olga tetap merasa bahwa kesuksesannya saat ini juga berkat didikan dari Aditya Gumay.

Menjadi Asisten Artis. Dengan sikap penuh percaya diri, Olga kembali menawarkan diri pada beberapa artis yang dikenalnya seperti penyanyi dangdut Rita Sugiarto dan aktor tampan Bertrand Antoline, untuk bisa diajak bergabung bermain sinetron atau pekerjaan apapun yang bisa mendatangkan penghasilan. Kala itu Olga berpikir, kalau tidak bisa bermain film atau sinetron atau acara televisi lainnya, paling tidak ia bisa dijadikan asisten pribadi para artis tersebut.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Setelah menjadi asisten pribadi Rita Sugiarto dan Bertrand Antoline yang kerjanya terbilang sangat ringan yaitu hanya membawakan properti sang artis seperti tas, baju, sepatu, dan kebutuhan syuting lainnya. Olga pun menjadi sering diajak bepergian ke luar kota. Wawasan dan jaringan Olga dalam industri dunia hiburan pun kian hari kian bertambah.

Hingga akhirnya pada satu waktu, untuk pertama kalinya Olga mendapatkan tawaran untuk bermain dalam satu sinetron Senandung Masa Puber tahun 2004.

Ketekunan Olga dan sikapnya yang gampang akrab dengan orang lain lambat laun berbuah manis. Dengan bermodalkan kemampuan akting yang pernah diperolehnya ketika ikut bergabung dalam sanggar Ananda Theater Kawula Muda Lenong Bocah, ditambah lagi dengan pembawaan dan gaya banyolan yang tidak mengenal malu membuat Olga semakin banyak disenangi. Sejak bermain di dalam sinetron tersebut, tawaran bermain peran pun mulai mengalir. Sebut saja, Kawin Gantung dan Si Yoyo. Belum lagi tawaran untuk menjadi presenter seperti acara Ngidam di SCTV yang berpasangan dengan Jeremy Thomas. Buruan Cium Gue dan disusul dengan Extravanganza ABG di tahun 2006 yang semakin melejitkan namanya.

Sejauh ini Olga menilai kemampuannya berbicara di depan orang banyak didapatkannya secara otodidak. Sedangkan ciri khasnya yang kocak sudah menjadi pembawaannya sejak kecil. Sifatnya yang konyol dan cuek itu ternyata terbawa sampai hampir ke seluruh kehidupannya. Yang jelas, setelah mapan, tak sedikitpun ada yang berubah dari pribadi Olga. Kini keinginannya untuk membantu perekonomian keluarga sudahlah dapat terealisasikan, sehingga kapanpun keluarganya membutuhkan uang, maka sesegera mungkin Olga akan memberikannya. Meski untuk itu, ia harus rela tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi karena keburu disibukkan oleh aktivitasnya di dunia hiburan. Gilbert


Menyisihkan Penghasilan untuk Anak Yatim

Sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara, tentunya Olga mempunyai tanggung jawab yang besar untuk kedua orang tua dan keenam adiknya yang masih bersekolah. Bagi Olga, tiada yang paling membahagiakan dalam hidupnya selain bisa membantu keluarga dan membuat kedua orang tuanya tersenyum bahagia. “Gue percaya kalau kita sering bantu keluarga, maka rezeki kita pun pasti lancar. Lagian gue bisa begini juga karena gue percaya semua berkat doa dari orang tua juga," tegas Olga.

Olga pun berjanji sebisa mungkin untuk menjadi orang yang berguna, bukan hanya dalam lingkungan keluarga, tetapi juga di lingkungan teman-temannya dan komunitasnya. Dimana dirinya berada, maka disitu Olga berharap agar selalu bisa berbagi rezeki dan kebahagiaan pada orang sekitarnya. Sebagai bentuk nyata wujud syukurnya pada sang Pencipta, tak lupa Olga selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk diamalkan pada anak-anak yatim piatu dan disumbangkan ke masjid. Selain itu, dalam setiap kesempatan, Olga pun selalu berusaha untuk mengucap syukur sekaligus berdzikir dalam hati.

Meski dengan alasan kesibukan, Olga pun berjanji sebisa mungkin akan menyempurnakan ibadahnya. Bahkan Olga berencana untuk memberangkatkan kedua orang tuanya ibadah haji. Gilbert


Ingin Membelikan Rumah Keluarga di Kawasan Bebas Banjir

Seperti kebanyakan manusia lainnya yang tak pernah merasa puas atas apa yang telah didapatkan, demikian pula halnya dengan Olga. Setelah sukses dan berhasil mengumpulkan pundi-pundi uang, masih ada satu cita-cita dan obsesinya yaitu ingin membelikan rumah yang lebih layak untuk digunakan oleh keluarga besarnya. ”Ini janji gue dalam hati sejak awal. Kelak kalau gue diberikan rezeki, gue akan membelikan rumah yang lebih layak dan bebas dari banjir buat keluarga gue,” tekad Olga.

Olga yang saat ini masih tinggal bersama keluarganya di kawasan Cipinang, telah memiliki sebuah Mobil Suzuki Aerio Hitam untuk menunjang aktivitasnya yang sangat padat. Sang ibu pun masih berkutat dengan usaha rumah makan padangnya.

Olga sendiri berharap agar keberadaannya dalam industri hiburan, bukan hanya untuk mencari dan mengumpulkan nilai materi semata, tetapi lebih kepada bagaimana agar dirinya bisa berguna dan bisa menghibur banyak orang. “Buat gue pribadi, bisa menghibur dan menyenangkan orang itu merupakan sebagian daripada amal,” ungkapnya dengan bijak. Gilbert

Tabah Penemuan Siregar, Aktor Senior


Menjadi Pendakwah Setelah 10 Tahun Terjerat Narkoba


Meski telah tobat dan menjadi pendakwah, bukan berarti Tabah bebas dari godaan. Sering ketika harus pergi berdakwah, datang tawaran syuting yang cukup menggiurkan. Namun Tabah yakin bahwa Allah sanggup memberikan lebih dari yang diberikan dunia. Terbukti, tawaran syuting itu kembali datang setelah ia menunaikan tugasnya. Bagaimana Tabah bisa lepas dari jeratan narkoba?


Terik matahari persis berada di atas ubun-ubun kepala ketika Realita menyambangi sebuah kediaman besar di Jalan Moch Kafi II Nomor 40, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, tempat berlangsungnya syuting sinetron Cinta Bunga. Dalam sinetron tersebut, seorang aktor kawakan senior, Tabah Penemuan Siregar, terlibat sebagai salah satu pemainnya. “Ngomongin narkoba memang nggak akan pernah ada habisnya, apalagi jika dikaitkan dengan pengalaman hidup saya,” katanya membuka pembicaraan sambil sesekali tangannya menyeka keringat dengan handuk yang digulungkan di lehernya.

Setiap orang pastilah mempuyai masa lalu. Baik dan buruknya masa lalu seseorang merupakan cerminan proses perjalanan hidup yang telah dilewati. Namun sayangnya, tidak semua proses perjalanan hidup itu bisa dilalui dengan mulus tanpa hambatan. Pasti ada saja tawaran kenikmatan dunia yang seringkali membuat seseorang menjadi terlena, bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi lupa daratan. Termasuk turut merusak hubungan vertikal dengan sang Pencipta.

Itulah sedikit gambaran yang pernah menghiasi perjalanan hidup Tabah Penemuan, dimana dirinya pernah terjebak dalam nikmatnya belaian kasih sayang narkoba hampir sepuluh tahun lamanya. Terhitung sejak tahun 1988-1998. Semuanya bermula dari kenakalan-kenakalan kecil dan keingintahuan yang secara tidak langsung terjadi tanpa sengaja. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, kenakalan Tabah memang mulai terlihat. Kala itu, tanpa sepengetahuan orang tuanya, Tabah mulai berani menghisap rokok. Saat itu ia merasa menemukan kenikmatan tersendiri. Kebiasaan menghisap rokok itu pun semakin sering dilakukannya.

Seiring dengan berjalannya waktu, usai menamatkan pendidikan sekolah dasar, tingkat kenakalan Tabah semakin meninggi mengikuti bertambah luasnya pergaulan yang dilakoninya. Memasuki masa SMP, Tabah bukan hanya senang merokok, tetapi ia juga mulai tertarik mencoba minuman keras seperti AO dan menghisap ganja. Tidak hanya itu, Tabah juga menjadi pribadi yang senang berkelahi, baik secara tim ataupun satu lawan satu. Malah dalam prinsipnya saat itu, tidak ada kata kalah dalam berkelahi. Itulah yang membuat Tabah dijuluki “tabor” yang artinya tabah bangor. Karena selain jagoan dalam mabok, Tabah juga jagoan dalam hal berkelahi. “Dulu itu waktu sekolah, kalau ada tawuran, bisa dipastikan gue pasti yang ada di barisan paling depan,” ujarnya. Hal tersebut membuatnya seringkali berpindah-pindah sekolah antara Jakarta dan Medan, karena orang tuanya tidak mau direpotkan dengan kelakuannya.

Kebiasaan Tabah yang seringkali mengkonsumsi minuman keras, membuat minuman keras menjadi makanan pokoknya seperti nasi yang wajib dikonsumsi. Parahnya lagi, Tabah lebih mengutamakan minum minuman keras ketimbang makan nasi. “Dulu itu buat gue kalau belum kena miras, rasanya seperti ingin muntah. Makanya setiap bangun dari tidur yang gue cari bukannya nasi, tapi miras atau ganja,” kenangnya.

Jaringan pergaulan Tabah yang kian meluas membuat level pengetahuannya akan narkoba juga semakin meningkat. Konsumsi Tabah tak lagi hanya sebatas minuman keras dan ganja, tetapi sudah mulai merasakan nikmatnya pil seperti, butterfly, pinklady, blackheart, dan budastik. Sebelum akhirnya sampai kepada level pil sekelas inek. Dari hasil pergaulannya, Tabah juga mengaku kalau ia sempat merasakan nikmatnya serbuk kokain yang memang sesuai dengan harganya yang mahal. Namun kenikmatan tersebut tidak berlangsung lama akibat teman yang juga bertindak sebagai pemasok berpindah tempat. “Untunglah kejadiannya teman gue hilang dengan sendirinya, karena gue takut tergantung dengan kokain. Selain harganya yang mahal, itu barang bisa mematikan,” tuturnya.

Di tengah perjalanan, Tabah pun sempat merasakan yang namanya putaw ataupun shabu-shabu. Namun hal itu tidak berlangsung lama sebab Tabah tidak mau menanggung efek mengkonsumsi putaw dan shabu-shabu. Baginya, efek putaw dan shabu dapat mempengaruhi perilaku menjadi tak bermoral, seperti timbulnya keinginan mencuri barang atau uang. “Gue memang pemabok tetapi untuk urusan curi mencuri itu haram buat gue. Karena dulu gue berprinsip kalau gue pengen mabok, ya harus cari uang sendiri,” urainya.

Target Operasi. Dari hanya berstatus sebagai pemakai, Tabah juga berstatus sebagai pengedar atau bandar. Dari mulai berjualan ganja hingga inek, pernah dilakoninya. Hal ini juga yang membuat Tabah masuk dalam lingkaran bandar ataupun pengedar yang menjadi target operasi polisi. Daerah Jakarta Pusat merupakan daerah jajahan Tabah untuk melakukan transaksi penjualan.

Meski berstatus pemakai sekaligus bandar, tak sedikitpun membuat Tabah pernah bersinggungan dengan jeruji besi. Ini dikarenakan Tabah selalu saja lolos dari razia. Diakuinya, semuanya itu berkat doa dari alm. H. Mansur Samin, sang ayah yang juga bertindak sebagai ulama di tempat tinggalnya. “Gue yakin, gue masih selalu dikasih keselamatan sama Allah, karena gue selalu dibawa dalam doa dan tahajudnya bokap gue setiap beliau shalat. Gue ngomong begini karena gue merasakannya,” jelasnya.

Dari hasil berjualan barang-barang haram, membuat kantongnya semakin bertambah tebal. Bisa dibayangkan dalam satu hari, kala itu Tabah bisa mengantongi uang sebanyak Rp 6,5 juta. Tetapi dalam satu hari itu juga uang itu bisa habis. “Gue sendiri bingung kemana uang gue habis. 6,5 juta memang gue pegang tapi sampai dalam kamar itu sisa tinggal Rp 7.500. Kalau dipikir ya begitulah, namanya uang haram nggak bisa jadi berkah,” katanya.

Itulah pola hidup yang dilakoni Tabah selama sepuluh tahun. Pagi jadi malam dan malam jadi pagi. Otomatis kehidupannya menjadi terbalik. Hingga pada satu ketika membawanya pada satu kondisi dimana ia tidak lagi merasakan satu kenikmatan meski posisinya sedang dalam keadaan memakai. Ya, dititik inilah Tabah mulai merasakan kalau ini memang akhir dari segalanya. Setelah tiga hari lamanya tidak tidur, akhirnya Tabah pulang ke rumah, masuk ke dalam kamarnya. Selama dua hari lamanya Tabah tak terbangun dari tidurnya.

Disinilah mukjizat dan hidayah itu terjadi dimana ketika itu Tabah merasakan kalau hari itu memang benar-benar gelap meski sebenarnya hari masih siang. Saat itu Tabah merasakan kesakitan yang sangat luar biasa akibat dosis narkoba yang dikonsumsinya tak lagi memberikan kenikmatan dalam tubuhnya. Tiba-tiba tanpa disadari, Tabah melihat satu cahaya terang yang luar biasa melintas di hadapannya bagaikan kilat. Dengan keadaan menahan sakit, saat itu Tabah berucap, “Ya Allah sekali saja kau berikan aku untuk hidup, maka akau akan ikut dalam jalan-Mu.”

Kembali ke Jalan-Nya. Mulai dari situ hidup Tabah terasa serba baru. Memang sulit dipercaya, karena seketika Tabah berubah dan tak lagi mau mengkonsumsi narkoba. Banyak temannya yang dibuat tercengang. Kendati dalam proses pertobatannya Tabah sempat jatuh kembali, namun atas saran dari Andi Sylvia Febriyanthi, sang istri, maka hal itu dapat diatasi dengan menunaikan ibadah Haji pada tahun 2005. Pulang dari menunaikan ibadah Haji, pertobatan Tabah baru bisa dibilang lebih terasa sempurna.

Ini dikarenakan tidak ada lagi hal-hal duniawi yang menggoda. Kehidupan keimanannya sudah jauh lebih tebal dibandingkan dengan nikmatnya tawaran dunia yang sifatnya sesaat. “Kalau dulu dunia memang gue kejar, tetapi sekarang buat gue dunia itu kecil karena ada yang jauh lebih besar yaitu kuasa Allah. Kalau dulu gue rajanya setan, tapi sekarang gue musuh setan yang paling pertama,” tandasnya.

Kini, hari-hari ayah dari Pora Hati Siregar ini dipenuhi dengan berbagai kegiatan yang bersifat religius. Bahkan Tabah pun sekarang banyak melakukan syiar keagamaan, misalnya saja melakukan kunjungan ke LP Paledang, Bogor, atau biasanya dalam setiap satu bulan sekali, Tabah pasti mempunyai jadwal kunjungan ke daerah-daerah yang dikenal rawan kemaksiatan. Bahkan belum lama ini Tabah baru saja menyelesaikan syiarnya selama 40 hari di Tasikmalaya, Jawa Barat. Tapi tetap saja godaan datang. Ketika hal itu ingin dilakukan dengan segenap hati, ada saja tawaran yang menggoda, misalnya saja tawaran untuk syuting. Kalau dilihat dari nominalnya pastinya bisa mencapai angka ratusan juta. Namun bagi Tabah, hal tersebut hanya godaan yang harus dihindari karena dirinya sudah berkomitmen untuk tetap berjalan di jalur-Nya. “Buat saya sekarang Allah sanggup memberikan lebih dari apa yang dunia berikan,” terang Tabah dengan penuh iman. Dan terbukti, tawaran syuting kembali datang selepas Tabah melakukan syiar 40 hari lamanya di Tasikmalaya. Gilbert


Ery Erlangga “ery blind”, Penyanyi


Kebutaan Telah Membawanya Menjadi Penyanyi Profesional


Mata adalah indera yang cukup vital. Namun apa daya jika seseorang yang tadinya terlahir dengan mata normal, lalu karena kelalaiannya sendiri terpaksa harus menerima kenyataan pahit, yaitu tidak lagi bisa menikmati hidup melalui pandangan kedua matanya. Inilah garis hidup yang dialami oleh Ery Erlangga yang harus mengalami kebutaan akibat over dosis narkoba sehingga membuat jaringan saraf matanya menjadi rusak. Lalu bagaimana perjuangan Ery menjalani hidup tanpa melihat indahnya dunia?


Ery Erlangga Adiwiganda lahir di Bandung dari keluarga sederhana, pasangan Hadiman Adiwiganda dan Siti Nurjanah pada 19 November 1979 silam. Ayahnya bekerja sebagai wiraswasta di bidang pengolahan kayu, sementara ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Semenjak lahir, Ery tidak memiliki kekurangan fisik. Bakat dan keinginannya untuk menjadi seorang penyanyi memang sudah terlihat semenjak Ery duduk di bangku SDN Babakan 4 Pangandaran. Untuk membuktikan bakat dan kemampuannya tersebut, Ery pun sering mengikuti beragam acara pentas seni yang diselenggarakan di sekolah ataupun di luar sekolah.

Kendati Ery sudah menunjukkan bakat dan talentanya di bidang tarik suara, tak sedikitpun Ery mendapat dukungan dari orang tua. Usai menamatkan pendidikan di SDN Babakan 4 Pangandaran, Ery pun melanjutkannya ke SMPN 1 Pangandaran. Kendati tidak mendapat dukungan dari kedua orang tuanya dalam bidang tarik suara, Ery tetap berjalan sesuai dengan minat dan bakatnya yaitu bermusik. Untuk menunjukkan keseriusannya, Ery pun mulai membentuk sebuah group band bergenre rock, bernama Roadjet. Hari-harinya banyak dihiasi dengan kegiatan bermain band dari satu kafe ke kafe lain. Tak jarang Ery juga mengamen di jalan ataupun di bis kota.

Akibat sibuk dengan kegiatan bermusiknya, secara tidak langsung tentunya mengganggu jam belajar Ery di sekolah. Bahkan sempat membuat Ery tidak naik kelas ketika duduk di bangku SMAN 1 Pangandaran. Kontan saja hal tersebut semakin membuat kedua orang tua membenci dirinya. Ketidaksukaan kedua orang tua Ery atas pilihannya di jalur musik mungkin cukup beralasan, karena kedua orang tuanya tak ingin melihat anaknya tidak mempunyai masa depan yang cerah.

Usai menamatkan pendidikan SMAnya, pada tahun 1994, Ery meneruskan kuliah di FMIPA Universitas Padjadjaran, Bandung jurusan Managemen Informatika. Sayang kuliahnya hanya bertahan tiga semester, lagi-lagi karena bertolak belakang dengan keinginannya untuk menjadi penyanyi.

Terjerumus Narkoba. Akibat dari kurangnya perhatian dan kasih sayang membuat masa remaja Ery jadi hilang kendali. Apalagi dengan perceraian yang menimpa kedua orang tuanya tahun 1998, karena sang ayah memiliki wanita lain. Dengan segala macam masalah dalam hidupnya, Ery pun tergoda untuk menggunakan narkoba yang dianggapnya sebagai sebuah solusi.

Puncaknya terjadi pada 20 Februari 2003 dimana ketika itu Ery memang sudah benar-benar tidak tahan harus mengadu pada siapa lagi. Impian jadi penyanyi seakan pupus, keluarga sudah tidak memperdulikannya sama sekali, kuliah berantakan, semua persoalan melebur jadi satu hal yang sulit untuk dibenahi lagi. Kontan membuat Ery pada hari itu mengkonsumsi narkoba dicampur dengan minum-minuman keras sampai melewati batas. Hal tersebut membuat tubuh Ery lemah tak berdaya hingga berujung pada overdosis.

Setelah sadar, ia merasa bahwa pandangan matanya sudah tak jelas. Awalnya Ery hanya merasa kalau kegelapan pandangan kedua matanya, disebabkan karena ia belum sepenuhnya siuman overdosis. Namun bak satu pukulan yang teramat keras, Ery menerima vonis dari dokter kalau kegelapan yang menimpa dirinya disebabkan atas rusaknya jaringan saraf mata yang berujung kebutaan. ”Saya sadar semua ini akibat dari ketidakbersyukuran saya pada Tuhan. Jadi apa pun risiko terburuk maka saya harus menerimanya dengan lapang dada,” ujar Ery pasrah.

Ery berusaha bangkit dari keterpurukan untuk menggapai impiannya menjadi penyanyi. Kebutaan sempat membuatnya sulit diterima di industri musik. Tapi Ery tak menyerah, ia tidak mau mengulangi kesalahan untuk kedua kali. Setiap hari Ery berusaha untuk me-manage hati dan pikirannya. Baginya, cacat mata bukan alasan. Tak hanya mengalami kebutaan, sejak kecil, kaki Ery sebelah kiri mengalami kelainan akibat polio.

Mengeluarkan Album. Tanpa mengenal lelah, Ery terus berusaha dan berdoa sambil mengasah kemampuannya dalam bidang tarik suara. Mei 2005 usaha kerasnya berbuah manis, Ery berhasil menelurkan album indie perdananya yang berjudul ”Tears for The Freedom”. Single pertama Ery yang berjudul ”Menangislah untuk Tersenyum” berhasil menduduki chart teratas di radio-radio khususnya di Jakarta dan Bandung. Ery merasa kebutaannya lah yang telah menghantarkannya menjadi seorang penyanyi profesional yang selama ini diimpikannya. Hal tersebut lagi-lagi membuat Ery semakin hari semakin mengagungkan sang Khalik. ”Inilah jalan hidup yang sudah digariskan. Saya harus lalui dengan lapang dada. Mungkin kalau saya tidak mengalami kebutaan, saya tidak mungkin menjadi penyanyi profesional seperti sekarang ini. Yang jelas kondisi seperti sekarang ini membuat saya bisa belajar untuk bisa mensyukuri arti hidup yang sesungguhnya,” jelas Ery.

Ery merasa kalau semua ini berkat anugerah dan kebesaran Tuhan atas dirinya hingga pada oktober 2006 Ery bisa merilis album perdananya. Single pada album perdananya yang berjudul ”Pagi Ini” berkumandang di radio-radio dan TV nasional. Namun karena satu dan lain hal, Ery merasa kalau album perdananya tersebut kurang memuaskan, hingga akhirnya dalam waktu dekat, Ery akan kembali melepas album keduanya ke pasar, dengan mengubah nama menjadi Ery Blind. Dalam album keduanya tersebut 10 lagu adalah hasil ciptaannya sendiri yang didapat dari proses perenungan dan pembelajaran atas perjalanan hidupnya. Dalam album yang bertajuk ”Bintang Pagi” yang didapatkan dari analogi bahwa pagi adalah waktu yang harus dimulai dengan aktifitas yang penuh harapan. Sementara bintang dianalogikan dengan sinar yang terus terang meski berada di malam hari. Gilbert


Mariani Milka, Ibu Rumah Tangga


Kakinya Sembuh Sempurna Meski Dokter Nyaris Mengamputasi Akibat Kecelakaan Maut


Tangan Tuhan sepertinya masih bersama Mariani Milka (52), seorang ibu rumah tangga yang bisa selamat meski sempat masuk dan terseret di kolong bus besar pada kecelakaan dua tahun lalu. Tepatnya di jalur Blok M, Jakarta Selatan pada 6 Juni 2006 lalu, Milka begitu ia kerap disapa lolos dari maut. Bagaimana kisah selengkapnya?


Lonceng berbunyi dengan kerasnya hingga beberapa kali, pertanda jam belajar sudah berakhir. Tak lama waktu berselang, siswa dan siswi sekolah dasar itu pun berlarian keluar dari dalam kelasnya menuju para orang tua yang sudah menjemput. Sementara dari balik dinding kantin sekolah, terlihat seorang perempuan paruh baya, yang dengan ramahnya tengah sibuk melayani anak-anak yang hendak membeli makanan atau pun minuman dari warungnya. Perempuan itulah Mariani Milka (52) yang selamat dari kecelakaan maut dua tahun lalu. “Sebentar ya mas saya ladeni dulu anak-anak ini,” katanya pada Realita.

Di tengah hingar bingar suara anak-anak, sambil menjaga warungnya, Milka pun mau bersaksi atas kuasa pertolongan Tuhan Yesus yang begitu luar biasa ketika dirinya mengalami kecelakaan maut di jalur Blok M pada 6 Juni 2006. Kecelakaan tersebut membuat kedua kakinya cacat dan tulang rusuknya sebelah kanan patah. Sekilas kalau dilihat memang seperti tidak ada yang kurang dari kedua kaki Milka. Namun perasaan tidak tega akan langsung muncul ketika kaos kaki yang sekarang rutin dipakai Milka untuk menutupi cacat kakinya tersebut dibuka.

Pendalaman Alkitab. Selasa 6-6-2006 menjadi hari yang sangat bersejarah dan tak akan pernah dilupakan sampai akhir hayat hidup Milka. Kala itu seperti biasanya, sepulang berjualan di kantin sekolah, tempat yang dituju selanjutnya adalah Gereja Tabernakel di kawasan Megamall Pluit. Tempat dimana Milka boleh berjemaat dan bertumbuh, untuk mengikuti persekutuan doa dan pendalaman Alkitab. Untuk sampai ke gerejanya di daerah Pluit, dari tempatnya berdagang di kawasan Fatmawati, terlebih dahulu Milka harus transit di terminal Blok M untuk mendapatkan bus kota tujuan Blok M-Pluit.

Hari itu, tak sedikit pun ada perasaan aneh dalam benak Milka yang memberikan pertanda. Setibanya di terminal Blok M, seperti aturan yang sudah ditetapkan, setiap penumpang yang hendak menunggu bus dengan rute yang dituju, harus berada di jalur tunggu yang sudah disediakan. Kala itu rute bus yang dituju Milka berada di jalur tiga. Kondisi jalur saat itu memang terlihat sepi. Karena bus yang ditunggu tak kunjung datang, Milka pun bermaksud menyeberang ke jalur tiga. Namun entah mengapa ketika Milka hendak menyeberang, ada sebuah bus patas AC dengan kecepatan tinggi ke luar dari jalur. Tanpa sadar Milka pun mereflekkan diri. Tetapi nampaknya gerakan relfek Milka kalah cepat dengan bus yang tengah melintas cepat di hadapannya. Alhasil jadilah kala itu Milka terserempet. Berbenturan dengan bus tersebut, tubuh Milka pun terpental. Saat terpental, sekujur tubuh Milka sudah masuk tersangkut ke dalam kolong bus patas AC tersebut, dan membawanya terseret sampai beberapa ratus meter.

Nyala mesin bus patas AC tersebut, otomatis membuat mesin juga menjadi panas. Sungguh teramat panas. Itulah yang dirasakan Milka ketika berada di bawah kolong bus. Belum lagi ia harus menahan rasa sakit bercampur perih akibat kulit kedua kakinya habis terpapas aspal yang juga ikut terlindas besarnya ban dari bus patas AC tersebut. Tak ayal, kedua tulang kakinya menjadi remuk berantakan. Belum lagi anggota tubuhnya yang lain yang juga ikut terkoyak akibat bergesekan dengan aspal. “Tuhan Yesus tolong saya, Tuhan Yesus selamatkan saya,” seru Milka hingga berkali-kali memanggil nama Sang Juruselamat kala itu sembari terus berusaha untuk bisa mengeluarkan sekujur tubuhnya dari dalam kolong bus patas AC tersebut. “Saya nggak tahu persis bagaimana keadaan saya ketika berada di dalam kolong bus. Sebab yang saya pikirkan adalah bagaimana caranya supaya saya bisa keluar sesegera mungkin dari dalam kolong bus. Kejadian itu benar-benar menakutkan,” ujar ibu empat anak ini.

Antara Hidup dan Mati. Setelah terus berseru memanggil nama Yesus, disertai usaha keras, akhirnya Milka pun bisa keluar dari dalam kolong bus berukuran besar itu. Sekeluarnya dari dalam kolong bus, tak satu orang pun berani menolongnya lantaran melihat sekujur tubuh Milka sudah berlumuran darah. Tetesan darah dari tubuh Milka juga memenuhi sepanjang jalan jalur Blok M. Tak lama kemudian ada dua orang laki-laki yang menghampirinya hendak menolongnya. Kedua laki-laki itu menyangka kalau Milka sudah tak lagi bernyawa. Apalagi ketika mereka melihat ke bagian kaki Milka dimana kulit dan dagingnya sudah habis terkelupas. Yang jelas terlihat hanya tulang kaki berwarna putih yang bentuknya juga sudah tidak lagi beraturan. “Saat itu saya seperti merasa antara sadar dan tidak sadar. Seperti tengah berada di antara hidup dan mati. Namun ketika itu saya masih bisa berbicara. Saya masih bisa melihat kondisi kaki saya yang termakan habis oleh aspal dan tergilas. Kulit dan dagingnya sudah terlepas, hancur, dan terbelah dua menempel pada ujung jari. Bagaikan alas sepatu yang sudah mau terlepas. Mungkin inilah yang namanya kekuatan daripada Tuhan Yesus,” kenang Milka.

Peristiwa tersebut spontan membuat semua orang di sekitar yang melihat menjerit histeris. Kebanyakan mereka mengira pastilah orang yang tertabrak itu sudah meninggal. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat mengenaskan kala itu. Setelah mengetahui Milka masih bernafas, kedua lelaki itu pun segera menghubungi pihak yang berwajib dan segera membawa Milka ke RSPP Jakarta Selatan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kejadian. Sementara Milka dibawa ke RSPP, bus patas AC yang menghantam Milka melarikan diri begitu saja. Anehnya, kendati kondisi tubuh Milka terbilang parah, namun tangan kiri Milka masih bisa menggenggam, memeluk tas dan Alkitab. Bahkan dalam perjalanan menuju RSPP Milka masih sempat menghubungi Pupung adiknya, untuk memberi kabar.

Kaki Diamputasi. Setibanya di RSPP, Milka segera mendapatkan pelayanan super ekstra. Sayangnya, ketika dokter memutuskan untuk mengoperasi Milka, harus sedikit terhambat lantaran belum ada perwakilan dari pihak keluarga yang menandatangani surat tanda persetujuan atas biaya administrasi yang diberlakukan. Beruntung tak lama setelah menghubungi adiknya, adiknya tiba di RSPP. Pupung sendiri tidak habis pikir, dengan kondisinya yang demikian parah, Milka masih bisa menelepon mengabari keadaannya kepada Pupung dan anggota keluarga yang lain. Tanpa membuang banyak waktu, Pupung langsung menandatangani surat persetujuan operasi yang disodorkan tim dokter RSPP yang menangani Milka.

Secara teoritis ilmu kedokteran, ditambah lagi setelah melihat keadaan tulang kaki Milka yang sudah hancur tak berbentuk, tim dokter pun menyarankan untuk segera mengamputasi kaki Milka karena semua jaringan urat syaraf pada bagian kaki satu dengan lainnya sudah tidak lagi berfungsi dengan baik. “Ibu Milka, dengan sangat berat hati, kami mau menyampaikan kalau kaki ibu sebaiknya diamputasi karena tidak ada lagi yang berfungsi. Sekali pun sembuh, ibu Milka akan mengalami kecacatan,” kata Milka menirukan ucapan salah seorang dokter kala itu pada dirinya. Namun karena iman percaya Milka yang begitu luar biasa dahsyat pada Yesus sang Pemilik kehidupan, saat itu juga Milka mematahkan argumentasi tim dokter. “Jangan amputasi kaki saya dokter, karena saya percaya, saya punya Tuhan Yesus yang sanggup memberikan kesembuhan yang sempurna pada kaki saya,” pinta Milka. Atas permintaan Milka, tim dokter pun tidak jadi mengamputasi kaki Milka.

Melihat keadaan Milka yang demikian parah, membuat seluruh anggota keluarga dan jemaat gereja bersedih hati. Karena secara kekuatan manusia, kondisi Milka yang demikian sepertinya sudah tidak ada harapan lagi untuk bisa bertahan hidup. Dokter sendiri saat itu hanya bisa menyarankan segenap keluarga besar dan teman-teman gerejanya untuk terus mendoakan Milka. Sebab hanya doa yang sungguh-sungguh kepada-Nya yang bisa menyelamatkan Milka dari kondisi kritisnya.

Pendarahan Hebat. Jarum jam terus berputar seiring dengan berjalannya sang waktu. Seperti rencana yang sudah disetujui kedua belah pihak, maka Milka pun dipersiapkan oleh tim dokter untuk segera menjalankan operasi. Namun sebelum operasi dijalankan, dengan harapan dapat memberikan hasil yang maksimal pada Milka, tim dokter pun kembali memeriksa seluruh kondisi tubuh Milka. Karena jika melihat dari jenis kecelakaan yang dialami Milka, tim dokter berasumsi bukan hanya pada bagian kaki saja yang hancur, tetapi pastilah terdapat kejanggalan lain atas tubuh Milka. Asumsi tim dokter tidak meleset.

Dari hasil pemeriksaan, Milka mengalami luka trauma lain yang tidak hanya membahayakan kakinya tetapi juga nyawanya. Yang ditakutkan terjadi apa-apa dengan bagian kepalanya, akibat benturan yang keras. Belum lagi dokter curiga dengan pendarahan hebat yang dialami Milka. Ada kemungkinan rongga perut persis pada bagian liver Milka juga mengalami luka yang cukup serius. Akibat dari pendarahan yang luar biasa hebat, membuat paru-paru Milka terendam oleh darah sebanyak dua liter. Untuk mengeluarkan rendaman darah tersebut, paru-paru Milka pun dibor di bagian kanan dan kiri. Itu sebabnya Milka ditransfusi darah sebanyak 2 liter dalam satu hari selama empat hari. Dalam setiap kali penanganan operasi, Milka ditangani oleh lima dokter ahli. Dua di antaranya adalah dokter ahli orthopedy, dokter spesialis kulit, paru-paru, dan liver. Maka atas kehendak-Nya operasi pun dapat berjalan dengan baik. Milka pun telah berhasil melewati masa kritisnya setelah selama sepekan lebih berada di ruang ICU. Anehnya, kendati tengah berada dalam ruang isolasi, mulut Milka tak henti-hentinya menaikkan segala pujian bagi Dia Allah yang disembahnya. Setelah keluar dari masa kritisnya, Milka masih harus tetap menjalani masa pemulihan selama 40 hari di ruang rawat inap.

Habis Rp 120 Juta. Selama satu tahun lebih Milka harus terus berhubungan dengan rumah sakit. Bahkan untuk mendapatkan kesembuhan yang maksimal, tim dokter menyarankan harus sampai lima kali operasi. Di antaranya operasi rekonstruksi kulit yang memang tidak bisa sekaligus dilakukan. Karena setiap kali jelang operasi rekonstruksi, dokter harus melihat bagian kulit dan daging mana pada tubuh Milka yang bisa dipindahkan untuk memberikan kulit tambahan pada kulit dan daging kedua kaki Milka.

Saat memantau perkembangan kaki Milka, tim dokter menemukan sesuatu kemajuan yang luar biasa. Atas ujung jari kaki Milka memerah pertanda kalau bagian kaki Milka masih menunjukkan respon yang baik. Tim dokter pun semakin optimis kalau memang kaki Milka masih bisa disembuhkan.

Keajaiban dan mukjizat terjadi, bukan hanya ketika Milka tengah berada pada masa-masa kritisnya. Tetapi Tuhan Yesus terus memperlihatkan kebesaran-Nya. Tagihan rumah sakit selama Milka dirawat di rumah sakit mencapai 120 juta rupiah. Sebagai orang yang berpenghasilan biasa saja, tentunya membuat keluarga Milka kebingungan bagaimana cara untuk melunasi sisa biaya rumah sakit yang membengkak tersebut. Sementara rumah satu-satunya sudah habis terjual. Lagi-lagi Tuhan menunjukkan kasih dan sayang-Nya pada Milka beserta keluarga. Tuhan memberikan berkat lewat jemaat gereja-Nya, sehingga sumbangan secara cuma-cuma didapatkan dari donasi jemaat gereja sebanyak Rp 70-80 juta. Hingga akhirnya seluruh biaya rumah sakit bisa dibayar dengan lunas. “Kalau bukan karena campur tangan Tuhan Yesus Bapa yang kekal, bagaimana mungkin kami bisa mengumpulkan dana dengan secepat itu. Semuanya terjadi di luar kemampuan kami sebagai manusia biasa yang penuh dengan keterbatasan. Saya tidak akan pernah tahu bagaimana jadinya kalau Tuhan Yesus tidak ambil alih semua masalah saya ini. Pastilah saya akan terpuruk. Sungguh Tuhan begitu luar biasa dalam hidup saya,” papar Milka dengan mata memerah tak kuat menahan haru. Gilbert

Memaafkan Sopir Bus yang Telah Menabraknya

Mukjizat sungguh nyata terjadi atas diri Milka. Padahal tim dokter sempat mengatakan kalau hidupnya sudah tidak dapat tertolong lagi. Selain itu, sekali pun sembuh, Milka akan mengalami cacat seumur hidup. Itu sebabnya dokter sempat menyarankan agar kakinya lebih baik diamputasi. Namun sekali lagi Tuhan berbicara lain atas hidup Milka. Selain diselamatkan dari masa kritisnya, Milka pun hingga kini masih tetap bisa berjalan secara sempurna. “Berdasarkan pengalaman dokter yang menangani Milka saat itu, kasus Milka merupakan suatu keajaiban yang luar biasa. Sebab hanya Tuhan yang mengetahui persis bagaimana mekanisme penyembuhannya sampai Milka bisa selamat. Padahal tim dokter yang menangani Milka saat itu sempat angkat tangan dan hanya bisa berharap pada Yang Maha Kuasa. Sungguh tidak akan pernah ada yang bisa melakukan hal seperti yang saya alami dalam hidup saya. Semua terjadi di luar hitungan matematis manusia. Kalau Tuhan berkata sembuh, maka semua itu terjadilah dengan sempurna sesuai dengan rencana-Nya. Sebab tidak ada yang tidak mungkin terjadi di hadapan-Nya,” ungkap Milka penuh rasa syukur.

Di tengah menikmati rasa harunya pada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Milka kembali dihadapkan pada tuntutan hukum yang harus dipertanggungjawabkan si sopir bus patas AC yang menabraknya tersebut. Namun lagi-lagi kemurahan dan kebesaran hati Tuhan menyertai Milka sehingga tak sedikit pun terlintas dalam benak pikirannya untuk menuntut tanggung jawab, baik kepada si sopir atau pun perusahaan bus. Padahal kalau dipikir secara akal logika manusia, hal tersebut sudah sangat merugikan Milka secara tubuh, jiwa, dan jasmani yang membuatnya kesakitan. “Karena Tuhan Yesus sudah begitu bermurah dan berbesar hati pada saya, dengan memberikan keselamatan dan kesembuhan pada saya dengan cuma-cuma. Begitupun sebaliknya saya juga mau bermurah hati pada sopir yang menabrak saya. Saya memaafkan segala kesalahannya pada saya. Saya mau menjadi teladan, seperti apa yang sudah diteladankan Tuhan Yesus selaku Gembala pada Domba-dombanya,” papar Milka. Gilbert


Pdt. Sapto Edhi Raharjo, Gembala Cabang Gereja Bethel Indonesia Kalibata, Jakarta Selatan


Melalui Musibah, Milka Diharapkan Bisa Menjadi Saksi Kristus

Peristiwa tragedi kecelakaan maut yang menimpa Milka, janganlah langsung dianggap sebagai satu bentuk teguran Tuhan. Kejadian ini hanya merupakan bentuk kecelakaan biasa, akibat dari human error. Tentunya kita juga sebagai manusia dituntut untuk bisa menyikapinya dengan cara yang bijaksana. Oleh karenanya, pandanglah hal tersebut sebagai bentuk wujud kasih sayang, yang ingin ditunjukkan Tuhan pada umat-Nya secara lebih lagi.

Dari setiap kejadian yang dialami oleh manusia secara pribadi, pastilah di dalamnya tersingkap satu rencana Tuhan yang begitu luar biasa mulianya. Dan sebelumnya memang tak pernah ada seorang pun yang dapat mengetahuinya. Jikalau seseorang mengalami satu pertolongan dari Tuhan yang begitu luar biasa, itu dikarenakan Tuhan sangat berkenan kepada umat yang dikasihi-Nya.

Terbukti dengan peristiwa tragis yang menimpa diri Milka dua tahun lalu. Dimulai dari awal kecelakaan sampai Milka lepas dari masa kritisnya, Tuhan sudah turut campur tangan. Mungkin kalau dilihat dari jenis kecelakaan yang terjadi pada Milka, secara hitungan matematis kemanusiaan, Milka memang tidak akan mungkin bisa bertahan hidup lebih lama lagi. Selain itu, akibat daripada kecelakaan tersebut, pastilah ada efek buruk yang harus ditanggung Milka yaitu kedua kakinya yang tak mungkin lagi bisa kembali berjalan secara sempurna. Persis seperti apa yang dikatakan tim dokter kala menangani proses penyembuhan Milka di rumah sakit.

Gaya hidup Milka yang selalu saja menghadiri setiap persekutuan doa dan pendalaman Alkitab yang dilakukan bersama Jemaat gereja Tuhan. Secara tidak langsung membuat iman percaya Milka menjadi tumbuh dan berkembang. Itu sebabnya sekalipun tengah berada di masa kritisnya, Milka tetap menyerahkan semuanya kepada Kristus selaku Juruselamat pemilik kehidupan yang kekal. Apa yang tidak mungkin di hadapan manusia, sebaliknya hal itu sangatlah mungkin di hadapan Tuhan. Melalui musibah yang pernah dialaminya, Milka diharapkan bisa menjadi saksi kristus sampai ke ujung bumi. Gilbert



Guruh Soekarno Putra. Lebih Dikenal sebagai Seniman dan Budayawan Ketimbang Politikus

Guruh Soekarno Putra.


Lebih Dikenal sebagai Seniman dan Budayawan Ketimbang Politikus


Siapa yang tak kenal Guruh Soekarno Putra, jiwa nasionalisme dan nama besar Bung Karno sebagai Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia, cukup mendarah daging dalam diri bungsu lima bersaudara ini. Bangga menjadi anak sang Proklamator, membuat Guruh merasa bertanggung jawab untuk menuangkan segala kemampuan, gagasan, dan pemikirannya demi kemajuan bangsa Indonesia.


Keimanan dan falsafah hidup bangsa Indonesia adalah Pancasila, karena sifatnya yang universal. Selain itu Pancasila adalah rahmat dan hidayah dari Tuhan yang Maha Kuasa,” ujar Guruh dengan lantang ketika dipercaya menjadi pembicara pada seminar bertajuk “Pancasila Ditengah Globalisasi” bertempat di German Centre kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang beberapa waktu lalu. Seperti yang telah diagendakan, Guruh yang kala itu mengenakan kemeja lengan panjang bermotif batik, ditemani beberapa staf pribadinya, bersedia meluangkan waktu untuk berbincang bersama Realita.

Bapak Ideologis. Pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, memang benar adanya. Inilah sedikit gambaran mengenai jiwa patriotisme dengan nilai pancasila yang turut tertanam dalam batin seorang Guruh Soekarno Putra. Lahir dan dibesarkan dalam lingkungan kenegaraan, membuat Guruh tumbuh menjadi pribadi yang berjiwa patriotisme.

Secara pribadi, Guruh bangga membawa nama besar Bung Karno. Guruh pun beranggapan bahwa Soekarno selain sebagai bapak biologisnya, juga sebagai bapak ideologisnya. Bahkan Bung Karno dianggap Guruh lebih dari sekadar orang tua. Bisa dibilang, baginya Bung Karno adalah sebagai guru dan pemimpinnya dalam membentuk pola pikir berbangsa dan bernegara. “Untuk itu saya akan meneruskan cita-cita Bung Karno dengan ajarannya beserta asas manfaatnya, yang berguna bagi seluruh umat manusia,” tandas Guruh yang lagu-lagunya abadi seperti Melati Suci, Puspa Indah Taman Hati, dan Anak Jalanan.

Selain aktif dan dikenal dalam bidang seni dan budaya, secara pribadi, Guruh yang juga menjabat sebagai ketua umum Yayasan Bung Karno dan Ketua umum Gerakan spirit Pancasila juga turut melakukan langkah politik taktis dan praktis. Baginya, berbangsa dan bernegara adalah menerapkan ajaran Pancasila dan Marhaenisme, maka dengan pegangan itulah dirinya turut berperan serta untuk memperjuangkan Indonesia, dalam mewujudkan cita-cita proklamasi.

Gerakan spirit Pancasila dalam kegiatannya sendiri adalah mensosialisasikan Pancasila pada generasai muda. Pasalnya, banyak generasi muda saat ini yang tidak mengerti akan apa arti sebenarnya dari Pancasila itu sendiri. Yang diketahui hanya sekadarnya saja. Bagi Guruh, hal tersebut merupakan sebuah ancaman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara yang nantinya berujung pada sebuah kehancuran. Apalagi sifat dari keaslian Pancasila itu sendiri sudah terkontaminasi dengan iklim ideologi orde baru yang tertanam.

Seniman dan Budayawan. Meski begitu, Guruh justru lebih dikenal sebagai seorang seniman dan budayawan yang selalu berhasil dan memberikan respon positif dalam setiap pagelaran dan hasil karyanya. Penghargaan yang diterima baik dalam takaran tingkat nasional maupun internasional pun mungkin sudah tak terhitung banyaknya. Setiap hasil karyanya bisa dipastikan mewakili nama bangsa dan membawa harum nama bangsa di kancah internasional. “Banyak yang mengenal saya sebagai seniman dan budayawan, sesungguhnya tidaklah demikian karena saya juga terlibat dalam aktivitas politik. Semua ini bisa terjadi karena pembentukan karakter yang dibuat dan diciptakan oleh mass media,” papar pimpinan Swara Mahardika ini.

Baginya seni dan budaya bukanlah sebuah asas perjuangan, tetapi suatu lagkah taktis untuk bisa bermain di ranah politik, karena Politik Praktis sendiri bisa saja dilakukan dalam berbagai hal dan bidang. “Sisi baiknya, saya memang dikenal sebagai seniman profesional. Buat saya itu tak menjadi masalah, karena seni itu sendiri seperti orang bernapas. Rasa seni adalah menyenangi dan mendorong untuk menciptakan sesuatu yang indah. Sementara orang selalu memilah-milah, dan berpersepsi seolah kegiatan seni itu jauh dari yang namanya politik. Padahal, semuanya bisa menyatu dalam kehidupan. Politik itu mencakup banyak segi. Pemahaman kita tentang kenegaraan, kewarganegaraan, kebijakan, sikap kita sebagai bangsa, sikap suatu negara pada bangsa dan negara lain. Kita punya banyak masalah, harus diperjuangkan. Itulah alasan saya terjun ke politik, untuk bersama-sama berjuang,” jelas suami dari Gusyenova Sabina Padmavati itu.

Bicara soal jiwa seni adalah sebuah anugerah yang dipupuk dan dibentuk dalam tatanan lingkungan kepresidenan kala itu. “Bapak itu Presiden yang juga sekaligus sebagai penikmat seni. Beliau adalah pengumpul lukisan dan benda seni. Selain itu bapak juga dapat melukis, menciptakan tata tari, lagu, dan banyak cabang seni. Demikian juga yang terjadi dengan ibu yang juga pandai menari, main musik, mencipta lagu, dan menyanyi,” terang Guruh bicara soal bakat seninya yang ternyata merupakan bakat turunan dari kedua orang tuanya.

Jadi wajar jika Guruh belajar berbagai macam tari seperti tari Jawa, Bali, Sunda, Sumatera, bahkan Barat. Di usianya yang kelima tahun pun Guruh juga sudah mempelajari tari Bedoyo dan spiritual Jawa yang didapat dari Laksmito Rumi, istri Paku Buwono X. Belajar tari Bali dibimbing Agung Mandra, I Wayan Diya, dan I Gustri Kompyang Raka. Belum lagi angklung, gamelan Jawa dan Bali. Piano dikuasai secara otodidak sejak kelas 5 SD, sementara Ismail Marzuki dan Mochtar Embut andil dalam bimbingan teori dan komposisi musik. Namun semua itu bukanlah untuk kesenangan dan kepentingan pribadi. Hasil latihan tiap hari selepas Maghrib itu dipertunjukkan bersama para kakak, Guntur, Mega, Rachma, dan Sukma, di hadapan para tamu negara di istana. Bakat seni yang mengalir dalam darah Guruh membuatnya bisa mencari tambahan dengan mengajar gamelan, tari Bali, hingga membuat pertunjukan seni.

Jiwa seninya berkembang dengan cukup pesat dan mengagumkan, maka tak heran seiring dengan berjalannya waktu, di kemudian hari Guruh mendirikan sebuah sanggar seni Swara Mahardika dibawah bendera PT Kinarya Gencar Semarak Perkasa alias GSP Production. Selain itu yang terpenting bagi Guruh, budaya dianggap sebagai aset yang berharga sehingga harus dijaga kelestariannya. Jangan dibiarkan punah agar tidak tergeser dan terpengaruh oleh serapan budaya asing yang begitu kuat merasuk saat ini. Gilbert