Rabu, 04 Februari 2009

Ezra Agus Susanto, Freelanch Desain Konstruksi AC


Hidup Normal Meski dengan Tempurung Kepala Buatan


Jodoh dan kematian memang di tangan Tuhan. Tepat dua minggu menjelang pernikahannya, Ezra Agus Susanto mengalami kecelakaan maut yang membuat tempurung kepalanya diganti dengan tempurung kepala palsu. Bagaimana hari-hari Ezra Agus setelah itu?



Siang (25/6) itu, terik matahari berada persis di atas ubun-ubun kepala. Sengatannya pun terasa menusuk sampai ke dalam pori-pori kulit, menemani perjalanan Realita menuju sebuah rumah di Jl. Sukahati di kawasan Tangerang. Sejurus kemudian, muncul perempuan muda berbusana serba pink menanyakan maksud kedatangan Realita. Setelah tahu maksud kedatangan Realita yang ingin menemui Ezra Agus Susanto, perempuan itu pun segera memanggil Agus, begitu pria tersebut kerap disapa.



Tunggu sebentar ya, Agus-nya sedang nanggung gambar di atas,” ujar perempuan berkulit putih tersebut. Lima menit kemudian Agus pun muncul dari lantai atas rumahnya. “Sayang, tolong ambilin bekas tempurung kepala saya yang di dalam freezer dong,” pinta Agus pada perempuan berbusana pink tersebut yang ternyata adalah istrinya, Priska. “Ini mas kalau mau lihat bekas tempurung kepala saya yang asli, sisa-sisa dari operasi tahun lalu. Maaf kalau sedikit agak bau, karena memang rencananya mau dikasih formalin, biar terlihat awet dan segar,” tandasnya sambil menjelaskan awal ketika dirinya mengalami kecelakaan. “Saya sangat bersyukur, selain diberikan kesembuhan secara sempurna, saya juga diberikan anugerah seorang istri yang begitu luar biasa baik,” tambah Sarjana teknik mesin jebolan Universitas Tarumanegara ini sambil memandangi istrinya yang duduk tepat di sebelahnya.



Agus pun mulai bercerita bagaimana kecelakaan itu terjadi. Seperti biasanya pada 27 Maret 2007, usai merampungkan pekerjaannya menggambar desain AC, Agus berniat untuk mengantarkan hasil gambar desainnya tersebut ke kantornya yang berada di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan. Hari itu, dengan mengendarai sepeda motornya, Agus berjalan dari rumahnya di kawasan Tangerang sekitar pukul 10.00 pagi.

Saat melangkahkan kaki, tak terlintas sedikitpun dalam benaknya bahwa pada hari itu ia akan berhadapan dengan maut. Untuk menuju kantornya, kala itu Agus memilih rute perjalanan melalui Cengkareng. Seperti biasa rute tersebut terkena macet. Saat itu Agus memutuskan untuk masuk ke dalam jalur Busway mengikuti kendaraan lainnya yang juga sudah masuk ke dalam jalur Busway tersebut.

Terbentur Trotoar. Tak disangka saat sedang melenggang di jalur Busway, ia mendengar pengendara lain berteriak-teriak mengatakan bahwa di ujung jalan ada polisi yang sedang bertugas. Agar tak tertangkap, Agus pun berniat keluar dari jalur Busway tersebut. Namun, ketika Agus ingin keluar, motornya dihantam oleh pengendara motor lain dengan kecepatan lumayan tinggi. Hantaman tersebut membuat Agus tidak lagi bisa mengendalikan kemudi motornya. Agus pun jatuh tersungkur hingga kepalanya membentur keras trotoar jalan. Benturan keras tersebut kontan saja membuat Agus langsung tak sadarkan diri. Dari kepala Agus, darah segar mengalir bercucuran.

Para tukang ojek yang berada di sekitar kejadian segera menolong Agus dan melarikannya ke RS Cengkareng. Setibanya di RS Cengkareng, Agus langsung masuk ruang UGD (Unit Gawat Darurat). Melihat kondisi Agus yang lumayan parah, salah seorang tukang ojek berusaha untuk menghubungi keluarga Agus melalui ponsel yang tersingkap di kantung celananya.

Pihak RS Cengkareng pun juga berusaha untuk menghubungi salah satu kerabat Agus. Mereka berhasil menghubungi Lienda Ishak, ibunda Agus. Ketika mendapat kabar Agus mengalami kecelakaan, Lienda yang kala itu sedang berada di Mangga Dua untuk berbelanja perlengkapan pernikahan bersama Priska, calon istri Agus, seketika menjadi panik. Langkah kaki Lienda bersama Priska pun segera menuju ke RS Cengkareng.

Dalam perjalanan menuju RS Cengkareng, Lienda maupun Priska tak henti-hentinya berdoa dalam hati memohon pertolongan Tuhan. Priska yang saat itu masih berstatus sebagai kekasih Agus, langsung mengambil ponselnya untuk meminta dukungan doa dari para pendeta dan tim pendoa di Gereja. Setibanya di RS Cengkareng, baik Lienda maupun Priska, lemas tak berdaya sambil berteriak histeris. Mereka shock melihat kondisi Agus yang sudah berlumuran darah. Apalagi setelah mereka mengetahui bahwa sejak Agus masuk RS Cengkareng mulai pukul 11.00 hingga pukul 14.00, didiamkan begitu saja. Kondisi Agus saat itu hanya diperban biasa dan diikat kedua kaki dan tangannya, akibat selalu meronta-ronta karena kesakitan. Melihat demikian, Lienda segera memindahkan Agus ke RS Siloam Hospital Tangerang.

Harapan Hidup Tipis. Setibanya di RS Siloam Hospital sekitar pukul 17.00, Agus segera mendapatkan perawatan. Tim dokter langsung melakukan cityscan. “Akibat dari benturan yang sangat keras, kepala bapak Agus mengalami pendarahan yang sangat hebat. Pak Agus juga mengalami pembengkakan otak yang parah dan ada bercak-bercak pendarahan di dalam otaknya. Ditakutkan akan berujung pada gegar otak hebat,” ujar Priska menirukan ucapan tim dokter yang diwakili oleh dr. Eka. “Presentasi untuk terjadinya kemungkinan hidup bagi saudara Agus secara kedokteran mungkin hanya tinggal 35 persen. Jadi pilihannya ada dua, apakah bapak Agus dioperasi dengan membuka tempurung kepalanya, atau hanya dengan diobati dari luar saja. Kalau hanya diobati dari luar saja, ditakutkan nantinya akan terjadi sesuatu yang di luar dugaan. Tetapi jika dioperasi, hal tersebut bisa diminimalisir. Makanya jangan pernah berharap kesembuhan kepada saya. Tetapi, mintalah semuanya itu kepada Tuhan, karena memang hanya Tuhan yang sanggup melakukan semuanya itu. Saya hanyalah alatnya Tuhan dan kemampuan saya terbatas,” tambah Priska menirukan kata-kata dr. Eka lagi.

Pernyataan dokter tersebut, sesaat membuat keluarga sedikit bingung untuk memenuhi persyaratan administrasi yang sangatlah mahal. Namun jarum jam terus berputar, membuat keluarga tak sempat lagi untuk berpikir lama. Semua demi keselamatan Agus. “Dokter segera operasi calon suami saya, berikan pelayanan medis terbaik atas dirinya,” kata Priska kemudian. Melihat sikap Priska yang demikian, membuat keluarga segera menandatangani persetujuan operasi.

Operasi pertama dilangsungkan pada malam harinya. Terlebih dahulu tim dokter melakukan pembersihan di bagian dalam kepala Agus. Selama berjalannya operasi, perasaan berdebar, tidak tenang, takut, dan sebagainya terus menggelayut di dalam hati Priska beserta kedua orang tua Agus.

Usai dioperasi untuk kali pertama, Agus tak sadarkan diri delapan hari lamanya di ruang ICU, persis bagaikan mayat. Sebagai calon istri, di sinilah kesetiaan Priska diuji. Di dalam ruang ICU, Priska terus mendampingi Agus sambil tak henti-hentinya memanjatkan doa. Dalam keadaan yang begitu tertekan, hanya Yesuslah yang menjadi sandaran satu-satunya bagi Priska maupun keluarga Agus. Oleh karenanya, Priska, Lienda, dan seluruh keluarga besar, beserta teman-teman Gereja terus berdoa, tersungkur bersujud di bawah kaki Bapa sambil bersimbah air mata, memohon kesembuhan yang sempurna untuk Agus. Tak heran kalau di ruangan di mana Agus dirawat, senantiasa dipenuhi oleh suara ratapan dan tangisan.

Beban keluarga Agus seakan tak ada habisnya. Mereka harus menghadapi banyak hal yang membuat mereka semakin terpuruk ke dalam keputusasaan. Ada kenalan mereka yang mengatakan mendapat penglihatan dan melihat roh Agus sudah terpisah dari tubuhnya. Dan banyak hal lain yang membuat keluarga Agus hampir kehilangan pengharapan akan kesembuhannya. Informasi yang didapatkan Lienda, sang ibu, dari suster rumah sakit pun tidak membuatnya tenang. Suster mengatakan kalau pun Agus nanti sembuh dan dapat pulang kembali ke rumah, kondisi paling bagus yang akan mereka hadapi adalah, dengan melihat Agus duduk manis di atas kursi roda. Atau kemungkinan terparah, bisa juga Agus hidup dalam keadaan lumpuh dan idiot.

Disinilah keteguhan Priska sebagai orang terdekat Agus, lagi-lagi kembali diuji. “Tuhan Yesus, saya tidak mau mendengarkan siapa pun. Baik itu vonis dokter, suster, atau pun keluarga lainnya yang mengatakan kalau Agus tidak lagi mempunyai harapan untuk hidup. Yang mau saya dengar hanyalah Engkau Yesus Tuhan Allahku. Saya percaya Tuhan iman saya berkata, kalau Tuhan akan memberikan kesembuhan yang sempurna. Kalau memang Tuhan mau memberikan kesempatan pada Agus untuk hidup kembali, maka berikanlah dia kesembuhan yang sempurna seperti sediakala. Karena saya tidak mau melihat Agus sebagai calon suami saya, hidup dalam keadaan cacat dan bodoh. Tuhan Yesus saya sangat percaya kalau Engkau sanggup melakukan segala perkara. Sebab tiada perkara yang mustahil bagi-Mu, semuanya sangat mungkin terjadi di hadapan Engkau ya Tuhan,” doa Priska yang bersandar sepenuhnya pada Yesus sang Juruselamat.

Ganti Tempurung Kepala. Tak lama waktu berselang, Agus kembali harus masuk ruang operasi untuk membedah tenggorokkannya demi membantu jalannya proses pernapasan yang juga sempat terganggu akibat pendarahan, selain juga sebagai bantuan untuk masuknya asupan makanan. Jadi, wajarlah jika Agus pun sempat tidak bisa berbicara selama beberapa pekan. Komunikasi pun hanya bisa dilakukan melalui alat tulis.

Dalam keterpurukan dan ketidakpastian, Agus kembali harus menjalani operasi yang ketiga untuk pemasangan tempurung kepalanya. Melihat pendarahan yang sudah berhenti dan pembengkakan dalam kepala Agus sudah mengecil, barulah operasi penggantian tempurung kepala bisa dilaksanakan. Namun sayangnya tempurung atau batok kepala Agus yang asli, sudah tidak bisa lagi digunakan karena ada beberapa jaringan syarafnya yang sudah rusak. Maka dokter pun memutuskan untuk menggantinya dengan tempurung kepala akrilik buatan manusia.

Doa yang tiada henti, pada akhirnya dapat membawa Agus melewati masa-masa kritis. Bahkan operasi demi operasi berjalan lancar, hingga proses kesembuhan pun mulai terlihat. “Sungguh campur tangan Tuhan sangat besar. Dari hasil scanning, secara medis kemungkinan besar akan terjadi kelumpuhan atau ketidakmampuan berkomunikasi atas diri saya, tetapi kenyataannya sama sekali hal tersebut tidak terjadi. Bahkan saya yang tadinya diberikan vonis paling cepat bisa mengalami fase pemulihan sampai 6 bulan bahkan hingga tahunan, semuanya terbantahkan. Hanya dalam waktu 35 hari, Tuhan menyembuhkan saya dengan sempurna,” jelas Agus.

Mukjizat terjadi bukan hanya ketika Agus terbaring di ruang ICU, atau saat terbaring di meja operasi. Namun untuk kesekian kalinya, berkat kesungguhan doa dari seluruh keluarga besar dan jemaat Gereja. Lagi-lagi Tuhan sungguh berpihak dan sangat menyayangi Agus dan keluarganya. Karena segala beban biaya saat Agus dirawat di rumah sakit yang mencapai angka sekitar Rp 200 jutaan lebih, terbayarkan dengan lunas. “Kami sendiri tidak mengerti dari mana uang sebanyak itu bisa didapatkan tanpa harus mengutang sana-sini. Apalagi kalau melihat keadaan keluarga kami yang sederhana ini, tidaklah mungkin bisa mengumpulkan uang sebanyak itu tepat pada waktunya,” ucap Agus takjub.

Yang jelas saya sangat percaya, kalau semua ini adalah pekerjaan Tuhan. Dia memenuhi segala sesuatunya tepat pada waktunya tanpa kekurangan satu apa pun. Sungguh Yesus Tuhan Allah pribadi yang ajaib dan luar biasa,” tambah Agus yang juga diiyakan Priska dengan penuh haru. “Buat saya, Yesus itu sungguh sangat berarti. Saat itu tidak ada kata lain yang keluar dari mulut saya. Saya hanya bisa berkata, Tuhan, Engkau terlalu baik. Setiap saat saya katakan Tuhan itu terlalu baik,” urai putra ke dua dari pasangan Yanto dan Lienda Ishak ini menambahkan kesaksiannya. Gilbert


Priska Juwita Purba, Istri Ezra Agus Susanto

Jika meninggalkan Agus berarti saya lari dari kenyataan”

Perkenalan Agus dan Priska terjadi dalam sebuah pertemuan ibadah di Gereja ketika Agus sedang bertugas di Batam. Mungkin inilah yang dinamakan jodoh. Meski berhubungan jarak jauh dan baru bertemu sebanyak tiga kali, akhirnya Agus dan Priska sampai juga ke pelaminan. Pernikahan pun direncanakan pada 14 April 2007 dengan segala bentuk persiapan yang mendekati sempurna. Sayang, dua minggu menjelang pernikahan, Agus mengalami kecelakaan dahsyat.

Bagi Priska, kondisi seperti ini bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi. Bahkan disinilah kesetiaan Priska diuji. Apalagi kalau ditanya secara hati nurani seorang perempuan normal. Mana ada perempuan di belahan dunia manapun yang menginginkan calon suaminya hidup dalam keadaan cacat sehingga tidak lagi mempunyai masa depan. “Perjalanan kisah percintaan saya dengan Agus, sampai kami memutuskan untuk menikah memang tidaklah lama. Karena saya yakin semua ini rencana Tuhan karena kami selalu memulainya dengan doa. Jadi, kalau saya meninggalkan Agus yang sedang dalam keadaan koma, itu artinya saya lari dari kenyataan. Sebenarnya saya bisa saja dengan mudahnya meninggalkan Agus, tetapi buat saya itu tidak fair. Justru sebaliknya dalam hati saya waktu itu, saya merasa tertantang mau melihat sampai di mana Tuhan punya maksud atas hubungan kami. Makanya saya tak pernah berhenti berdoa pada Tuhan karena saya percaya rancangan Tuhan bukanlah rancangan kecelakaan, melainkan rancangan damai sejahtera,” tutur Priska yang usianya lebih muda 10 tahun dari Agus, suaminya.

Kendati pernikahannya tidak sesuai dengan rencana semula. Pada akhirnya Tuhan juga mengijinkan Priska dan Agus untuk bisa hidup bersama. Pernikahan mereka dilangsungkan pada 4 Agustus 2007. Gilbert


Pdt. Sapto Edhi Raharjo, Gembala Cabang Gereja Bethel Indonesia Kalibata, Jakarta Selatan

Agus Sembuh dengan Dukungan Doa Orang-orang yang Menyayanginya

Kelahiran, jodoh, rezeki, dan kematian, sepenuhnya adalah kuasa Tuhan. Setiap manusia sudah mempunyai jalan hidup masing-masing. Peristiwa yang dialami oleh Ezra Agus Susanto adalah sebuah peristiwa yang luar biasa ajaib. Sebab tidak semua orang bisa mendapatkan peristiwa persis seperti apa yang dialami Ezra Agus Susanto.

Kendati semua berjalan tak terduga dan menyakitkan secara fisik, bahkan menimbulkan ketakutan, tetapi nikmatnya semua itu berujung pada sebuah kisah kehidupan yang manis. Secara jasmani semangat Agus untuk hidup memang begitu besar. Hal ini juga seiring sejalan dengan semangatnya secara rohani. Dimana ketika terbaring tak berdaya, Agus tetap mengandalkan kekuatan imannya dan percaya kalau Tuhan akan memberikan yang terbaik atas apa yang sudah terjadi pada dirinya.

Meski vonis dokter mengatakan kalau hidup Agus hanya tinggal 35 persen saja dan sekalipun hidup tak lagi sempurna, tetapi semuanya itu hanyalah perkataan manusia. Sebab apa yang tidak mungkin terjadi di hadapan manusia, kebalikannya, justru sangatlah mungkin di hadapan Tuhan. Apalagi dengan dukungan doa dari orang-orang di sekitar Agus yang sangat menyayanginya.

Hanya satu yang Tuhan pinta dari setiap umat-Nya yaitu untuk tetap selalu percaya, jangan takut, dan jangan bimbang. Sebab Dia menyertai setiap kehidupan kita sampai sepanjang masa. Di luar itu, Alkitab mencatat, doa orang benar jika dengan benar dan sungguh-sungguh didoakan, maka akan besar kuasanya. Gilbert

Dwi Krismawan, Koordinator Marketing Iklan dan Sirkulasi Harian Seputar Indonesia


Diselamatkan Tuhan dari Kecelakaan Pesawat Saat Berlatih


Menjadi seorang pilot merupakan cita-cita Dwi Krismawan sejak kecil. Itulah yang membuat Dwi tidak lantas menyerah ketika gagal saat pertama kali ikut test pendidikan pilot. Hingga akhirnya pada tahun 1996 Dwi bisa lulus test dan diterima sebagai siswa di PLP Curug, Bogor. Tapi sayang, tiga bulan menjelang wisuda, Dwi mengalami kecelakaan maut saat membawa pesawat terbang bermesin tunggal. Apa daya, impiannya pun kandas di tengah jalan. Meski begitu Dwi sangat bersyukur bahwa dirinya bisa selamat dari kecelakaan maut tersebut. Bagaimana kisah selengkapnya?


Tahun 1996, mungkin merupakan tahun yang paling membahagiakan bagi seorang Dwi Krismawan. Di tahun itulah impiannya untuk menjadi seorang pilot akhirnya bisa diwujudkan. Saat mengikuti test Pendidikan dan Latihan Penerbangan (PLP) di Curug, Bogor, Dwi diterima sebagai salah satu siswanya. PLP sendiri merupakan tempat pendidikan untuk menciptakan seseorang menjadi pilot pesawat terbang komersil. Tidak mudah memang untuk bisa masuk ke sana, butuh perjuangan yang berat, apalagi PLP Curug ini berlaku untuk seluruh Indonesia.
Ini tentunya merupakan hal yang paling membanggakan bagi Dwi. Apalagi empat tahun sebelumnya (1992) Dwi sempat mengikuti test yang sama namun harus gugur di tengah jalan.

Kalah dalam test pertama tidak membuat dirinya patah semangat. Sambil menunggu dibukanya kembali pendaftaran untuk bisa masuk menjadi siswa di PLP Curug Bogor, Dwi kembali pulang ke Bali dan diterima bekerja di perusahaan penerbangan Sempati Air milik Humpuss. Ia ditempatkan di bagian ground handling. Bekerja di perusahaan penerbangan membuat semangatnya untuk bisa mengendalikan pesawat terbang semakin berkobar. Inilah yang membuat Dwi kembali mengikuti test yang kedua di tahun 1996. Saat itu Dwi berada diantara 75 orang yang diterima, dari 2500 orang yang mendaftar. ”Selain karena tertarik dengan kecanggihan pesawat terbang, dengan menjadi seorang pilot, saya ingin membantu perekonomian keluarga dan mengubah nasib keluarga,” ujar Dwi yang saat itu masih berusia 24 tahun dan berasal dari keluarga yang sangat sederhana.

Sebagai anak laki-laki Dwi merasa bertanggung jawab penuh dalam hal yang satu ini. Sebab sedari kecil, Dwi bersama dua saudaranya memang hidup dalam kesederhanaan. Ayahnya hanyalah seorang PNS biasa di BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) di Bali, sementara ibunya hanyalah ibu rumah tangga biasa.

Tanggal 17 Januari 1996, Dwi memulai hari-harinya sebagai siswa di PLP Curug, Bogor. Metode pendidikan yang diterimanya kala itu tak jauh berbeda dengan pendidikan di AKABRI. Di sana ia banyak mendapat gemblengan baik secara fisik maupun mental. Secara bertahap, Dwi bersama siswa lain seangkatannya mulai diajarkan teori tentang mesin pesawat terbang sampai belajar praktek membawa pesawat terbang.

Alami Kecelakaan Maut. Satu tahun lamanya Dwi mengikuti pendidikan di Curug, Bogor. Rencananya, pada bulan April 1997, Dwi akan segera diwisuda dan langsung menjadi pilot di maskapai penerbangan Garuda. Namun, tanpa pernah terbayangkan oleh Dwi, 3 bulan menjelang wisuda yaitu Januari 1997, suatu peristiwa yang mengubah keseluruhan jalan hidupnya pun terjadi. Tepatnya pada 28 Januari 1997. Pukul 06.00 pagi WIB, Dwi melakukan test penerbangan (flight test) bersama instrukturnya, Sigit Hani, menggunakan pesawat FG10 yaitu pesawat bermesin tunggal.

Tepat pada pukul 06.30, Dwi dan Sigit melakukan start engine, kemudian terbang sekitar pukul 07.00. Saat itu, sebagai instruktur, Sigit hanya bertugas untuk mengawasi Dwi demi keamanan. Ketika itu Dwi merasa secara teori penerbangan, dirinya sudah melakukan semua sesuai prosedur dengan pantauan sang instruktur. Saat itu posisi terbang persis berada di kota Jasinga, Bogor. Tak jauh dari posisinya, ada gunung gede. Di sebelah kanan kiri, terlihat rel kereta api dan sungai. Saat itu dirinya terbang dengan ketinggian 2000 feed sesuai dengan standar prosedur yang ada.

Ketika itu, sang instruktur memerintahkan untuk membuat sedikit manuver ke kiri dan ke kanan dalam hitungan derajat. ”Padahal sebelum melakukan circle waktu itu saya selalu katakan pada instruktur saya, apakah area yang saya lampaui itu ”all clear” artinya posisi terbang saya dalam jangkauan terbang bisa dikatakan area yang aman. Waktu itu instruktur saya mengatakan semuanya dalam keadaan aman,” ujar Dwi.

Baru sekitar tiga kali melakukan exercise circle, tiba-tiba sang instruktur berkata ”I help control” dalam artian, kontrol kendali pesawat yang tadinya dipegang Dwi diambil alih oleh instruktur. ”Setelah kendali saya lepas, instruktur saya yang gantian pegang kendali, maka tutup kepala pun saya buka. Ternyata pesawat yang kami tumpangi sudah masuk di dalam awan yang sangat pekat. Tidak terlihat apa-apa lagi, yang terlihat hanyalah gumpalan awan putih,” cerita Dwi.

Ketika menengok ke kanan, mereka seperti melihat ada celah awan yang bisa dilewati. Pada saat pesawat dibelokkan ke kanan, terlihat seperti warna hijau, coklat, dan hitam. ”Waktu itu saya berpikir kalau hijau itu adalah gunung, karena sebelum terbang saya ingat didekat posisi kami terdapat gunung. Saya pun langsung teriak, awas mas di depan ada gunung,” tambah Dwi. Karena jarak dengan gunung yang sangat dekat sementara kecepatan pesawat tinggi, mereka pun tidak sempat menghindar. Akhirnya, pesawat yang ditumpangi Dwi menabrak pohon besar yang berada di sekitar punggung gunung.

Setelah itu, Dwi pun tidak sadarkan diri. Begitu sadar, kondisi pesawat sudah dalam keadaan hancur berantakan. Bahan bakar bocor dan masuk ke dalam kokpit. Sementara di kokpit ada percikan api maka otomatis membuat pesawat langsung terbakar habis. ”Saya masih ingat dengan jelas, di mana ketika itu api yang sangat panas sekali mengelilingi depan dan belakang saya. Saya mau cabut seatbelt ternyata tidak bisa. Saya pun kembali pingsan. Setelah tersadarkan lagi dan saya kembali mau cabut seatbelt, namun saya sudah tidak kuat lagi,” urai Dwi mencoba mengenang kejadian itu kembali.

Waktu itu yang terucap dari bibirnya hanya, ”Tuhan tolonglah saya.” Kata-kata itu terus diucapkan Dwi hingga berkali-kali. Setelah itu Dwi kembali mencoba untuk menarik seatbelt sekuat-kuatnya, dan barulah bisa terlepas sehingga Dwi bisa keluar dari pesawat dengan cara berguling-guling. ”Saya sendiri tidak tahu kalau badan saya waktu itu sudah terbakar. Yang saya tahu hanyalah banyak darah yang keluar dari sekujur tubuh saya, rasanya memang sangat panas dan kering sekali tenggorokan saya,” tutur ayah satu anak ini seraya berkata bahwa sang instruktur juga bernasib sama seperti dirinya.

Butuh waktu sekitar 1,5 jam lamanya untuk Dwi bisa melepaskan diri dari dalam kokpit pesawat. Beruntung 8 jam kemudian (pukul 3 sore) tim SAR menemukan Dwi dan langsung dievakuasi ke RS Siloam Gleneagles, Karawaci, Tangerang. Dwi harus menjalani 15 kali bedah konstruksi transplantasi kulit untuk mengembalikan bentuk kulit tubuhnya yang rusak. Dwi pun harus dirawat secara intensif di rumah sakit.

Setelah mengalami musibah yang sangat parah, dan luka bakar yang cukup serius, membuat rupa dan sekujur tubuh Dwi mengalami cacat permanen. Kepalanya tidak lagi bisa ditumbuhi rambut, bulu mata dan alis hilang, kedua kelopak mata tidak lagi sempurna, dan bahkan kedua daun telinga hilang. Selain itu, jari-jari tangan Dwi juga mengalami kontraktur (kekakuan) karena terbakar. Kedua siku tangan atau tulang rawannya yang juga terbakar membuat sikunya tidak bisa lagi digerakkan seperti semula. Gilbert


Sang Kekasih Tetap Menikahinya Meski Kondisi Dwi Cacat


Hampir dua tahun lamanya setelah kecelakaan, Dwi menghabiskan hari-harinya dengan keadaan yang sangat menyakitkan. Dwi mengalami putus asa, down, hilang harapan, dan tidak percaya diri karena merasa sudah tidak punya masa depan lagi. Kala itu Dwi berpikir dirinya tidak akan lagi bisa menjadi manusia yang berguna. Beruntung, Tuhan menghadirkan seorang penolong yang amat sangat berarti untuk menopang kehidupan Dwi selanjutnya. Dialah, Bethania, seorang wanita cantik yang saat ini telah menjadi istrinya dan memberi seorang putra bernama Gabriel Fredrich Laurence (6).

Perkenalan mereka sendiri terjadi di Bali, ketika Bethania yang saat itu tercatat sebagai seorang mahasiswi pada STT Jakarta sedang melakukan studi PKL-nya di Bali tahun 1995. Dwi sendiri saat itu aktif melakukan pelayanan seperti mengajar sekolah minggu dan remaja di GPIB Eklesia Bali. Melalui perkenalan singkat, ternyata hubungan mereka berlanjut sampai ke Jakarta saat Dwi menjalani pendidikan pilot tahun 1996.

Satu hal yang luar biasa bahwa ketika impian dan masa depan Dwi hancur, bahkan ketika sedang dirawat di rumah sakit, Bethania, sang kekasih yang belum lama dikenalnya itu tidak pernah sedikitpun meninggalkan Dwi. Bethania terus memberikan support pada Dwi untuk tetap bersemangat. Kendati kedatangannya ke rumah sakit selalu mengalami penolakan dari kedua orang tua dan keluarga Dwi. Saat itu mereka menganggap kehadiran Bethania hanyalah sebagai malapetaka dan pembawa sial. Namun hal tersebut tidak sedikitpun mengurangi perasaan cinta Bethania terhadap Dwi. Bahkan tak henti-hentinya Bethania berdoa dan berserah pada Tuhan demi kesembuhan Dwi .

Hingga pada akhirnya, 17 Juli 1999, dua tahun setelah kecelakaan, mereka memutuskan untuk menikah meski tanpa restu orang tua masing-masing. ”Dalam kondisi fisik saya yang seperti itu, sebenarnya bisa saja Bethania meninggalkan saya. Tetapi ternyata ketidaksempurnaan fisik saya tidak mempengaruhi tulus cintanya. Saya sangat bersyukur Tuhan menganugerahi saya pendamping hidup yang sangat luar biasa,” ucap Dwi.

Ternyata setelah menikah masalah tidak pernah berhenti menimpa Dwi, apalagi saat itu Dwi tidak mempunyai pekerjaan lagi. Usahanya untuk kembali melamar kerja selalu saja mendapat penolakan. Fisik yang tidak lagi sempurnalah alasannya. Departemen Perhubungan yang harusnya bertanggung jawab, juga menolak Dwi untuk bisa kembali bergabung didalamnya. Semua penolakan yang dialami membuat Dwi kembali down dan kehilangan harapan.

Untuk bisa bertahan hidup, Dwi hanya mengandalkan sisa-sisa uang yang didapat dari asuransi. Beruntung ketika mendapat uang asuransi, Dwi sempat membeli rumah yang kemudian dijual untuk modal usaha beternak ayam di daerah Pamulang. Tapi sayang usahanya juga tidak membuahkan hasil. Menjelang masa panen, Dwi harus kembali menerima kenyataan pahit karena ditipu rekan bisnisnya.

Sebagai manusia biasa, Dwi pun sempat marah dan kecewa pada Tuhan, ia merasa ketika dirinya berusaha setia dalam melayani Tuhan, malah masalah yang datang. Namun Dwi sadar bahwa untuk memahami rencana Tuhan itu sulit dan semuanya butuh proses yang panjang. ”Saya sendiri baru bisa memahami rencana Tuhan belakangan ini,” urai Dwi bijak. Gilbert


Sempat Ingin Bunuh Diri Namun Disadarkan oleh Orang yang Juga Terluka Bakar

Sebagai manusia biasa, Dwi sempat stres menghadapi segala permasalahan yang menimpanya. Uang habis, hutang banyak, dan belum lagi cemoohan orang. Banyak orang yang mengatakan bahwa dirinya merupakan pembawa masalah dan kesialan pada keluarga dan tidak lagi berguna untuk hidup. Rasa kecewa dan putus asa pun selalu menghinggapinya. Yang dirasakan Dwi saat itu adalah hidup seakan tak pernah lepas dari kungkungan masalah.

Rasa kecewa, putus asa, dan hilang harapan yang sangat mendalam, sempat membuat Dwi ingin segera mengakhiri hidupnya. Selama seminggu Dwi meninggalkan anak dan istri, pergi dari rumah dengan berjalan kaki tanpa arah dan tujuan yang jelas. Perjalanan Dwi kala itu sampai ke propinsi Lampung. ”Saya berharap ketika saya berjalan saya ditabrak mobil dan mati. Saya mau jalan ke daerah yang saya tidak tahu dan saya bisa mati di tempat tersebut tanpa harus merepotkan orang lain,” kata Dwi mengenang rasa putus asa yang pernah menimpanya kala itu.

Ternyata dibalik rasa keputusasaan yang dialami Dwi, Tuhan menuntunnya ke suatu tempat untuk kembali dari Lampung ke Jakarta. Suatu kali dirinya mampir ke daerah Tanjung Priuk. Sekitar jam 2 pagi, Dwi masih sempat berpikir dan berkeinginan untuk mengakhiri hidup dengan menceburkan diri ke laut. Ketika ingin melakukan hal tersebut, Dwi ditepuk oleh seseorang dan ternyata orang yang menepuknya juga orang yang pernah mengalami luka bakar sewaktu bekerja di perusahaan minyak.

Meski luka bakar orang tersebut tidak separah dirinya, namun kenyataan hidup orang itu lebih tragis dibandingkan Dwi. Orang tersebut ditinggalkan anak dan istrinya lantaran fisiknya yang tidak lagi sempurna. Bahkan sang istri tidak lagi setia dan mengatakan pada anaknya kalau bapaknya itu sudah meninggal.

Inilah yang membuat Dwi sadar dan ingin lekas kembali pulang untuk menemui anak dan istrinya di rumah. ”Mungkin orang tersebut digunakan Tuhan untuk mengingatkan saya. Saya masih memiliki istri dan anak yang sangat mencintai saya dan menanti kehadiran saya. Disitu saya menangis dan minta ampun kepada Tuhan. Saya berjanji pada Tuhan, sekembalinya saya ke rumah, saya akan lakukan apapun untuk mereka,” tandas Dwi.

Kepulangan Dwi disambut isak tangis Bethania, sang istri. Mereka pun melakukan doa bersama berkomitmen dihadapan Tuhan untuk menghadapi apapun masalah dengan bersama. Mereka yakin dan percaya kalau mereka tidak menghadapinya sendiri melainkan bersama Tuhan.

Sekembalinya Dwi ke rumah, mereka memutuskan untuk mengontrak rumah setelah sebelumnya menumpang bersama mertua di daerah Cimanggis. Dari sinilah Dwi bersama istrinya memulai babak baru dalam kehidupan rumah tangganya. Sambil menunggu datangnya pekerjaan, Dwi dan Bethania tetap aktif melayani Tuhan. Gilbert


Bertemu Pengusaha Harry Tanoesoedibyo

Di tengah proses pergulatan keras dalam hidupnya, tetap saja sebagai kepala rumah tangga Dwi masih merindukan kalau dia bisa mempunyai pekerjaan tetap. Pekerjaan menjadi satu pergumulan yang paling utama yang Dwi harapkan dari kemurahan Tuhan. Sepanjang waktu Dwi terus bergumul dalam doa agar kelak suatu waktu nanti Tuhan memberikannya pekerjaan.

Pergumulan Dwi pada Tuhan mengenai pekerjaan, dijawab Tuhan melalui kakak iparnya yang bekerja di asuransi dan menawarkan Dwi untuk bekerja sebagai tenaga marketing yang tugasnya mencari klien. Awalnya Dwi pesimis apakah dengan kondisi fisiknya yang tidak sempurna, dia bisa bekerja sebagai tenaga marketing. ”Saat itu saya berpikir kalau tawaran pekerjaan itu hanyalah tawaran kerja yang sifatnya ejekan karena untuk bekerja sebagai tenaga marketing, penampilan fisik haruslah sempurna dan pandai berbicara serta percaya diri,” kata Dwi.

Sebagai satu-satunya orang yang peduli, Bethania sebagai istri kembali terus meyakinkan Dwi untuk mau mencoba pekerjaan tersebut.

Akhirnya sekitar tahun 2004, Dwi mencoba bekerja sebagai tenaga marketing di asuransi Allianz. Dwi mengaku ketika dirinya masuk dunia marketing, banyak pelajaran yang didapatkannya. Dwi terus belajar tanpa mengenal lelah. Kendati demikian cemoohan tak pernah pupus dari hadapannya. Banyak rekan sekerjanya yang memandangnya sebelah mata karena ketidaksempurnaan fisiknya. Namun Dwi tetap tabah. Suatu keajaiban yang luar biasa terjadi. Dalam tempo 3 bulan, Dwi bisa mendapatkan 45 klien. Mengalahkan orang yang fisiknya jauh lebih sempurna dari dirinya. Sebagai penghargaan atas prestasinya, oleh perusahaan Dwi dinobatkan sebagai The Best Agent dan diberi hadiah laptop.

Bertemu Pengusaha. Seiring dengan berjalannya waktu, karir Dwi di dunia marketing semakin menanjak. Hal ini membuat Dwi merasa harus memberikan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Sambil bekerja di asuransi, Dwi mengambil kuliah di STT Jakarta. Pelayanan dan pekerjaan dilakukan seiring sejalan.

Namun demikian, Dwi merasa belum puas dengan pekerjaan yang dimilikinya. Dalam benak Dwi terfikir bahwa bekerja di dunia marketing adalah bekerja dengan sistem komisi di mana semakin banyak klien semakin banyak income. Itu sebabnya Dwi membutuhkan satu pekerjaan tetap dengan penghasilan tetap. Ini dikarenakan Dwi ingin sekali bisa membahagiakan anak dan istrinya.

Dwi pun kembali bergumul dengan Tuhan dalam doanya untuk mendapatkan status pekerjaan yang baru dengan harapan pekerjaan tersebut lebih baik dari sebelumnya. Doa Dwi kembali dijawab Tuhan. Tahun 2005 ketika Dwi diundang pelayanan oleh temannya Pdt.Yusuf Kawu di Surabaya, Dwi diajak untuk pelayanan di sebuah rumah milik keluarga Harry Tanoesoedibyo di Surabaya. Harry Tanoe sendiri adalah seorang pengusaha terkenal, bos grup MNC. Awalnya Dwi tidak pernah mengetahui siapa pemilik rumah yang akan dikunjunginya itu. Waktu itu ia hanya berprinsip, kemana Tuhan menuntunnya untuk melayani, maka di situ juga ia akan melangkah dan melakukan yang terbaik, semuanya demi kemuliaan dan kebesaran nama Tuhan.

Di rumah itu Dwi kembali memberikan kesaksian akan jalan hidup yang selama ini dijalaninya. Setelah menuturkan kesaksiannya, ternyata si empunya rumah yang tak lain adalah Harry Tanoesoedibyo tertarik dengan kisah hidup Dwi. Harry yang juga pemilik tiga stasiun TV ini mengutarakan bahwa kisah hidup Dwi bagus untuk dijadikan cerita sinetron. Ketika mendapatkan tawaran itu, Dwi hanya tersenyum. ”Saya hanya tersenyum karena, yang pertama saya tidak kenal siapa pak Harry. Yang kedua, saya sudah terlalu bosan dengan janji manis yang diberikan orang kepada saya. Itulah yang membuat saya tidak terlalu banyak berharap kala itu,” kata Dwi.

Sebelum kembali ke Jakarta, Dwi sempat bertukar nomor telepon dengan Harry Tanoe. Tapi tak disangka, satu hari setibanya Dwi di Jakarta, ia mendapat panggilan untuk menghadap Harry di kantornya di lantai 28 Gedung Bimantara, Jakarta Pusat. Hal ini membuatnya sangat terkejut karena ternyata perkataan Harry yang tadinya tidak begitu diharapkan, ternyata menjadi kenyataan dengan diproduksinya sinetron yang mengisahkan perjalanan hidup Dwi. Sinetron tersebut dibintangi oleh Marcellino Lefrand dan Amara ”Lingua”. Proses syuting pun berjalan hingga sinetron tersebut diputar di RCTI dengan judul ”Bawa Aku Terbang” pada tahun 2005. Tahun 2006 kembali diputar di RCTI untuk memperingati hari Paskah. Satu hal yang luar biasa dialami lagi oleh Dwi, kebaikan demi kebaikan terus menghampirinya, di mana ketika itu Harry Tanoe juga memberikannya kesempatan untuk bekerja di Harian SINDO (Seputar Indonesia) sebagai koordinator marketing iklan dan sirkulasi.

Sebelum bekerja di Sindo, Harry sempat berpesan agar Dwi jangan pernah sekali-kali meninggalkan pelayanan Tuhan. Hal itu pula yang membuat Dwi sangat berterimakasih pada Tuhan. ”Saya yakin apa yang saya capai saat ini semua karena campur tangan dan pertolongan dari Tuhan,” tegas Dwi dengan penuh iman. Gilbert

Pdt. Supiter Panjaitan (Gembala Jemaat GBI Pekayon)

Tuhan Punya Rencana Indah untuk Setiap Hamba-Nya

Peristiwa kehidupan yang dialami Dwi Krismawan, merupakan satu kenyataan hidup yang terbilang tragis, di mana dalam sekejap Dwi harus kehilangan cita-cita dan masa depan yang sudah sekian lama diimpikannya. Wajar sebagai manusia biasa Dwi mengalami siklus kehidupan yang naik turun, termasuk kepercayaannya kepada sang pencipta juga sempat menjadi bimbang. Hal ini dikarenakan banyak orang disekitarnya selalu memandangnya dengan sebelah mata.

Perjalanan hidup Dwi selama ini, seperti tertulis dalam kitab Yesaya 55:8-9. ”Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu dan jalanmu bukanlah jalanKu demikianlah firman Tuhan.” ”Seperti tingginya langit dari bumi demikianlah juga tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu.”

Melalui permasalahan yang ada, Tuhan ingin mengubah karakter setiap hamba yang dikasihiNya, dengan harapan supaya menjadi manusia yang lebih dewasa secara Rohani. Di balik kegagalan manusia, Tuhan sedang menyiapkan satu rencana yang sangat indah. Di balik keadaan yang baik sekalipun Tuhan senantiasa mengasihi kita. ”Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, dan itu adalah rancangan yang damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, dengan memberikan padamu hari depan yang penuh harapan.”

Seringkali manusia memiliki satu rencana, tapi jangan pernah berpikir kalau itu adalah yang terbaik buat kita. Segalanya harus dikembalikan pada Tuhan karena sebagai manusia yang jauh dari kesempurnaan, apa saja bisa terjadi diluar dugaan dan kemampuan kita. Namun percayalah, lewat proses panjang, Tuhan membuat kita belajar untuk mengerti. Dan segala rencanaNya yang sangat indah, nyata buat setiap hambaNya yang dikasihi. Gilbert


Adrie Soebono, Promotor Java Musikindo.

Created by : Gilbert

Konser yang Dipromotorinya Selalu Sukses Berkat Doa Sang Ibu


Dalam setiap langkahnya, Adrie tak pernah lupa untuk selalu meminta doa dan restu dari sang ibu. Melihat perjuangan ibunya menghidupi lima anak setelah ditinggal mati suami, membuat Adrie begitu kagum dan menyayangi sang ibu. Kini, apapun yang diminta sang ibu, ia berusaha selalu memenuhinya, termasuk membelikan 1,8 hektar tanah yang kemudian dibangun Masjid dan Yayasan di atasnya.


Sore itu (25/2) langit mulai diselimuti oleh kegelapan karena sinar matahari perlahan mulai tenggelam di ufuk barat. Di depan pintu gerbang utama studio musik Aquarius yang berada di kawasan Pondok Indah, terlihat tiga orang pria tengah berjaga-jaga. Dua di antaranya mengenakan pakaian safari berwarna hitam dan hijau muda. Satunya lagi adalah seorang satpam. “Maaf, ada yang bisa dibantu, cari siapa mas?” tanya salah seorang petugas berpakaian safari pada Realita.

Tak lama berselang dari balik sekat gerbang utama studio Aquarius yang sedikit terbuka, tampak seorang pria sedang berdiri yang mengenakan atribut serba hitam. Pria itu adalah Adrie Soebono, bos dari Java Musikindo. Adrie pun bergegas menghampiri, menjulurkan tangan, sambil mengulas senyumnya pada Realita. “Apa kabar? Apa nih yang mau diomongin?” katanya singkat mengawali pembicaraan.

Bicara soal kasih sayang ibu, bagi Adrie adalah satu hal yang memang sangat menyenangkan dan tak akan pernah habis untuk membahasnya. Terlebih Adrie adalah seorang anak yang memang semenjak kecil merupakan anak yang paling dekat dan manja dengan ibunya ketimbang dengan ayahnya sendiri.

Setelah ditelisik lebih dalam, ternyata ada satu hal yang mengawali kenapa hubungannya dengan ibunya menjadi sangat dekat. Semua itu terjadi ketika Adrie yang ingin dilahirkan ke dunia ini, berada di tengah-tengah antara hidup dan mati karena terlilit oleh tali pusar. “Dulu itu ibu bilang sama saya, kalau saya sempat tidak jadi muncul ke dunia karena kesulitan keluar akibat terlilit tali pusar. Hal itulah yang membuat kenapa ibu saya sayang banget sama saya. Begitu juga sebaliknya saya sangat sayang sama ibu,” ujar anak kedua dari lima bersaudara ini.

Bentuk kekaguman pada Titi Sri Sulaksmi, sang ibu, semakin nyata terlihat ketika pada tahun 1974, sang ayah, Soebono Mantovani yang semasa hidupnya berprofesi sebagai tentara, meninggal dunia akibat serangan jantung. Otomatis, untuk menyambung hidup dan membiayai sekolah anak-anaknya, ibunya lah yang harus bekerja banting tulang. Apalagi pekerjaannya sebagai seorang guru keterampilan tidaklah lagi bisa mencukupi. Adrie pun semakin mengagumi ibunya manakala melihat kesetiaan cinta ibunya pada sang suami yang tidak bisa tergantikan oleh siapa pun.

Padahal seingat Adrie kalau saat itu ibunya mau menikah lagi, tentunya masih bisa karena secara fisik ibunya masih cantik. Tetapi ibunya tetap setia pada janjinya yang akan membesarkan dan merawat anak-anaknya seorang diri tanpa ada campur tangan orang lain. Adrie sendiri pun tidak mengerti, dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai seorang perempuan, ibunya tetap bisa mengendalikan kelima anaknya dengan baik, dengan lima kelakuan yang berbeda pula.

Berdagang Abon. Di tengah kesibukannya sang ibu sebagai seorang guru, Adrie pun mengingat saat-saat dimana ibunya harus bekerja keras sebagai pedagang abon yang harus bolak balik Jakarta Semarang. Dimana saat berdagang abon, Adrie lah yang paling sering diajak menemani ibunya berjualan abon keliling. “Mas tahulah berapa penghasilan seorang guru zaman dahulu. Kalau tidak begini bagaimana mungkin ibu bisa menyekolahkan kelima anaknya dengan baik. Pokoknya perjuangan ibu luar biasa,” tandas Adrie.

Berangkat dari berdagang abon inilah, Adrie mengaku kalau jiwa dagangnya itu mulai tumbuh dengan sendirinya. Bahkan hingga Adrie bisa menjadi promotor hebat seperti sekarang. Sukses sebagai promotor kondang di negeri ini, tidak membuat Adrie jadi lupa akan segalanya. Adrie percaya selain karena faktor usaha dan kerja keras, ada satu hal yang melebihi dari semuanya itu. Yaitu untaian kata yang dipanjatkan pada sang Khalik dalam doa dan pengharapan yang tulus dari sang ibu, yang selalu menyertai perjalanan hidupnya. Lebih jauh lagi Adrie mengatakan kalau kesuksesan karirnya saat ini, karena Adrie merasa dirinya sangat menghargai orang yang lebih tua darinya.

Hal inilah yang selalu diajarkan sang ibu kepada Adrie, “Jangan pernah sekalipun kurang ajar sama orang tua, apalagi orang tua perempuan. Karena sekali saja melawan ibu, maka dampaknya itu akan luar biasa.” “Jangankan untuk melawan ibu kandung saya sendiri, marah sama mbo di rumah saja saya tidak pernah. Karena kalau flashback jauh ke belakang dulu itu kita bukan siapa-siapa kalau nggak ada ibu, kita hanya segumpalan darah yang dirawat dan dipelihara oleh ibu sampai kita menjadi utuh terlahir dalam rahimnya. Begitupun juga saya mengajarkan kepada anak-anak saya untuk menghargai orang yang lebih tua,” kata Adrie.

Setelah menjalani 25 tahun karirnya yang malang melintang sebagai pedagang, membuat Adrie kaya akan pengalaman hidup. Tak lupa sepanjang perjalanan karirnya Adrie selalu menomorsatukan sang ibu di atas segalanya. Apalagi dengan pengalaman tujuh tahun lamanya tinggal di Jerman, membuat mental Adrie benar-benar terbentuk. “Dulu itu sebenarnya kepergian saya ke Jerman untuk sekolah karena kebetulan paman saya, Habibie (adik ibunya/mantan Presiden RI, red) juga mau menampung di sana. Tapi karena kenakalan saya, membuat sekolah saya tidak juga selesai. Hanya sebatas sampai kelas dua saja. Apalagi saya sudah asyik berdagang dan sudah bisa menghasilkan uang, membuat saya lupa akan tugas dan tanggung jawab saya untuk sekolah,” beber Adrie seraya mengepulkan asap rokok.

Sebagai anak lelaki memang sudah sepantasnya kalau Adrie bisa menjalankan tugas dan tanggung jawabnya untuk menggantikan peran ayahnya yang sudah jauh lebih dahulu meninggalkannya. Apalgi kalau bukan memberikan apapun yang bisa membuat ibunya tersenyum bahagia. Maka, sebagai wujud cintanya pada ibu, tak heran kalau apapun yang diminta sang ibu saat ini, maka sebisa mungkin Adrie akan berusaha untuk memenuhinya.

Agama apapun mengajarkan setelah menyembah Yang Maha Kuasa, maka selanjutnya kita menyembah ibu, baru kemudian ayah. Sampai sekarang pun jika Adrie mau melakukan konser, terlebih dahulu ia akan selalu meminta doa restu dari ibunya agar semuanya berjalan lancar. Sebut saja beberapa konser yang dipromotorinya yang terbilang sukses di Indonesia seperti Westlife, The Black Eyed Peas, Bjork, Maksim, Norah Jones, Muse, dan lain sebagainya. Tidak hanya itu saja, kemanapun Adrie pergi dan apapun yang dilakukannya, ia selalu mendahulukannya dengan memohon doa dari ibu. Adrie pun sangat sepakat kalau surga itu ada di bawah telapak kaki ibu.

Meski usia Adrie kini sudah 54 tahun, tetapi Adrie masih sepenuhnya menjaga kesantunan pada ibunya yang kini telah berusia 80 tahun. Hal itu juga diajarkannya kepada ketiga anaknya. Kasih sayang Adrie pun tidak hanya ditujukan kepada ibu kandungnya saja, tetapi juga pada mertuanya yang selama ini tinggal di Belanda (saat wawancara berlangsung, sang mertua sedang berada di rumah Adrie di kawasan Pondok Indah, red). “Begitu juga sebaliknya, Chrisye, istri saya juga sangat menyayangi ibu saya apa adanya seperti dia menyayangi ibunya sendiri,” tutur Adrie.

Bagi Adrie, tidak sulit untuk membuat ibunya menjadi bahagia. Pasalnya, hanya dengan sepenggal perhatian kecil, bagi sang ibu itu sudah lebih dari cukup dan membuatnya merasa sangat senang. Hal tersebut dilakukan Adrie setiap saat dengan cara sesering mungkin menelepon. Jadi, kebahagiaan tidak selalu harus ditunjukkan dengan materi. “Ibu saya paling marah kalau dia kurang diperhatikan. Misalnya saja ketika saya telepon dia menangis. Saya tahu, dia pasti sedang minta diperhatikan. Maka saya akan datang ke rumahnya (di kawasan Panglima Polim, red) dan saya peluk dia. Saya kecup keningnya dan saya tidur di dekatnya. Dengan begitu dia sudah merasa sangat senang,” tutur Adrie. “Nggak ada harta yang lebih bernilai selain memberikan perhatian. Walau terkadang banyak orang menganggapnya remeh. Sampai sekarang saya masih seperti anak kecil kalau sedang berada dekat ibu. Begitu juga yang terjadi dengan istri dan anak saya. Semuanya kami menghargai orang yang sudah melahirkan, merawat, dan membesarkan kita,” pungkasnya. Gilbert


Sidebar:

Hadiahkan Tanah 1,8 Hektar untuk Sang Ibu

Tahun 2004 lalu, bertepatan dengan hari ulang tahun sang ibu yang ke-76, sang ibu meminta dibelikan sebidang tanah untuk dibangun Masjid. Bagi Adrie saat itu selagi dia mampu dan ada rezeki, maka dia akan memberikannya. Maka dibelilah sebidang tanah seluas 600 meter kepunyaan Alm. Chrisye di daerah Jombang, Bintaro , Jakarta Selatan. “Ibu saya bilang kalau Masjid ini akan dipersembahkan untuk masyarakat sekitar dan juga sebagai rasa cintanya pada sang suami yang sudah 34 tahun lamanya meninggalkannya. Itu sebabnya Masjid itu dinamakan Masjid Soebono Mantovani (nama alm. suaminya, red),” ujar Adrie penuh kekaguman pada sang bunda.

Seiring dengan berjalannya waktu, sang ibu pun terus meminta dibelikan kembali tanah kosong yang berada di sekitar Masjid tersebut. Sebagai wujud rasa cintanya, Adrie mengiyakan permintaan ibunya tersebut. Tak heran tanah tersebut hingga saat ini telah menjadi seluas 1,8 hektar. Lahan yang luas tersebut rencananya untuk membangun sekolah yang berbentuk yayasan. Mulai dari SD sampai dengan SMU yang ditujukan untuk orang yang kurang mampu. Gilbert


Adrie Subono (Promotor Java Musikindo)

Created by : Gilbert

Selama Puluhan Tahun Rutin Melaksanakan Kebaktian dan Pengajian di Rumahnya.

Banyak orang beranggapan, rumah tangga yang dilandasi dengan perbedaan keyakinan, akan menimbulkan ketidakcocokan di kemudian hari. Tapi tidak demikian halnya dengan rumah tangga promotor kondang, Adrie Subono dan Chrisye Frans. Bos Java Musikindo ini mengaku selama 30 tahun kehidupan rumah tangga mereka, tidak pernah menghadapi permasalahan yang berkaitan dengan prinsip kepercayaan. Bagaimana itu bisa terjadi?


Berbeda itu indah,” kalimat itulah yang kerap kali terucap dari mulut Adrie ketika ditanya bagaimana mungkin dirinya selaku kepala keluarga, tetap bisa menjaga keharmonisan rumah tangganya dengan dua keyakinan yang berbeda. Adrie mengaku sejak pertama kali memutuskan untuk menikah, dirinya maupun Chrisye, istrinya telah menyadari kalau mereka berbeda keyakinan. Tentunya hal tersebut menjadi suatu masalah yang sulit untuk dipecahkan. Apalagi kalau melihat latar belakang keluarga besar Adrie yang berbasis budaya jawa dengan pola kehidupan Islami yang kental di dalamnya. Sebaliknya juga demikian, sang istri berasal dari keluarga besar Manado Belanda, yang juga sangat menjunjung tinggi nilai-nilai ke-Kristen-an.

Atas dasar landasan cinta yang kuat, baik Adrie maupun Chrisye tak menghiraukan adanya perbedaan tersebut. ”Buat saya, yang paling terpenting adalah saya mencintai Chrisye, sebaliknya Chrisye juga mencintai saya. Saya rasa itu sudah mewakili dari segalanya. Lagian yang menjalaninya nanti adalah kita berdua, bukan siapa-siapa,” ujar bapak tiga anak ini. Beruntung pihak keluarga besar Chrisye sangat berpikiran demokratis sehingga pernikahan pun bisa dilangsungkan dengan ritual gereja, dan pernikahan mereka pun tercatat di Catatan Sipil.

Kala itu Adrie mengaku kalau dirinya dan Chrisye memang tengah dimabuk asmara. Jadi, apa pun hambatannya, semuanya terasa menjadi mudah dan indah kalau dijalani berdua. Kendati keduanya kala itu sedang dimabuk asmara, tetapi tidak membuat Adrie maupun Chrisye menjadi tidak bertanggung jawab akan pernikahannya. Semuanya dipertanggungjawabkan secara moril di hadapan sang Khalik. Terbukti, selama 30 tahun berumah tangga, tidak pernah sedikit pun terjadi pertikaian dalam rumah tangganya yang berkaitan dengan agama dan kepercayaan yang dianut oleh masing-masing.

Menikah Diam-Diam. Kendati pernikahan mereka berjalan lancar, tetapi ada satu penyesalan yang tak bisa dilupakan Adrie dimana pernikahan tersebut dilakukan Adrie secara diam-diam, tanpa sepengetahuan ibunya. Pernikahan itu dilangsungkan dalam sebuah pemberkatan nikah secara kudus di hadapan majelis dan jemaat Gereja. Bagi Adrie, menikah dengan orang yang berbeda keyakinan bukanlah menjadi suatu masalah. Tetapi yang menjadi masalah adalah, ketika Adrie melakukan satu kebohongan, apalagi dengan status ibunya yang kala itu sudah menjadi Hajah. Wajar kalau awalnya ketika mengetahui pernikahan Adrie itu, sempat membuat ibunya kecewa.

Bisa dibayangkan betapa kecewanya seorang ibu, jika melihat anaknya melangsungkan pernikahan secara diam-diam. Padahal ibunya masih ada. Ditambah lagi dengan status keluarga besar Habibi yang terkenal dengan sifat kereligiusannya. Namun sikap dan jiwa besar yang dimiliki ibu sayalah, yang membuat ibu saya, seketika itu juga bisa memaafkan dan merestui pernikahan saya dengan Chrisye,” ungkap Adrie.

Bagi keponakan dari mantan presiden BJ.Habibie ini, sepanjang hidupnya tidak pernah mempermasalahkan apa yang namanya keyakinan. Kalau memang keyakinan itu dijalani sesuai dengan panggilan hati, maka lakukanlah sebaik mungkin dan jangan pernah sedikitpun mengusik keyakinan orang lain. Sebab dari sikap seperti ini, nantinya akan timbul satu sikap untuk saling menghargai. Selain itu, Adrie juga menambahkan, masalah akan ada apabila kita mempermasalahkan dan membesar-besarkannya. Tetapi sebaliknya, masalah tidak akan pernah ada kalau tidak pernah dipermasalahkan dan diributkan secara sengaja.

Kini Adrie tengah menuai kenikmatan hidup dari apa yang sudah ia tabur selama 30 tahun membangun biduk rumah tangga bersama istrinya. Kondisi seperti inilah yang sekarang dirasakan dalam keluarga Adrie. Ditambah lagi belum lama ini puteri sulungnya, Melanie Subono kembali menikah untuk kali kedua, dengan I Gusti Ngurah Agus Wijaya, yang beragama Hindu. Artinya, sekarang ini dalam keluarga Adrie ada tiga keyakinan yang dianut yaitu Islam, Kristen, dan Hindu.

Sikap saling menghargai dan toleransi beragama yang diterapkan Adrie bersama Chrisye istrinya, dapat dilihat dari adanya aktivitas keagamaan yang secara rutin dilakukan. “Di rumah saya, sejak puluhan tahun yang lalu ada kebaktian, buat saya tidak masalah. Karena kalau sedang kebaktian biasanya kan ketika doa penutup, si Pendeta akan mendoakan yang empunya rumah. Di situ biasanya saya juga disuruh ikut bergabung. Namanya orang mau mendoakan saya, ya saya sih ikut saja. Siapa sih yang tidak mau didoakan?” tanyanya. ”Begitu juga ketika di rumah saya sedang ada pengajian. Istri saya juga ikut nimbrung sekadar untuk menghargai. Semuanya berjalan mengalir apa adanya,” papar Adrie.

Toleransi Beragama. Sikap toleransi beragama seperti ini, bukan hanya dilakukan pada hari biasa, melainkan saat menjelang perayaan hari-hari besar. Seperti ketika Adrie melakukan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Istri dan anaknya juga menghargai ritual ibadah puasa yang tengah dijalankan Adrie. ”Istri saya kalau saya sedang puasa, dia tetap menyediakan hidangan puasa dan menemani saya saat berbuka dan sahur. Malah terkadang dia juga suka ikutan puasa. Begitupun sebaliknya saat istri saya merayakan hari Natal, saya juga ikut merayakan kebaktian di rumah. Keluarga saya ini benar-benar sebuah wujud kedamaian dalam beragama. Jadi kalau hidup sudah seperti ini, perbedaan seperti apalagi yang harus diributkan,” tambah Adrie dengan penuh syukur.

Tidak hanya itu saja, di dalam rumah Adrie pun terdapat banyak hiasan ataupun simbol keagamaan. Baik itu yang berbentuk salib ataupun kaligrafi Arab. ”Setiap hari dalam kamar mandi saya, terdapat renungan saat teduh, yang isinya memberikan gambaran hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan, dengan berbagai kebesaran-Nya. Itu yang buat istri saya. Meskipun kami disatukan dalam keyakinan yang berbeda, tetapi saya sangat bersyukur, karena saya diberikan oleh Tuhan seorang istri yang pondasi kehidupan rohaninya, begitu luar biasa. Dia juga yang selalu mengingatkan saya, tanpa kenal lelah untuk saya tetap setia dalam beribadah sesuai dengan ajaran agama dan kepercayaan yang saya anut selama ini,” tutur Adrie.

Sementara itu, di dalam keluarga Adrie pun menerapkan prinsip demokrasi bagi ketiga anaknya, yaitu Melanie, Christy, dan Adrian, untuk memilih agama yang diyakininya. "Yang jelas buat saya, pada dasarnya semua agama itu sama. Tidak ada ajaran agama manapun yang mengajarkan sesuatu yang buruk untuk umatnya," tandas Adrie. Yang jelas, kata Adrie, saling menghormati dan bisa meredam ego masing-masing adalah awal mula perjalanan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan yang lebih romantis. Gilbert

Adrie Subono :

Created by : Gilbert

Tuhan menyelamatkan saya dari bom Kuningan”

Siapa pun takkan bisa menyangka kapan datangnya musibah. Seperti juga peristiwa yang pernah menghampiri kehidupan Adrie Subono. Masih untung, Tuhan menyelamatkannya dari dasyatnya ledakan bom JW Marriot, Kuningan, tiga tahun lalu. Bagaimana Adrie Subono yang dikenal sebagai promotor handal ini bisa lolos dari tragedi ledakan bom tersebut?


Selasa (22/01) pagi, hujan deras mengguyur sebagian besar Jakarta. Akibatnya, banyak kegiatan terpaksa tertunda. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pengendara sepeda motor yang berhenti untuk sekadar mencari tempat berteduh sambil menunggu hujan reda. Kendati hujan turun sangat deras, pukul 09.30 WIB, Adrie Subono si empunya Java Musikindo sudah tiba di kantornya.

Maklum, saat ini ia sedang sibuk mempersiapkan dua rangkaian konser yang akan digelar dalam waktu yang berdekatan. Yakni konser grup band asal Amerika Hoobastank dan band asal Inggris, Muse. Meski sangat sibuk, Adrie masih meluangkan waktunya untuk menerima Realita di kantornya.

Sambil duduk di atas sofa berwarna cokelat gelap, pria yang sering mendatangkan artis manca negara ini menceritakan kisah tragis yang hampir saja merengut nyawanya. Tragedi bom Kuningan di Hotel JW Marriot, Agustus 2003 lalu.

Seperti biasanya, Selasa (5/8/2003) siang, Adrie datang ke kantornya di lantai dua Plaza Mutiara, kawasan Sentral Segitiga Emas, Kuningan, Jakarta Selatan. Saat itu kondisi fisiknya kurang sehat karena sedang menderita asam urat. Ketika melangkahkan kaki keluar dari rumahnya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, tak sedikit pun firasat bahwa hari itu ia akan mengalami musibah dasyat.

Setelah beberapa jam berada di kantor, tiba-tiba bom meledak di Hotel JW Marriot. Siang itu merupakan hari paling menakutkan sepanjang perjalanan hidup Adrie. Bom yang mengguncang Hotel JW Marriott merupakan ledakan bom kelima di Jakarta dalam tahun 2003. Saat itu waktu menunjukkan pukul 12.40 WIB. Tiba-tiba suara menggelegar terdengar disertai dengan guncangan keras membuat orang-orang di dalam hotel itu kaget, shock dan berlarian keluar. Lampu di Restaurant Syailendra berjatuhan, dinding kaca rontok. Di ujung jalan dekat Plaza Mutiara yang bersebelahan dengan Hotel JW Marriott, tampak berderet taksi yang menunggu penumpang. Sehingga menyebabkan banyak korban mengalami cedera berat dan ringan.

Bukan hanya itu, kaca-kaca di Menara Rajawali yang bersebelahan dengan hotel itu tampak pecah meski tak separah Hotel JW Marriott dan Plaza Mutiara. Di sekitar gedung itu juga banyak terdapat sejumlah kantor kedutaan asing. Seperti Peru, Denmark, Swedia, Norwegia, dan Finlandia. Akibatnya, banyak pegawai kedutaan yang trauma dan minta pulang ke tanah airnya.

Getaran yang sangat keras tersebut juga membuat kaca-kaca kamar di hotel itu hancur berantakan. Hal serupa juga terjadi di Kantor Java Musikindo yang terletak di lantai dua Plaza Mutiara. Adrie Subono, sang pemilik Java Musikindo yang biasanya berada di kantornya, ternyata lolos dari maut. Karena saat ledakan terjadi, dia sedang ke kamar kecil.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, kalau saat itu ia akan melewati kejadian yang mengenaskan. Namun Tuhan masih menyayanginya Adrie, sehingga ia masih diselamatkan dari musibah merenggut puluhan nyawa itu. Padahal, siang itu tepatnya sekitar jam 12.40 WIB, seperti biasa Adrie selalu ke Restaurant Syailendra di Hotel JW Marriot untuk makan siang. Restaurant ini memang selalu ramai saat makan siang. Baik dari kalangan eksekutif maupun ekspatriat. Karena selain menyajikan aneka hidangan internasional, restaurant itu juga menyajikan menu lokal.

Namun hari itu, entah mengapa Adrie tak keluar untuk makan siang. Hari itu ia habiskan hanya untuk bolak-balik ke kamar kecil. Pasalnya Adrie sedang dianjurkan dokter untuk banyak minum air putih untuk mengurangi penyakit asam urat yang dideritanya. Apalagi suasana kantor saat itu juga sedang sepi. Yang ada dikantor hanya beberapa orang. Karyawan yang lainnya tengah istirahat makan siang.

Saat ia keluar dari ruang kerjanya menuju toilet, tiba-tiba terdengar ledakan dasyat. Ledakan tersebut membuat Adrie terkejut dan telinganya seperti mau pecah. Lantaran kaget, Adrie hanya bisa terpaku, karena ruangan menjadi gelap gulita. Napasnya sesak karena asap hitam yang menggumpal dan menyebar ke seluruh ruangan. ”Kalau saja saya tidak pergi ke toilet, mungkin sakarang saya sudah tidak ada lagi. Karena ledakan bom tersebut hanya berselang dua menit setelah saya keluar dari ruangan kerja. Dan buat saya ini sungguh satu mukjizat yang luar biasa yang diberikan Allah pada saya. Karena akibat ledakan bom tersebut, ruang kerja saya porak poranda,” ujar pria yang senang mengenakan pakaian serba hitam ini.

Dalam keadaan bingung, Adrie tiba-tiba ditarik oleh salah seorang karyawannya untuk segera turun lewat tangga darurat. Di loby, suasana masih gelap. Ketika berdiri di loby Plaza Mutiara, Adrie mendengar suara rintihan. Saat Adrie mau menghampiri korban yang kesakitan, sebuah ledakan kembali terjadi. Namun kali ini bukan bom melainkan dari mesin mobil taksi yang meledak akibat terkena campuran bensin.

Adrie merasa hari itu Allah benar-benar melakukan mukjizat atas dirinya. Bukan hanya Adrie yang diselamatkan Allah hari itu, tetapi seluruh karyawannya. Hanya ada satu dua orang yang terluka akibat pecahan kaca. Yang lebih mengherankan lagi, saat ledakan terjadi, Christy, putri keduanya yang berkerja dan berkantor bersamanya, entah dengan alasan, apa tiba-tiba meminta izin untuk tidak masuk kantor. Padahal sepengetahuan Adrie, Christy paling rajin masuk kantor. Selain itu, Christy memang rajin membawa bekal dari rumah untuk makan siang di kantor. Artinya, kalau istirahat makan siang pun Christy selalu berada di kantor.

Benar saja. Setelah kejadian itu, Adrie melihat ruang kerja anaknya di pokjok belakang porak poranda. Banyak potongan kaca berserakan bahkan ada yang menancap dan menembus kursi yang biasa diduduki Christy. ”Bagaimana pula jadinya kalau hari itu Christy masuk kantor dan berada di dalam ruangan kerjanya? Saya pasti tiak sanggup untuk membayangkannya,” Tanya Adrie sambil mengisap sebatang rokok kretek. Gilbert


Enam Bulan, Adrie Hidup dalam Keadaan Trauma

Bom Marriot menyisakan trauma bagi Adrie. Hal ini terlihat dari pribadi Adrie yang drastis berubah. Adrie yang tadinya dikenal sebagai pribadi yang tegar dan pemberani, berubah penakut dan tidak suka berada di tempat ramai. Hanya menderas bunyi keras sedikit saja ia pasti melompat. Merasa terus diburu trauma, Chrisye sang istri berusaha mencarikan tempat hiburan terbaik buat Adrie. Salah satu caranya yaitu dengan membawanya jalan-jalan ke mal. Namun ia hanya bertahan beberapa menit. Baru menginjakkan kaki di mal ia langsung minta pulang.

Hal yang serupa masih ditunjukkan Adrie ketika ia bersama Chrisye mencoba masuk bioskop. Namun reaksinya sama saja. Adrie tidak bisa bertahan lama di dalam bioskop. Mendengar suaranya menggelegar, membuatnya terkejut dan ketakutan. Karena yang ada di dalam pikiran Adrie kala itu, suara yang dihasilkan sama kerasanya dengan ledakan bom. Ketika berada di dalam pesawat terbang pun, Adrie masih ketakutan. Saking takutnya, Adrie sampai menangis sambil menjambak rambutnya sendiri. Kadang ia menangis sambil memeluk Chrisye istrinya sekeras mungkin. Hal ini terus berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula Adrie menghentikan segala aktivitasnya.

Tingkahlaku Adrie seperti ini membuat banyak temannya tidak percaya. Karena selama ini Adrie dikenal sebagai pribadi yang tegar. Apalagi terkait dengan profesinya sebagai promotor handal yang kerap menghadapi massa yang mencapai puluhan ribu orang. ”Setegar apa pun, setiap orang yang melihat kejadian waktu itu bakal keder juga,” kata ayah dari Melanie Subono, Christy Subono dan Adrian Subono ini.

Sebagai jalan keluar untuk menghilangkan trauma, dokter menyarankan agar Adrie dibawa ke tempat kejadian perkara. Karena menurut dokter yang memeriksa Adrie mengatakan, bahwa proses pemulihannya harus datang dari dirinya sendiri. Memang berat bagi Adrie untuk melakukan hal itu. Tetapi karena ia sudah bertekad untuk sembuh, Adrie pun memberanikan diri kembali melihat keadaan yang sebenarnya. Benar saja, ketika Adrie melakukan apa yang disarankan dokter, secara perlahan tapi pasti, ia sembuh dari trauma tersebut. Kondisi kejiwaan pria yang gemar berolahrga ini pun berangsur-angsur pulih kembali.

Sebagai seorang promotor musik, tidak mungkin kalau saya terus dalam keadaan seperti ini. Apalagi kalau sampai mengorbankan profesi saya sebagai promotor hanya karena ulah teoris. Untuk itu, saya bertekad agar bisa terlepas dari trauma dan rasa takut berlebihan yang saya alami selama ini,” tekad keponakan mantan Presiden BJ Habibie ini.

Sebagai manusia biasa, wajar kalau Adrie merasa kesal pada pelaku teror. Ketika pelaku tertangkap dan dilakukan proses rekonstruksi, Adrie ingin sekali menghajarnya. ”Waktu proses rekonstruksi berlangsung, saya sangat jengkel melihat wajah pelaku. Apalagi kalau melihat raut wajahnya yang tak seidkitpun menunjukkan rasa bersalah. Rasanya saya ingin sekali menghajarnya dengan tangan saya sendiri,” geram pria kelahiran Jakarta, 11 Januari 1954 ini.

Adrie mengatakan, bagaimana dirinya tidak emosi melihat kelakuan teroris yang terlewat batas. ”Saya yang tidak cacat saja sangat kesal terhadap pelaku, apalagi korban lainnya yang cacat atau yang ditinggalkan anggota keluarganya akibat ledakan bom tersebut,” katanya dengan suara berapi-api.

Bisa dibayangkan, betapa hancur perasaan para korban. Walaupun hidup, tetapi cacat seumur hidup. Mereka tidak bisa lagi melakukan aktivitas seperti biasanaya karena bukan hanya fisik yang terluka, tetapi juga batin ikut terluka. Karena merasa sebagai bagian dari korban peledakan bom JW Marriot, Adrie bersama korban lainnya ikut membentuk komunitas yang diberi nama forum 58 yang berjumlah sekitar 50-an orang.

Sampai sejauh ini F-58 masih sering berkumpul, bahkan terakhir berkumpul bersama para korban dan keluarga korban bom Kedutaan Australia, sekedar untuk share saja,” tuturnya. Bagi Adrie, sebagai korban yang diselamatkan oleh Allah SWT, ia ingin mengurangi beban kesedihan bagi mereka yang ditinggal anggota keluarga akibat ledakan bom tersebut. Gilbert


Bersyukur dengan Mendekatkan Diri pada Allah SWT

Sebagai ucapan syukur Allah SWT atas keselamatan yang diberikan Allah kepadnya, Adrie semakin bijak dalam menghadapi segala permasalahan dalam hidupnya. Belum lama ini Adrie juga diberi peringatan atas penyakit yang tidak jelas dideritanya. Pasalnya, pembawaan Adrie kala dirawat di RS Pondok Indah beberapa waktu lalu, tidak jauh berbeda dengan yang ia alami ketika selamat dari tragedi bom JW Marriot.

Selama lima hari dirawat di RS Pondok Indah, saya selalu mengigau. Bahkan saya melihat semua orang di sekitar saya seperti tuyul. Makanya banyak orang menyangka saya ini seperti orang mabuk atau habis ngedruggs,” ucap putra kedua dari lima bersaudara pasangan Alm. Purn Brigjen. Subono Mantovani dan Titi Sri Sulasmi ini.

Padahal menurut dokter, dari hasil medical chek dirinya tidak terkena penyakit apa-apa. Itu sebabnya Adrie merasa hal ini merupakan peringatan dari Allah. Karena Adrie masih membandel dengan tidak menjalankan perintah-Nya.

Sebelumnya, sudah ada peringatan yang lebih serius atas dirinya. Selain selamat dari bom Marriot. Ia juga mengalami ujian ketika rumah tanggga putri sulungnya Melanie Subono dengan Radja Simatupang harus berakhir pada oktober 2004 lalu. Setelah itu menyusul putusnya tali cinta antara putri keduanya, Christy dengan pesinetron Dimasa Seto.

Bagi Adrie, apa pun persoalan yang menyangkut keluarga, otomatis akan membuatnya terpukul. ”Buat saya, keluarga adalah galanya. Makanya kalau ada permasalahan menyangkut anak-anak saya, pasti saya merasa sangat sedih dan terpukul. Karena saya hidup, kerja, dan cari makan dicurahkan untuk anak dan istri saya. Orang tua mana yang tidak sedih, jika melihat anaknya mengalami kegagalan,” katanya balik bertanya.

Mencari Allah. Sekali waktu sepulangnya Adrrie dari rumah sakit, ia melihat brosur umrah. Ia kemudian berjanji dalam hati akan umrah. Semua kejadian ini dianggap sebagai hidayah yang didapat selama hidupnya. Sejak itu Adrie mulai mendekatkan diri pada Allah. Peristiwa ini terjadi pada awal tahun 2006 lalu.

Ia mulai rajin berpuasa dan menjalankan shalat lima waktu. Walaupun terkadang ia merasa belum sempurna, tetapi Adrie selalu berusaha melakukannya sebaik mungkin. Terbukti, tahun lalu ia melakukan shalat taraweh dan shalat tahajud sampai penuh. Adrie sendiri baru benar-benaer merasakan nikmatnya merayakan hari Idul Fitri pada Lebaran kemarin.

Bagi saya, beribadah itu sesuatu yang tidak bisa dipaksakan dan harus dilakuan dengan penuh keyakinan, bahwa itu memang kita harus dilakukan. Semuanya ada hikmah. Dahulu saya termasuk orang yang sulit tidur. Kalau mau tidur, selalu di atas pukul 01.00 WIB. Namun sekarang, saya bisa tidur pukul 22.00 WIB kalau tidak ada kegiatan lagi. Karena paginya, saya sudah harus bangun untuk shalat subuh,” jelasnya.

Adrie berasal dari keluarga yang memiliki tradisi agama cukup kuat. Ibunya Titi Sri Sulasmi seringkali mengingatkan Adrie untuk shalat dan berpuasa. Bukan hanya itu, meski Adrie sendiri hidup dalam keluarga yang memiliki dua keyakinan yang berbeda, tetapi Chrisye istrinya selalu mengingatkan Adrie untuk shalat. ”Semua ini sungguh anugerah yang luar biasa. Meski saya hidup dalam dua keyakinan yang berbeda, tetapi kami bisa saling menghargai. Saat pengajian berlangsung, istri saya mengenakan kerudung. Dan saya sangat merasakan sungguh betapa indah perbedaan itu kalau kita bisa saling menghargai,” ujarnya.

Sebagai aplikasi atas kehidupan religius yang kini sedang dijalaninya, Adrie membentuk kelompok pengajian yang diadakan setiap bulan di rumahnya, bilangan Pondok Indah. Kelompok pengajian tersebut diberi nama Kopaja, kepanjangan dari Kelompok Pengajian Java. Anggotanya terdiri dari para artis, wartawan dan warga sekitar. Gilbert