Kamis, 05 Februari 2009

Pasha “Ungu”

By : Gilbert

Menciptakan Lagu Religi Berdasarkan Pengalaman Hidupnya yang Kelam

Pada awalnya, kepergian Pasha ke Jakarta adalah untuk melanjutkan sekolah. Namun siapa sangka di kota Jakartalah nasib Pasha ditentukan. Jatuh bangun kehidupan harus dilaluinya. Terjerat narkoba hingga menjadi pengamen juga harus dilakoninya. Bagaimana kisah perjalanan hidup Pasha hingga bisa lepas dari jeratan narkoba dan sukses sebagai penyanyi seperti saat ini?


Cari siapa Om?” tanya seorang bocah polos yang siang itu tengah asyik bermain di teras depan rumahnya ketika melihat kedatangan Realita. Sejurus kemudian bocah tersebut langsung berteriak, “Ayah ada tamu,” sambil bergegas masuk ke dalam rumah menghampiri sang ayah. Bocah berusia tiga tahun itu tak lain adalah Kiesha Putra Alvaro Sigit, putra sulung Pasha “Ungu”. Tak lama berselang, Pasha yang kala itu mengenakan sarung dan T-shirt putih, menghampiri Realita dan mempersilahkan masuk.

Sambil memangku si sulung dan menikmati secangkir kopi, pria yang bernama asli Sigit Purnomo Syamsuddin Said ini pun mulai bercerita tentang perjalanan hidupnya dalam meniti karir.

Cerita bermula pada saat Pasha lulus dari SMA Negeri Donggala Sulawesi Tengah pada tahun 1997. Waktu itu Pasha memutuskan merantau ke Jakarta untuk meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi. Pasha memang memiliki keinginan untuk bisa kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Namun Pasha akhirnya mengurungkan niat itu setelah mendengar banyak informasi yang mengatakan bahwa jika kuliah di IKJ itu membutuhkan mental yang kuat. Karena nantinya setiap mahasiswa yang baru masuk akan digojlok habis-habisan oleh seniornya. Hal itulah rupanya yang membuat mental Pasha langsung down. Maklum saja saat itu Pasha masih termasuk orang yang lugu dan belum siap menghadapi hal tersebut.

Batal kuliah di IKJ ternyata Pasha memilih jalur kuliah yang aman yaitu di ABA-ABI, Menteng-Cikini, Jakarta Pusat. Kebetulan ketika di SMA, Pasha juga mengambil jurusan bahasa. Sedikit banyak kuliahnya tersebut masih berhubungan dengan masa SMAnya dulu.

Selama kuliah di Jakarta, Pasha tinggal di satu rumah kost di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat. Banyak juga mahasiswa lainnya yang menempati kost tersebut. Selain letaknya yang strategis, rumah kostnya itu juga dekat dengan kampus. Menurut Pasha, lingkungan tempat tinggal kostnya itu memang terbilang sangat rawan dan rentan sekali dengan yang namanya kejahatan, mulai dari minum-minuman keras sampai kepada ancaman bahaya narkoba.

Sebagai anak perantauan yang mempunyai banyak mimpi, tentu saja Pasha tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya yang sudah bersusah payah membiayai kuliah. Pasha tetap pada tujuan awal yaitu melanjutkan pendidikan hingga selesai. Pasha sendiri sudah ditanamkan pendidikan agama oleh orang tuanya saat di Donggala. Diharapkan modal pendidikan agama ini bisa membentengi Pasha dari hiruk pikuk kehidupan kota Jakarta yang terbilang rawan.

Mulai Kecanduan Narkoba. Awalnya, Pasha memang tidak terpengaruh akan gaya hidup muda-mudi di kota Jakarta. Namun lama kelamaan benteng pertahanan Pasha mulai goyah. Apalagi lingkungan tempat tinggal kost Pasha saat itu, sangat banyak berperan dalam memberikan perubahan yang luar biasa dalam dirinya. Pasha yang tadinya dikenal sebagai sosok pendiam berubah menjadi sosok yang gaul dan memiliki banyak teman. Sayangnya Pasha justru terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak sehat. Pergaulan tersebut menjerat Pasha masuk ke dalam lingkaran orang-orang pemakai narkoba.

Selama kurun waktu lima tahun (1997-2002) Pasha terjerembab dalam lingkaran hitam yang membuat cita-cita dan angannya hancur seketika. ”Awalnya gue memang coba-coba karena ditawari sama teman gue. Karena perasaan nggak enak, akhirnya gue terima tawaran tersebut. Tapi lama kelamaan tanpa disadari, gue juga ikut hanyut dan menikmati barang haram tersebut,” tutur Pasha.

Seiring dengan berjalannya waktu, semakin hari Pasha semakin asyik dalam dunianya. Berbagai jenis narkoba mulai dari yang berjenis pil sampai dengan hisap seperti ganja, putaw, hingga shabu-shabu pernah menjadi konsumsi rutin Pasha sehari-hari.

Melupakan Tuhan. Pasha yang tadinya taat beragama, selama lima tahun masuk dalam lingkaran setan, akhirnya lupa akan segalanya, termasuk dalam hal beribadah. Padahal dahulu ketika masih tinggal bersama kedua orang tuanya di Donggala, Pasha tidak pernah satu kalipun meninggalkan shalat lima waktu. Pasalnya, untuk urusan agama, kedua orang tua Pasha sangat ketat. Sejak kecil, Pasha dan kesembilan saudaranya yang lain sudah ditanamkan nilai agama yang kuat.

Kewajibannya sebagai mahasiswa juga terabaikan. Pasha sering bolos kuliah dan lebih mementingkan bergaul ketimbang mengikuti jam kuliah. Hingga akhirnya Pasha harus putus kuliah.”Jujur saja, kenikmatan narkoba memang membuat gue rusak dan lupa akan segalanya. Yang lebih parahnya lagi, hubungan gue dengan sang Khalik juga jadi ikutan rusak. Bisa dibilang waktu itu gue memang telah benar-benar melupakan Tuhan. Hubungan gue sama orang tua selama gue tinggal di Jakarta juga menjadi lost contact. Soalnya bokap gue itu sangat percaya dengan apa yang gue lakukan di Jakarta,” ujar Pasha yang pernah menyabet gelar juara II dalam lomba Adzan se-Sulawesi Tengah.

Selama tinggal di Jakarta, setiap bulannya Pasha memang selalu rutin dikirimi uang oleh orang tuanya yang bekerja sebagai wiraswasta di Donggala. Namun uang kiriman tersebut habis tidak jelas juntrungannya. Selain untuk membeli narkoba, Pasha juga sering menghambur-hamburkan uang kiriman orang tuanya. Alhasil, uang bulanan yang rutin dikirim selalu tidak cukup. Malu jika harus terus meminta dari orang tua, Pasha pun mulai mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya yaitu menyanyi.

Jadi Pengamen. Setiap hari selama tinggal di Jakarta yang dilakukan Pasha hanyalah mengkonsumsi narkoba. Pada waktu itu Pasha lebih mementingkan mengkonsumsi narkoba daripada makan. Bayangkan saja, ketika bangun pagi, yang dicarinya bukan sepiring nasi untuk sarapan pagi, tetapi serbuk shabu, putaw, atau lintingan ganja. Begitu juga saat siang maupun menjelang malam hingga paginya lagi. ”Pokoknya, dimana ada kesempatan, di situ gue akan memakai narkoba,” ungkap Pasha.

Bersama dengan teman-teman gaulnya waktu itu, untuk mendapatkan uang Pasha mulai mengamen di kawasan Blok M dan Manggarai. Hampir sebagian besar waktunya dihabiskan untuk nongkrong bersama teman-temannya di terminal Manggarai. Di sana Pasha memang banyak mendapatkan teman. Sehingga kalau untuk urusan makan, Pasha hanya tinggal mengandalkan teman-temannya yang berdagang di terminal Manggarai tersebut walau harus mengutang. ”Kalau sekarang gue lihat anak-anak nongkrong di Manggarai, gue suka terharu karena mengingat masa lalu gue yang suram,” ujar Pasha.

Uang yang didapatkan Pasha dari hasil mengamen pada waktu itu memang cukup untuk sekadar makan, dan selebihnya tentu saja digunakan untuk membeli narkoba. Selain mengamen di siang hari, di malam hari sesekali Pasha juga mulai menyanyi di kafe-kafe. Kebutuhan Pasha akan narkoba semakin hari semakin tidak terbendung. Ini membuat kondisi perekonomiannya kian hari kian terperosok. Sampai pada suatu ketika, Pasha harus hengkang dari tempat kostnya di kawasan Gondangdia Menteng Jakarta Pusat, karena sudah tidak sanggup lagi untuk membayar. Untungnya, meski hidup tak jelas dan serba kekurangan, tidak sampai membuat Pasha bertindak brutal dan berurusan dengan polisi.

Karena tidak punya satu pun sanak saudara di Jakarta, demi keberlangsungan hidupnya, Pasha tinggal bak kutu loncat dari rumah satu temannnya ke teman yang lain lagi. ”Di mana ada teman yang bisa kasih gue makan, disitu gue akan tinggal. Gue pernah tinggal di daerah Kalimalang, Utankayu, Pramuka, Minangkabau-Sahardjo, rumah susun Pulomas, dan Menteng Atas. Gue tinggal muter-muter secara bergantian. Yang jelas waktu itu hidup gue serabutan banget,” kata putra kelima dari sepuluh bersaudara pasangan H. Syamsuddin Said dan Andi Bumbeng ini.

Mulai Menjadi Vokalis. Sejak sering mengamen, Pasha punya banyak teman yang memiliki hobi sama yaitu bermusik. Selain asyik bergumul dengan narkoba Pasha juga asyik dengan hobinya bermain musik. Dari hobi bermain musiknya itu Pasha kemudian diajak menjadi vokalis grup band Nuansa oleh temannya.

Setahun bergabung dengan Nuansa band, Pasha berhasil mengeluarkan sebuah master rekaman album perdananya. Tapi sayang, karena berbagai hambatan, album tersebut tak berhasil ditelurkan. Namun ternyata, sosok Pasha mengundang perhatian dari pentolan band Ungu saat itu, yaitu Makki dan Eki. Pasha pun kemudian diajak bergabung untuk bermain bersama Ungu. “Jujur saja saat itu gue agak bimbang. Karena gue sudah punya band ditambah lagi dengan sudah adanya master rekaman. Sementara kalau di Ungu, gue harus mulai lagi dari awal. Apalagi saat itu gue juga sudah menelantarkan kuliah,” imbuh Pasha.

Setelah mendengar kata hatinya sendiri, Pasha akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan grup band Ungu pada tahun 1999. Perjalanan panjang bersama Ungu pun dimulai dan ternyata membuahkan hasil. Setelah banyak terjadi pergantian personel, Ungu juga dipercaya untuk membuat album kompilasi. Barulah pada tahun 2002, Ungu mengeluarkan album pertamanya.

Setelah gue mulai mapan di jalur musik, baru gue bilang ke orang tua kalau sebenarnya gue sudah nggak kuliah lagi. Untungnya, mereka bisa menerima karena kondisi gue saat itu sudah ada kerjaan,” tutur pria kelahiran Donggala 27 November 1979 ini. Selama berlatih di studio musik, Pasha bertemu dengan Enda (gitaris Ungu). Karena merasa sama-sama anak perantauan dari Sulawesi, maka keduanya pun terbilang cepat akrab. “Mungkin karena kita berasal dari satu daerah, jadi kita merasa lebih cocok aja,” urai Pasha.

Keduanya pun akhirnya memanfaatkan bakat musik mereka ke hal yang positif. Sambil mengasah keahliannya, mereka mencari tambahan uang saku dengan mengamen di atas bus jurusan Blok M, Pulo Gadung, dan Manggarai. Hasilnya terbilang lumayan untuk tambah-tambah biaya hidup. Sehari mereka bisa mendapatkan uang Rp 50-80 ribu. “Awalnya memang iseng. Maklum sebagai anak rantau yang coba datang ke ibukota, kita hanya mempunyai uang seadanya. Ternyata hasil yang didapatkan dari ngamen cukup buat kita berdua,” kenang Pasha sambil tersenyum.

Mulai Tersadar. Merasa lelah dan jenuh dengan keadaan yang dilakukan sepanjang hari selama lima tahun. Membuat Pasha berpikir dan introspeksi berulang kali atas kehidupan yang statis dan tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik. ”Sampai pada satu titik, entah kenapa hari itu gue merasa jenuh banget dengan keadaan yang gue jalani. Gue merasa capek dengan apa yang terjadi sama gue. Sampai membuat gue nggak bisa tidur selama beberapa hari,” cerita Pasha.

Selain merasa jenuh, yang ada didalam pikiran Pasha kala itu adalah, hidup di Jakarta hanya ada dua pilihan. Kalau mau jadi orang yang bener harus bener sekalian. Dan kalau mau jadi orang yang hancur, harus hancur sekalian, tidak ada kata setengah-setengah. Keyakinan itulah yang terus terpatri dalam pikirannya.

Sebagai langkah awal, secara perlahan tapi pasti Pasha mulai meninggalkan pergaulan dan lingkungan kehidupan narkoba. Pasha pun mulai mencari pergaulan yang lebih sehat. Tentu saja hal itu tidak gampang untuk dilakukan. Pasha harus rela menerima ejekan dari teman-temannya yang mengatakan bahwa dirinya sok suci atau ejekan lainya yang terkadang membuatnya kesal. Tapi apa boleh dikata, demi satu perubahan ke arah yang lebih baik, semua itu diterima Pasha daripada harus hidup merana sepanjang waktu.

Niat Pasha waktu itu hanya satu yaitu hidup untuk berubah dan berubah untuk hidup setelah menelantarkan kuliahnya. Pasha pun siap untuk menghadapi kondisi apapun termasuk siap menghadapi sang ayah yang pasti akan sangat kecewa jika mengetahui perbuatannya selama ini. ”Dalam bayangan gue waktu itu bokap gue pasti marah besar dengan apa yang telah gue lakukan. Jadi, apapun yang akan bokap gue lakukan sama gue akan gue terima dengan pasrah. Wajar kalau bokap gue marah karena gue juga sudah menyalahgunakan kepercayaan yang sudah diberikan,” tutur ayah dari Keisha Alvaro Putra Sigit (3) dan Shakiena Azalea Putrina Pasha (11 bulan) ini.

Tapi untunglah sang ayah H. Syamsuddin Said, adalah seorang ayah yang sangat terbuka dan demokratis terhadap anaknya. Meski sedikit kecewa setelah mengetahui kelakukan Pasha, tetapi tak sedikitpun ia marah terhadap Pasha. Sang ayah memaafkan segala kelakuan Pasha. Satu hal yang diingatnya dari wejangan yang diberikan sang ayah adalah, ”apa yang sudah kamu perbuat, mau tidak mau baik buruknya nanti akan ada risiko yang harus ditanggung.”

Setelah bertobat, Pasha menjadi takut kalau harus mengingat masa lalunya yang sangat kelam. ”Bahkan kalau waktu diputar kembali, jujur gue nggak punya keberanian untuk melewati masa itu lagi. Karena saat itu gue benar-benar kehilangan arah. Bayangkan saja, ketika bangun pagi gue nggak tahu apa yang harus gue perbuat untuk memulai hari dengan sesuatu yang baik. Yang gue ingat hanya narkoba dan narkoba lagi,” urai Pasha. Gilbert


Dua Bulan Pacaran Langsung Menikah

Setelah lepas dari jeratan narkoba di tahun 2002, pada 2 Agustus 2003 Pasha pun menikah dengan seorang dara cantik, Okie Agustina Sofyan. Pertemuannya dengan Okie tak lepas dari jasa Sigit ‘Base Jam’. Ceritanya waktu itu pada Februari 2003, di sebuah acara di Bogor, Sigit memperkenalkan Pasha dengan temannya, Okie.

Perkenalan singkat itu menyisakan kenangan tersendiri di hati mereka berdua. Pertemuan tak sengaja pun terjadi kembali di sebuah acara nonton bareng yang disponsori sebuah majalah remaja. Keduanya pun bertukar nomor telepon. Merasa cocok satu sama lain, Pasha pun tak berlama-lama berpacaran. Dua bulan merajut tali kasih, Pasha langsung mengajak Okie menikah. Tentu saja hal ini membuat Okie terkaget-kaget. Selain ketika itu usianya yang masih sangat muda, saat itu Ungu juga belum semapan seperti sekarang. Namun karena tekad Pasha yang begitu besar untuk menikahi Okie, lamaran pun akhirnya terjadi pada tanggal 14 Juni 2003. Prosesnya memang serba kilat. Perkawinan mereka pun kini telah dikaruniai dua orang anak, putra dan putri. Gilbert


Merasakan Manfaat Sedekah

Pasha mengaku kalau selama ini ia belum menjalankan segala sesuatunya dengan baik. Setiap hari ada saja perubahan yang terus dilakukannya untuk mendapatkan yang lebih baik. Baginya, menjalankan shalat lima waktu saja bukan jaminan penuh untuk bisa menjadi penghuni surga. Semua itu akan menjadi sia-sia kalau di dalam hati kita sebagai manusia masih tersimpan rasa keangkuhan dan kemunafikan.

Untuk melengkapi rasa keingintahuannya akan sesuatu yang sifatnya religius, Pasha banyak belajar arti hidup dengan membaca buku-buku rohani di antaranya seperti Paradigma Quran (Amin Suma wijaya, S.Ag), Meraih Kebahagiaan Sejati, Jalan Hidup Para Nabi dan Orang Suci (Al-allamah, Abdullah Al hadad), Kisah Teladan 25 Nabi dan Rasul (Dra, Munawaroh), Benarkah Isa dan Dajal Akan Turun? Menyingkap Fenomena Hari Kiamat yang Sesungguhnya (H. Subhan Nurdin), Dajjal akan Muncul dari Segitiga Bermuda (Muhammad Isa Dawud), dan Dialog Antara Jin Muslim dan Manusia.

Pasha mengaku dengan begitu, setiap harinya ia bisa memberikan yang terbaik dalam hidup baik terhadap sesama, lingkungan keluarga, pekerjaan, dan masyarakat. ”Gue akui dengan banyak membaca buku rohani, banyak hal dan pengetahuan serta hikmah yang gue dapat untuk menjalani kehidupan ini,” tandas Pasha.

Selain dari buku, Pasha juga banyak belajar dari teman-teman kelompok pengajiannya yang hampir sebulan sekali diadakan di kediamannya.

Menunaikan Ibadah Umroh. Setelah sukses dengan karir bermusiknya, dalam waktu dekat ini Pasha bersama sang istri, Okie Agustina bernazar untuk melakukan ibadah umroh bersama dengan anggota personel Ungu lainnya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk syukur atas berkat dan rahmat yang telah dilimpahkanNya.

Banyak hal lain yang dilakukan Pasha dalam mensyukuri nikmat yang telah didapatkannya. Selain berumroh, Pasha juga rutin menyedekahkan 2,5% dari pendapatannya. Pasha juga sering menyantuni beberapa yayasan anak yatim piatu di daerah Bogor di dekat kediamannya. ”Buat gue, ilmu sedekah itu sangat terasa pengaruhnya. Jika 2,5 % itu tidak dikeluarkan, maka itu akan diambil secara paksa. Entah itu lewat sakit kecelakaan atau masalah lainnya,” ujar Pasha.

Yang jelas, sedekah yang awalnya sering dianggap remeh, diakui Pasha sebenarnya bisa menghasilkan sesuatu yang besar buat dirinya sendiri. Insyaallah Allah akan membalasnya dengan berlipat ganda. Gilbert


Dosa itu Seperti Rekening Tabungan

Lirik lagu Andai Kutahu yang diciptakan Pasha sepertinya merupakan gambaran jiwa Pasha jika ia teringat akan masa lalunya yang kelam. Secara pribadi, diakui Pasha bahwa jika ditanya sampai kapanpun ia tidak akan pernah siap menghadapi kematian karena begitu banyaknya dosa yang telah ia perbuat.

Karena buat gue dosa itu seperti rekening. Sedikit atau banyak kita akan menyetor ke situ. Jadi kalau diibaratkan timbangan, timbangan dosa ini akan terus menekan ke bawah sementara timbangan pahala kita akan terus terangkat keatas. Karena buat dosa itu gampang, sementara kalau pahala susah banget. Dari omongan saja kita sudah bisa berbuat dosa,” papar Pasha.

Lagu Andai Kutahu ternyata juga berdampak positif bagi masyarakat luas. Dalam setiap rangkaian tournya di setiap kota ataupun daerah, banyak orang yang menyatakan pertobatannya, baik dalam urusan rumah tangga, hubungan orang tua dan anak, hubungan suami istri dan terlebih penting lagi hubungan dengan sang Pencipta. Semua itu diketahui Pasha dari pengakuan setiap orang, baik dari kalangan orang biasa maupun pada tingkat pejabat setempat setelah terus menerus merenungi dan mendengar arti kata dari lagu Andai Kutahu ataupun lagu religius lainnya dalam album Ungu. Gilbert


Rabu, 04 Februari 2009

Sandra Dewi

created by : Gilbert

Sempat Menjadi Pedagang Kain, Kini Bersinar Sebagai Artis


Semenjak penampilannya yang memukau dalam film Quickie Express, gadis keturunan tionghoa ini seketika langsung menyedot banyak perhatian publik. Selain itu, kehadirannya di jagad hiburan sebagai pendatang baru yang cukup memukau, membuat Sandra Dewi menjadi kelimpahan tawaran job, mulai dari sinetron sampai menjadi bintang iklan beberapa produk terkemuka. Kini hampir setiap hari, wajah cantiknya tidak pernah absen menghiasi layar kaca, dan sampul majalah. Lantas, bagaimana jatuh bangun Sandra Dewi dalam mewujudkan karirnya sebagai entertainer di Jakarta?

Pemilik nama lengkap Monica Nicole Sandra Dewi Gunawan Basri, atau yang kerap disapa dengan Sandra Dewi ini, merupakan sulung dari tiga bersaudara yang lahir di Pangkal Pinang, Bangka Belitung pada 24 tahun yang lalu. Sandra sendiri merupakan anak dari pasangan Gunawan Basri dan Chatarina Erliani. Semenjak kecil hingga masuk pada masa remaja, Sandra memang menghabiskan waktunya di tempat kelahirannya yaitu di Pangkal Pinang, Bangka Belitung. Bersama kedua adiknya, Kartika Dewi dan Raymond, Sandra hidup dengan penuh belaian kasih sayang dan perhatian yang cukup dari kedua orang tuanya. Memasuki usia lima tahun, Sandra bersekolah di TK St. Theresa I. Hingga SMP, Sandra bersekolah di tempat yang sama. Kemudian menjelang masa SMU, Sandra masuk ke SMUK St. Yoseph.

Berdagang. Bicara soal kemandirian memang bukanlah satu hal yang baru dialami oleh Sandra. Kemandiriran Sandra mulai terlihat ketika ia masih duduk di kelas tiga SD. Di mana kala itu demi mendapatkan penghasilan tambahan, Sandra mulai memberanikan diri untuk berdagang. Sebut saja seperti berdagang pakaian perempuan, kue-kue, kertas kado, dan peralatan atau keperluan anak perempuan yang lain di masanya kala itu. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mendapatkan penghasilan tambahan, guna menambah uang jajan sekolahnya. ”Orang tuaku memang memberikan aku uang jajan, tapi entah mengapa dulu itu aku selalu berpikir bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang jajan tambahan, tanpa harus menambah beban orang tua,” tutur Sandra. Beruntung, Sandra merupakan tipe gadis yang mau mengerjakan apa saja sepanjang pekerjaan tersebut halal. Selain itu, ia juga tidak merasa malu bila sedang berjualan. Kegiatan semacam ini terus dijalaninya sampai Sandra lulus dari SMU. “Pokoknya aku punya prinsip selagi aku mampu kerjakan sendiri, maka aku tidak akan pernah mau merepotkan papa dan mamaku,” ujarnya.

Kedua orang tua Sandra sendiri dapat dikatakan termasuk orang yang cukup mampu untuk membiayai kehidupan Sandra dan adik-adiknya secara menyeluruh. Gunawan Basri, ayahnya bekerja sebagai wiraswasta di bidang perkayuan, sementara ibunya Chatarina Erliani bekerja sebagai instruktur senam. Sikap sandra yang selalu hidup mandiri sedikit banyak terbentuk atas didikan kedua orang tuanya yang selalu menerapkan sistem kedisiplinan yang dimulai dari dalam rumah. “Papa sama mamaku itu selalu mengajarkan, kalau kita mau berhasil di luar, semuanya itu terlebih dahulu harus dimulai disiplin dari dalam rumah,” tuturnya.

Kendati disibukkan dengan berbagai kegiatan kemandirian di luar rumah, Sandra tidak pernah sedikit pun melupakan tugasnya sebagai anak untuk belajar demi meraih cita-cita dan masa depan. Hal ini dapat dibuktikannya dengan prestasi yang selalu dicetak Sandra ketika bersekolah. Bahkan terhitung dari mulai TK hingga SMU, Sandra mengaku bahwa prestasinya tidak pernah bergeser dari posisi dua besar di dalam kelas.

Merantau ke Jakarta. Setamatnya dari SMU sekitar tahun 2001, sandra memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya ke Jakarta. Kala itu, kedua orang tuanya memang agak keberatan dengan keputusan yang diambil Sandra untuk hijrah ke jakarta, karena mengingat sepanjang hidupnya ia tidak pernah jauh dari kedua orang tuanya. Kekhawatiran pun semakin bertambah ketika mereka mengetahui bahwa Jakarta dikenal sebagai kota yang sangat keras dan penuh dengan kompetisi. Apalagi untuk ukuran seorang anak perempuan seperti Sandra yang polos dan lugu, dan sama sekali belum pernah mengenal ibukota Jakarta. Semuanya itu bisa menjadi hal yang sangat berat untuk bisa dilaluinya.

Namun kekhawatiran kedua orang tua Sandra tidak terlalu dihiraukannya, malah dengan penuh rasa percaya diri, Sandra meyakinkan kedua orang tuanya bahwa dirinya akan baik-baik saja hidup di Jakarta.”Pokoknya Papa dan Mama tenang saja, aku bisa menjaga diriku baik-baik,” kata Sandra meyakinkan kedua orang tuanya kala itu. Boleh dibilang hijrahnya Sandra ke Jakarta merupakan satu titik permulaan dari peraduan nasib yang hendak dihadapi Sandra di Jakarta. Dengan satu tujuan kalau dirinya tidak mau mengalami nasib yang sama dengan kebanyakan temannya di Bangka, yakni sehabis kuliah lalu menikah dan mempunyai keturunan. Penilaian seperti itulah yang ingin diubah dalam pribadi Sandra. “Bagiku hidup seperti rasanya standar sekali, tetapi aku punya keinginan selagi masih muda aku mau terus berkarya dan biarlah hidupku dipenuhi dengan berbagai pengalaman hidup, karena kaya akan pengalaman hidup itu, rasanya tidak bisa digantikan dengan apapun,” papar pemeran Indah dalam sinetron Cinta Indah ini.

Benar saja, hanya dengan bermodalkan sikapnya yang polos, akhirnya Sandra meneguhkan hati dan menapakkan kakinya di Jakarta. Ketika kali pertama singgah di Jakarta, Sandra pun tinggal di rumah pamannya di kawasan Jelambar, Jakarta Barat. Meski tinggal di rumah pamannya tetapi tetap saja membuat Sandra tidak bisa seenaknya, ada batasan-batasan yang harus dilakukan dan dikerjakannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawab. Sandra pun tetap sadar dan tahu diri. Ajaran kedisiplinan yang diterapkan kedua orang tuanya, ternyata sangat bermanfaat ketika Sandra berada di Jakarta dimana Sandra tidak menjadi pribadi yang cengeng.

Korban Penjambretan. Datang ke Jakarta, Sandra berkuliah di London School of Public Relation (LSPR), mengambil jurusan Public Relation. Benar saja ketika menghadapi atmosfir kota Jakarta, sesaat Sandra mengalami suatu phobia kepada orang yang baru saja dijumpainya. Hal ini tentu saja berefek buruk atas diri Sandra. Ketika rasa takut itu terus menghantuinya, membuat Sandra menjadi santapan para pelaku tindak kejahatan. Bagaimana tidak, dengan paras cantik dan kulit bersih yang dimilikinya, tentunya membuat Sandra menjadi sasaran empuk penjambretan.

Dulu itu seingatku, aku adalah orang yang paling sering menjadi korban penjambretan,” ujar Sandra. “Saking takutnya, aku sering menjadi bahan tertawaan ke kampus karena setiap datang ke kampus dandananku selalu lecek dan berkeringat seperti orang yang tidak mandi,” lanjutnya. Karena sering menjadi korban penjambretan, membuat Sandra tak tahan untuk terus bisa tinggal di Jakarta. Maka sebagai solusinya Sandra pun mencurahkan keluhannya pada ayahnya di Bangka, dengan tujuan ia bisa mendapatkan solusi yang lebih baik lagi. Namun apa daya ternyata keluhan Sandra tersebut malah ditanggapi dengan teguran keras dari papanya. “Papa bilang juga apa, kamu tidak akan kuat tinggal di Jakarta, sudah kalau begitu keadaannya, lebih baik kamu balik ke Bangka lagi,” ujar Sandra sembari menirukan ucapan ayahnya kala itu.

Merasa mendapatkan teguran yang dianggapnya keras, membuat Sandra menghapuskan air matanya dan menguatkan hatinya untuk tetap pada tujuan semula, menjadi yang terbaik tinggal di Jakarta, demi cita-cita dan masa depan. Malah kejadian itu membuat Sandra semakin yakin bahwa suatu saat ia akan membuktikan pada kedua orang tuanya, ia mampu berkompetisi di Jakarta. Setelah itu, kuliah pun dijalaninya dengan penuh keseriusan, karena Sandra selalu kembali pada niatan awal, ke Jakarta hanyalah untuk menuntut ilmu, tidak lebih daripada itu. Niat tersebut tentunya membuat Sandra mendapatkan nilai semester yang sangat baik. Bahkan hingga kelulusannya pun, Sandra menjadi salah satu siswa yang lulus dengan mendapatkan IPK 3.89, dengan kategori cumlaude.


Menjadi Duta Pariwisata. Namun di tengah kesibukannya menjalani kuliah, Sandra acapkali kehabisan uang. “Maklumlah namanya juga jauh dari orang tua, jadinya suka kebablasan,” tandasnya. Karena merasa tak enak hati lantaran sering menelepon untuk meminta uang. Maka Sandra pun mencoba peruntungannya dengan mengikuti pemilihan duta pariwisata Jakarta Barat. Hingga akhirnya dengan modal kecantikan yang dimilikinya, ditambah lagi dengan kecerdasaannya, maka Sandra pun terpilih sebagai duta pariwisata Jakarta Barat. Kala itu, ia bertugas bersama suku dinas Jakarta Barat, mempromosikan pariwisata yang ada di Jakarta Barat. “Lumayanlah honornya bisa digunakan untuk bertahan hidup,” ulasnya seraya tersenyum.

Dinobatkannya Sandra sebagai duta pariwisata Jakarta Barat, berbuntut banyaknya aktivitas sebagai duta yang wajib dijalaninya hampir setiap hari. Sadar akan jadwalnya berubah oleh karena kesibukan, maka akhirnya Sandra memutuskan lebih memilih kuliah sebagai prioritas utama. “Kalau dilihat dari segi materi memang sangat lumayan tapi dari awal aku berpikir sebelum kuliah aku rampung, aku nggak mau terlena dengan asyik mencari uang. Aku juga tidak mau mengecewakan papa dan mamaku,” ucap Sandra.

Lepas dari jabatannya sebagai duta pariwisata Jakarta Barat, Sandra memang kembali menjalankan kuliahnya dengan normal. Tetapi karena memang rasa keingintahuannya yang teramat mendalam apalagi ditambah dengan kemolekan wajah yang dimilikinya, jadilah Sandra kembali mencoba peruntungan dengan mengikuti satu kontes kecantikan yang diselenggarakan oleh sebuah majalah perempuan terkemuka di Jakarta. Padahal status Sandra saat itu sudah bekerja sebagai PR promotion di sebuah advertising agency bernama d’fortune. Aura kecantikannya ternyata mengundang perhatian Nia Dinata, salah satu sutradara yang cukup diperhitungkan, yang kala itu bertindak selaku dewan juri. Maka lewat kemenangannya, Sandra bertemu dengan Nia Dinata. Ternyata Nia Dinata sendiri merupakan orang yang diidolakan Sandra. Diam-diam ia menyimpan keinginan untuk bisa bermain dalam film garapan Nia Dinata. Sadar akan kapasitasnya, Sandra pun mengubur angan-angannya tersebut.

Sandra sangat bersyukur karena sejak kecil selalu diajarkan soal kasih sayang Tuhan. “Bagiku Tuhan Yesus itu baik, Dia sudah seperti orang tua aku sendiri yang selalu menyayangi, melindungi, dan memelihara aku,” tutur Sandra. “Jadi, itu sebabnya aku juga harus sayang sama Tuhan Yesus. Burung di udara saja Tuhan pelihara dan kasih makan, apalagi kita ini anak-anaknya yang diciptakan serupa degan gambaran Allah. Sebab secara tubuh rohani kita ini anak-anak-Nya Tuhan Yesus,” lanjut Sandra yang selalu mengingat ajaran ibunya. Ketaatannya kepada Tuhan ditunjukkan dengan memantapkan iman, bahwa semua yang terbaik hanya ada pada-Nya. Itu sebabnya Sandra selalu belajar untuk mengucap syukur atas hidup yang diterimanya.

Mama selalu ingatkan aku, apapun yang aku butuhkan mintalah itu dalam doa dengan hati yang hancur dan penuh kesungguhan. Maka jikalau waktunya tiba semuanya itu pasti akan diberikan. Jangan pernah sekalipun berharap pada manusia, karena manusia bisa saja mengecewakan tetapi Tuhan Allah kita tidak akan pernah mengecewakan setiap umat-Nya, yang berharap penuh dengan-Nya,” urai Sandra yang begitu mengagumi ajaran ibunya tersebut. Selain itu ibunya juga kerapkali mengajarkan kepada Sandra, agar jangan pernah berubah sedikitpun. Kalau sedang berada di atas, tetap rendah hati dan jangan pernah sombong. Karena kesombongan merupakan awal dari kehancuran. Tak heran kesuksesannya saat ini, membuat Sandra tak jemu-jemu untuk memberikan yang terbaik buat keluarganya. Kelimpahan materi yang didapatkannya tidak membuat Sandra menjadi lupa diri akan kewajiban perihal hukum perpuluhan, seperti yang tertulis dalam kitab Maleakhi 3:10. “Soal persepuluhan itu wajib hukumnya. Sisanya kan masih ada 90 persen. Untuk kita kelola dengan baik,” tegas Sandra sembari menutup pembicaraan. Gilbert


Selalu Memulai Setiap Kegiatannya dengan Membaca Doa Novena

Satu hal yang tidak pernah disangka dalam diri Sandra, dan mungkin inilah buah dari penantian panjang atas jawaban pergumulannya dalam doa. Perihal keinginannya untuk bisa menjadi pemain film, dan doa-doa novena pun terus dipanjatkannya sepanjang hari. “Aku hanya takjub melihat cara Tuhan yang ajaib. Dari situ aku belajar, kalau hal itu baik untuk aku tentunya pasti Tuhan akan kasih,” kenangnya akan kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Ketakjubannya akan Tuhan masih terus berlanjut. Ketika mengikuti kasting untuk film berjudul Quickie Express, Sandra melihat para pesaingnya bukan dari pemain sembarangan, tetapi para aktor dan aktris pemenang piala Citra dan sederet penghargaan lainnya. Rasa takut langsung dirasakannya. Namun ia tak lantas menyerah untuk berusaha menampilkan yang terbaik. Kedua hal itulah yang terpola dalam pikiran Sandra kala itu. Karena baginya tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada di depan mata. Di ruang tunggu kasting, Sandra terus memuja dan memuliakan nama Tuhan dengan doa-doa.

Sepanjang penantiannya untuk di-casting, sebagai umat yang taat dan percaya Tuhan, Sandra hanya bisa berserah diri dalam doa. Keyakinannya terbukti, ketika Sandra kembali berpikir kalau segala yang terbaik menurut Tuhan pastinya akan diberikan Tuhan. “Dalam penantianku yang penuh dengan detak jantung, atas permintaanku selama ini, akhirnya dijawab juga oleh Tuhan, dan membuat aku sangat bersyukur dan seakan tidak percaya, kalau aku bisa menjadi seperti ini,” tuturnya dengan penuh haru. Baginya apa yang dipercayakan Tuhan lewat sinetron, iklan, dan film merupakan buah dari ketaatan dan kesetiaannya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat. Gilbert

From Nothing to Something

Olga Syahputra, Komedian dan Presenter


Dari Hanya Sekadar “Pesuruh” Artis, Kini Menjadi Selebritis Paling Laris


Lewat penampilannya yang cuek dan kocak, Olga Syahputra berhasil meraih simpati para penonton. Namanya pun semakin dikenal ketika ikut bermain dalam Extravaganza ABG, sebuah acara sitkom yang ditayangkan TransTV. Siapa sangka kalau kesuksesan yang diraihnya harus diawali dari bawah. Kegemarannya nongkrong di lokasi syuting sekadar untuk melihat bintang pujaan, telah menghantarkannya menjadi seorang komedian terkenal. Bagaimana kemudian Olga bisa berkenalan dan masuk dalam dunia hiburan?


Penampilannya di televisi yang selalu terlihat konyol, ternyata tidak jauh berbeda dengan pembawaan aslinya. Setidaknya, itulah yang bisa dirasakan Realita ketika menjumpai Olga Syahputra di studio RCTI usai membawakan sebuah acara beberapa waktu lalu. Sikap dan pembawaannya yang supel, tentu saja membuat pria kelahiran Jakarta, 8 Februari 1983 ini mudah bergaul dengan siapa saja dan dari kalangan mana saja. Dengan gaya banyolannya yang ceplas ceplos, Olga yang saat itu mengenakan t-shirt putih dipadu dengan setelan jeans, mulai menceritakan perjalanan hidupnya dalam meretas karir. Walau hanya bermodal wajah yang pas-pasan, Olga nekad untuk menembus pasar industri hiburan.

Dalam keluarganya, Olga adalah anak sulung dari tujuh bersaudara. Ia lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang sederhana dari pasangan Nurahman dan Nursidah. Diakuinya, saat kecil merupakan masa yang paling membahagiakan, meski hidup di dalam keluarga yang sederhana, tak sedikitpun Olga merasa kehilangan masa kanak-kanaknya. Hari-harinya penuh dengan dunia permainan.

Olga kecil banyak menghabiskan waktu dengan bermain di sekitar tempat tinggalnya di kawasan Cipinang, daerah pemukiman penduduk yang terkenal dengan kawasan yang rawan banjir. Kendati tempat tinggalnya seringkali terendam banjir apabila hujan deras, justru membuatnya bahagia karena merasa mendapatkan mainan baru. Maklum saja kala itu Olga masih kanak-kanak.

Diakuinya, kala itu kenakalan-kenakalan kecil sering diperbuatnya. Contohnya adalah mencuri buah jambu dan mangga milik tetangga. Setelah berhasil mencuri buah mangga dan jambu tersebut, maka Olga pun akan menjualnya untuk mendapatkan uang jajan tambahan.

Ada satu kejadian saat kecil yang tidak pernah akan dilupakan oleh Olga. Dimana ia sempat akan menghajar teman sekolahnya dengan sebilah golok. Pasalnya, teman sekolahnya itu seringkali memperlakukan Olga dengan cara yang tidak menyenangkan. Lama kelamaan Olga pun tidak tahan dan menuangkan kekesalannya dengan membawa golok dari rumah sambil menangis. Beruntunglah saat itu, sang penjaga sekolah berhasil meredam emosi Olga sehingga ia tidak jadi menumpahkan kekesalannya pada temannya. “Setelah kejadian tersebut, gue tidak pernah lagi diganggu sama teman gue itu,” ucap Olga mengenang masa-masa saat bersekolah di SDN 15 Cipinang, Jakarta Timur tahun 1990-1996.

Didikan Agama. Dalam didikan agama, sang ibulah yang sangat disiplin terhadap Olga dalam menjalankan shalat lima waktu. Setiap adzan Maghrib, sang ibu segera menyuruh Olga shalat dan kemudian mengaji. Diakuinya, shalat lima waktu menjadi rutinitas serta kebiasaan yang wajib dilakukannya di rumah.

Walau sulit untuk bangun pagi, Nursidah, sang ibu dengan sabar selalu membangunkannya di pagi hari untuk melakukan shalat subuh. “Sejak kecil gue memang lebih dekat sama nyokap ketimbang sama bokap. Makanya nyokap selalu mengingatkan gue agar jangan pernah meninggalkan shalat,” ujar Olga. Yang jelas, Olga merasa bahwa pondasi agama yang diberikan orang tuanya sedari kecil sudah cukup baik. Dan ajaran tersebut terus dibawanya hingga sekarang.

Lepas dari pendidikan Sekolah Dasar, kenakalan Olga sedikit demi sedikit mulai berkurang. Pasalnya, ketika melanjutkan ke SLTP tahun 1997, selain disibukkan dengan pelajaran di sekolah, Olga juga mulai banyak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya seperti mengikuti latihan beladiri Taekwondo dan bermain sepakbola yang memang sejak SD sudah digemarinya. Ternyata, selain disibukkan dengan berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, Olga juga mempunyai kebiasaan baru yaitu setiap pulang sekolah selalu menyempatkan diri untuk mampir sekadar menonton syuting di sebuah rumah milik bintang iklan Asmiar Yahya, di kompleks Kehakiman yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.

Mengalami Kesulitan Ekonomi. Di tengah-tengah kebiasaan barunya itu, Olga harus menerima kenyataan pahit dimana keluarganya mulai mengalami kesulitan ekonomi. Di tahun 1998, sang ayah yang tadinya bekerja pada seorang pejabat kehakiman, terpaksa harus kehilangan pekerjaan karena sang majikan meninggal dunia. Kondisi ini sontak membuat perekonomian keluarga Olga turun drastis. Apalagi sang ibu hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga biasa. Belum lagi keenam adiknya yang juga butuh biaya. Sampai-sampai, untuk bisa bertahan dan melanjutkan hidup, orang tua Olga mulai menjual perabotan rumahnya satu per satu.

Sebagai anak sulung, beban yang harus ditanggung Olga tentu sangatlah berat. Musibah yang menimpa sang ayah, telah mengubah sikap dan perilaku Olga menjadi semakin dewasa dalam berpikir. Olga yang tadinya banyak menghabiskan waktunya untuk bermain bersama teman-temannya, kemudian lebih memilih untuk langsung pulang ke rumah ketika usai jam pelajaran sekolah. Ia pun lebih memilih untuk membantu usaha sang ibu yang baru dirintis yaitu rumah makan Padang.

Hanya mengandalkan usaha sang ibu yang masih kecil, tentu tidaklah cukup. Olga pun terus berpikir bagaimana caranya agar ia bisa mengubah hidup dan membuat ekonomi keluarganya bangkit kembali. Dalam hati Olga selalu berdoa agar Allah memberikan jalan kepadanya agar bisa membantu meringankan beban kehidupan kedua orang tuanya.

Kendati disibukkan dengan membantu usaha sang ibu, kebiasaan Olga yang suka mampir ke tempat syuting ternyata terus berlanjut. Sebisa mungkin setiap pulang sekolah, Olga berusaha untuk menyempatkan diri mampir ke lokasi syuting, sekadar memuaskan keinginannya melihat aktris dan aktor pujaannya beradu akting di depan kamera.

Berkenalan dengan Dunia Hiburan. Siapa sangka, kebiasaannya nongkrong di lokasi syuting tersebut, membuat Olga menjadi dikenal. Mulai dari kru film sampai dengan para aktris dan aktor yang membintangi film tersebut, mulai mengenal Olga. Tak ayal, Olga pun kerap dijadikan pesuruh oleh beberapa artis yang tengah bermain, seperti membelikan jajanan, minuman, dan rokok. “Ya lumayanlah, selain gue bisa dekat dengan artis tersebut, gue juga bisa dapat tambahan uang saku. Karena dari disuruh-suruh itu, gue mendapatkan tips,” kata Olga dengan logat Betawinya yang kental. Gaya dan banyolan Olga yang sok akrab justru membuat dirinya banyak dikenali.

Seiring dengan berjalannya waktu, kebiasaan Olga nongkrong di lokasi syuting mulai membuahkan hasil. Pada suatu ketika, ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Iladot, salah satu anggota kru di tempat syuting yang sering ia tongkrongi. Wanita yang juga terkesan dengan gaya banyolan Olga itu pun membawanya untuk dipertemukan dengan Aditya Gumay, pemimpin sanggar Ananda Theater Kawula Muda Lenong Bocah. Oleh perempuan tersebut, Olga dimasukkan ke sanggar yang berlokasi di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Sejak tahun 2000, Olga mulai bergabung dengan sanggar tersebut. Selama beberapa tahun bergabung, seminggu sekali Olga berlatih di Senayan. Diakuinya, lewat sanggar tersebut ia banyak sekali mendapatkan pelajaran mendasar tentang berlatih akting yang baik dan tampil berani serta percaya diri. Berangkat dari sanggar tersebut, bakat seninya sedikit demi sedikit mulai terasah. Lama berlatih di sanggar, ternyata belum juga membuat Olga dipercayakan sebuah peran oleh Aditya Gumay. Tentu saja hal ini membuatnya sedikit agak kecewa.

Meski demikian, Olga tidak menyerah. Dan benar saja, ketekunannya dalam berlatih mulai membuahkan hasil. Olga pun mulai dipercayakan sebuah peran kendati peran yang didapatkannya tidak begitu besar. Namun hal tersebut paling tidak bisa mengobati luka dihatinya dan rasa putus asa yang sempat mendera. Hanya ada satu tujuan dalam pikirannya saat itu yaitu menyelamatkan kehidupan keluarganya.

Perjalanan yang harus dilalui Olga menuju kesuksesannya saat ini memang terbilang tidak mudah. Olga harus rela datang jauh-jauh dari rumahnya untuk syuting, dan pulang sampai larut malam, hanya untuk menunggu dapat giliran berperan yang porsinya hanya sedikit. “Kalau gue ingat dulu zamannya merintis, sakitnya minta ampun. Bayangin aja, gue ditelepon disuruh datang ke lokasi syuting. Udah jauh-jauh, gue cuma dapat peran yang hanya melintas di depan kamera. Sudah begitu, nunggunya sampai malam segala lagi. Habis itu, sudah, nggak ada lagi,” papar Olga mengingat jalannya dalam meretas karir.

Meski hanya mendapat bayaran beberapa puluh ribu saja, tidak membuat semangat Olga kendur. Uang hasil honornya itu sedikit demi sedikit disimpan dalam lemari pakaian agar bisa ditabung dan sisanya digunakan untuk uang jajan dan keperluannya sehari-hari.

Kecewa dengan Sang Ayah. Suatu ketika Olga mendapati honor yang selama ini ia simpan di dalam lemari, raib entah kemana. Sang ibu pun tidak tahu siapa yang mengambil uang tersebut. Namun tak lama kemudian sang ayah datang kepadanya dan mengakui kalau dialah yang telah mengambil uang Olga, dan digunakan untuk bermain judi bersama tetangganya. Sang ayah berharap jika menang, uangnya bisa digunakan untuk tambah-tambah biaya hidup keluarga.

Pengakuan sang ayah membuat hati Olga kecewa. Namun Olga tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai anak yang hanya ingin berbakti kepada orang tua, Olga pun akhirnya memaafkan sang ayah. “Gue sadar bokap bersikap seperti itu karena ia sedang menganggur,” ucap Olga. Setelah kejadian itu, sang ayahpun sadar dan terpacu untuk mencari pekerjaan. Berkat ketekunannya, sang ayahpun kini sudah bisa bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik otomotif. Kondisi ekonomi keluarga Olga pun sedikit demi sedikit mulai membaik.

Kendati sang ayah telah mendapatkan pekerjaan, tidak lantas membuat semangat Olga untuk meretas karir, redup begitu saja. Merasa karirnya tidak terlalu berkembang dengan baik di lenong bocah, tahun 2003 Olga pun memutuskan untuk keluar. Namun Olga tetap merasa bahwa kesuksesannya saat ini juga berkat didikan dari Aditya Gumay.

Menjadi Asisten Artis. Dengan sikap penuh percaya diri, Olga kembali menawarkan diri pada beberapa artis yang dikenalnya seperti penyanyi dangdut Rita Sugiarto dan aktor tampan Bertrand Antoline, untuk bisa diajak bergabung bermain sinetron atau pekerjaan apapun yang bisa mendatangkan penghasilan. Kala itu Olga berpikir, kalau tidak bisa bermain film atau sinetron atau acara televisi lainnya, paling tidak ia bisa dijadikan asisten pribadi para artis tersebut.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Setelah menjadi asisten pribadi Rita Sugiarto dan Bertrand Antoline yang kerjanya terbilang sangat ringan yaitu hanya membawakan properti sang artis seperti tas, baju, sepatu, dan kebutuhan syuting lainnya. Olga pun menjadi sering diajak bepergian ke luar kota. Wawasan dan jaringan Olga dalam industri dunia hiburan pun kian hari kian bertambah.

Hingga akhirnya pada satu waktu, untuk pertama kalinya Olga mendapatkan tawaran untuk bermain dalam satu sinetron Senandung Masa Puber tahun 2004.

Ketekunan Olga dan sikapnya yang gampang akrab dengan orang lain lambat laun berbuah manis. Dengan bermodalkan kemampuan akting yang pernah diperolehnya ketika ikut bergabung dalam sanggar Ananda Theater Kawula Muda Lenong Bocah, ditambah lagi dengan pembawaan dan gaya banyolan yang tidak mengenal malu membuat Olga semakin banyak disenangi. Sejak bermain di dalam sinetron tersebut, tawaran bermain peran pun mulai mengalir. Sebut saja, Kawin Gantung dan Si Yoyo. Belum lagi tawaran untuk menjadi presenter seperti acara Ngidam di SCTV yang berpasangan dengan Jeremy Thomas. Buruan Cium Gue dan disusul dengan Extravanganza ABG di tahun 2006 yang semakin melejitkan namanya.

Sejauh ini Olga menilai kemampuannya berbicara di depan orang banyak didapatkannya secara otodidak. Sedangkan ciri khasnya yang kocak sudah menjadi pembawaannya sejak kecil. Sifatnya yang konyol dan cuek itu ternyata terbawa sampai hampir ke seluruh kehidupannya. Yang jelas, setelah mapan, tak sedikitpun ada yang berubah dari pribadi Olga. Kini keinginannya untuk membantu perekonomian keluarga sudahlah dapat terealisasikan, sehingga kapanpun keluarganya membutuhkan uang, maka sesegera mungkin Olga akan memberikannya. Meski untuk itu, ia harus rela tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi karena keburu disibukkan oleh aktivitasnya di dunia hiburan. Gilbert


Menyisihkan Penghasilan untuk Anak Yatim

Sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara, tentunya Olga mempunyai tanggung jawab yang besar untuk kedua orang tua dan keenam adiknya yang masih bersekolah. Bagi Olga, tiada yang paling membahagiakan dalam hidupnya selain bisa membantu keluarga dan membuat kedua orang tuanya tersenyum bahagia. “Gue percaya kalau kita sering bantu keluarga, maka rezeki kita pun pasti lancar. Lagian gue bisa begini juga karena gue percaya semua berkat doa dari orang tua juga," tegas Olga.

Olga pun berjanji sebisa mungkin untuk menjadi orang yang berguna, bukan hanya dalam lingkungan keluarga, tetapi juga di lingkungan teman-temannya dan komunitasnya. Dimana dirinya berada, maka disitu Olga berharap agar selalu bisa berbagi rezeki dan kebahagiaan pada orang sekitarnya. Sebagai bentuk nyata wujud syukurnya pada sang Pencipta, tak lupa Olga selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk diamalkan pada anak-anak yatim piatu dan disumbangkan ke masjid. Selain itu, dalam setiap kesempatan, Olga pun selalu berusaha untuk mengucap syukur sekaligus berdzikir dalam hati.

Meski dengan alasan kesibukan, Olga pun berjanji sebisa mungkin akan menyempurnakan ibadahnya. Bahkan Olga berencana untuk memberangkatkan kedua orang tuanya ibadah haji. Gilbert


Ingin Membelikan Rumah Keluarga di Kawasan Bebas Banjir

Seperti kebanyakan manusia lainnya yang tak pernah merasa puas atas apa yang telah didapatkan, demikian pula halnya dengan Olga. Setelah sukses dan berhasil mengumpulkan pundi-pundi uang, masih ada satu cita-cita dan obsesinya yaitu ingin membelikan rumah yang lebih layak untuk digunakan oleh keluarga besarnya. ”Ini janji gue dalam hati sejak awal. Kelak kalau gue diberikan rezeki, gue akan membelikan rumah yang lebih layak dan bebas dari banjir buat keluarga gue,” tekad Olga.

Olga yang saat ini masih tinggal bersama keluarganya di kawasan Cipinang, telah memiliki sebuah Mobil Suzuki Aerio Hitam untuk menunjang aktivitasnya yang sangat padat. Sang ibu pun masih berkutat dengan usaha rumah makan padangnya.

Olga sendiri berharap agar keberadaannya dalam industri hiburan, bukan hanya untuk mencari dan mengumpulkan nilai materi semata, tetapi lebih kepada bagaimana agar dirinya bisa berguna dan bisa menghibur banyak orang. “Buat gue pribadi, bisa menghibur dan menyenangkan orang itu merupakan sebagian daripada amal,” ungkapnya dengan bijak. Gilbert