Rabu, 05 November 2008

Angelina Sondakh, Mantan Puteri Indonesia


Ingin Mengabdikan Hidupnya untuk Mengajar Anak-Anak Tertinggal


By. Gilbert

Di tengah kesibukannya sebagai anggota DPR dan menyelesaikan program S-2-nya, Angelina Sondakh tetap peduli pada sesama. Lewat yayasan Women dan Orang Utan Foundation, Angie berjuang untuk perempuan, anak-anak, dan Orang Utan. Jika waktunya tepat, Angie pun ingin mengabdikan hidupnya untuk mengajar anak-anak tertinggal. Apa yang melatarbelakanginya?

Cantik, tegar, dan intelektual. Itulah kesan yang timbul dari pancaran wajah dara keturunan Manado ini ketika pertama kali bertemu. Ditemui di kantornya di lantai 23 gedung Nusantara I DPR RI Jakarta beberapa waktu lalu, wanita kelahiran Australia 28 Desember 1977 ini mau berbagi cerita di tengah kesibukannya bekerja sebagai anggota dewan, sekaligus menyelesaikan program studi S-2-nya. Mengenakan setelan blus berwarna cokelat dan duduk dengan kedua kaki yang terlipat di atas sofa berwarna cokelat pula, Angie-begitu wanita tersebut kerap disapa-menuturkan perjalanan hidupnya yang sangat berarti atas saran dan dukungan sang papa.

Pemilik nama lengkap Angelina Patricia Pingkan Sondakh merupakan bungsu dari dua bersaudara dari pasangan Prof. DR. Ir. Lucky Sondakh, MEC dan Ir. Syuh Kartini Dotulong. Sejak kecil Angie tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga Manado dengan tatanan penganut kristiani yang cukup religius. Opanya sendiri berprofesi sebagai seorang Pendeta di Manado.

Menginjak usianya yang ke-lima, Angie kembali dari negeri Kanguru bersama kedua orang tuanya dan pulang ke Manado. Saat itu sang ayah baru saja menyelesaikan studinya di New England University untuk mendapatkan gelar Phd. Karena belum memiliki rumah, untuk sementara waktu, Angie, kakak, dan kedua orang tuanya tinggal di rumah sang tante.

Rasa berbagi dan kebersamaan kerap kali diajarkan pada Angie oleh kedua orang tuanya. Mereka berharap kelak Angie tumbuh dan besar menjadi pribadi yang peka terhadap kondisi sosial lingkungan sekitarnya. Keinginan dan obsesi kedua orang tuanya yang ingin melihat anaknya berhasil secara akademik, membuat Angie semenjak duduk di bangku sekolah dasar telah memiliki jadwal belajar yang teramat padat.

Bayangkan saja, hari-harinya sebagian besar hanya diisi dengan kegiatan belajar. Selepas pulang sekolah, Angie pun harus melanjutkan aktivitas belajarnya dengan mengikuti les dari sekolah. Aktivitas belajar itu baru akan berhenti ketika jarum jam menunjukkan pukul 5 sore, dimana Angie baru diperbolehkan menikmati kehidupan sosialnya bersama dengan teman sebayanya. Pukul 7 malam Angie sudah harus kembali berkutat dengan buku pelajaran sampai dengan pukul 9 malam, persiapan untuk menyambut pelajaran keesokan harinya.

Sejak kecil Angie juga gemar membaca karena terbiasa melihat sang papa yang gemar membaca buku di perpustakaan pribadinya. Sejak kelas 3 SD Angie sudah terinspirasi untuk bisa membuka perpustakaan kecil-kecilan, hasil dari koleksi buku bacaannya. Setiap bukunya disewakan seharga Rp. 100. Setiap minggu, Angie mendapatkan jatah dari papanya untuk membeli 1-2 buku. Jumlah buku itu akan bertambah manakala Angie merayakan ulang tahunnya. “Jadi, buku hasil dari pemberian Papa saya kumpulkan hingga jumlahnya lumayan banyak. Belum lagi tambahan uang dari buku yang saya sewakan, saya belikan buku lagi,” kata Angie.

Pindah ke Rumah Dinas. Setelah beberapa tahun tinggal menumpang di rumah sang tante, akhirnya kedua orang tua Angie mendapatkan rumah dinas di kompleks perumahan dosen Universitas Samratulangi Manado. Meskipun tinggal di kompleks perumahan dosen, tidak membuat Angie merasa dibatasi pergaulannya. Sebaliknya, Angie dibebaskan untuk bisa bermain dengan siapa saja. Kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai pengajar pada fakultas peternakan, membuat kediaman orang tuanya banyak sekali dipenuhi binatang peliharaan seperti kelinci, anjing, iguana, ayam, bebek, dan masih banyak lagi yang lainnya. Kondisi ini tentu saja membuat Angie menjadi dekat dan menyayangi beberapa hewan peliharaan yang ada di rumahnya.

Saat masuk SMP Katolik Pax Christy, Angie kembali harus berpindah tempat tinggal ke tempat yang agak lebih terisolasi dibandingkan dengan yang sebelumnya. Waktu itu papanya dipindahtugaskan. Perubahan kondisi seperti ini membuat Angie menjadi sedikit tidak betah karena kegiatan bermainnya relatif menjadi berkurang. Sepanjang waktunya hanya diisi dengan kegiatan belajar dan belajar. Selepas pulang sekolah, Angie melanjutkan dengan mengikuti les fisika, matematika, dan kimia. Setelah mengikuti les, Angie pun tak langsung pulang ke rumah melainkan mampir ke kantor ayahnya yang sudah menjabat sebagai kepala departemen penelitian Universitas Samratulangi. Di kantor papanya, Angie menghabiskan waktu dengan belajar komputer. Selesai sang papa bertugas, barulah Angie kembali ke rumah bersama papanya.

Memasuki masa SMA, Angie melanjutkan studinya ke Australia. Apalagi papanya juga mendapatkan dinas sebagai dosen terbang yang dikirim dari Universitas Samratulangi. Sehingga setiap bulannya harus bolak balik Jakarta-Australia. Awalnya Angie keberatan untuk tinggal seorang diri di Australia apalagi harus melanjutkan studi di sana. Namun pada akhirnya Angie pun menuruti apa kata kedua orang tuanya. Ia pun dimasukkan ke boarding school khusus asrama perempuan (Presbyterian Ladies College).

Selama 1-6 bulan pertama, Angie tidak kerasan. Apalagi dengan sistem pendidikan yang cukup keras dan pola hidup yang teramat ketat dan disiplin bak pola hidup di asrama militer. “Sejak awal saya memang sudah bilang sama Papa dan Mama kalau saya tidak betah belajar dengan pola seperti itu. Tapi mereka bilang coba dulu lagi sampai tiga bulan, setelah tiga bulan saya tetap tidak betah, mereka bilang coba lagi sampai enam bulan,” jelas Angie.

Angie sendiri semenjak berada dalam asrama, bergabung dengan tim yang kutu buku. Dalam pikirannya kala itu, mana mungkin orang dari Asia bisa diterima oleh anak-anak yang tergabung dalam tim Australia yang sangat mengutamakan penampilan. “Walaupun ada di dalam asrama, tapi kita semuanya mempunyai geng masing-masing. Karena saya tergabung dengan geng yang anak-anaknya rajin belajar, yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah total untuk belajar,” ungkap Angie. Apalagi menjelang kenaikan kelas 11 Angie benar-benar mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian nasional. Setelah lulus, Angie melanjutkan ke Armidale Public High School dimana tempat tersebut merupakan kota kelahirannya. Ketika bersekolah di sana, Angie menggunakan kuda sebagai kendaraan pribadinya menuju sekolah.

Pada tahun 1995, Angie harus kembali ke Indonesia. Ini dikarenakan pada saat itu Indonesia mulai dilanda gonjang-ganjing krisis ekonomi. Secara hitungan akademik, pendidikan Angie di Australia harusnya bisa melanjutkan ke kelas 3 SMA. Akan tetapi karena ketidaksesuaian sistem pendidikan, terpaksa ia mengulang dari kelas 2 di SMAN 2 Manado. Di SMAN 2 Manado Angie lebih rajin berorganisasi dengan mengikuti kegiatan drumband dan kepengurusan OSIS. Angie pun pernah menjabat sebagai ketua kelas.

Mulai Ikut Kontes Kecantikan. Melihat sang puteri yang memiliki kemampuan intelektual dan bahasa Inggris, membuat sang ayah menyarankan Angie untuk mengikuti kontes puteri kecantikan tingkat Manado. Papanya berharap Angie bisa meraih predikat miss Intelegensia. Dari sembilan kali mengikuti kontes puteri kecantikan, hanya satu kali Angie menjadi juara tiga. Selebihnya selalu menjadi juara pertama. Di tengah kesibukannya mengikuti kontes kecantikan, berkat kemahirannya dalam berbahasa asing, Angie pun sempat mengajar menjadi guru bahasa Inggris bagi anak-anak tingkat Sekolah Dasar dan SMP di kompleks rumah tempat tinggalnya. “Mungkin sampai pada tahap ini saya bisa merealisasikan cita-cita seperti yang Papa kerjakan, yaitu mengabdikan diri untuk menjadi pengajar. Lumayan, walaupun nggak banyak, uangnya bisa saya gunakan untuk menambah uang saku,” tandasnya.

Keasyikkannya mengajar les bahasa Inggris ternyata hanya bertahan satu setengah tahun. Ketika itu perhatian Angie mulai menyurut dikarenakan ia sudah mulai mengenal yang namanya cinta. Angie pun menjadi tidak profesional dan seringkali menukar jadwal les yang seharusnya sudah disepakati bersama. Apalagi kalau jadwal les bentrok dengan jadwal pacaran, ia pasti akan mengubah jadwal les dengan seenaknya. “Dulu itu kan jam nonton di zamanku sekitar jam 4 dan jam 5, padahal bertepatan dengan jam tersebut seharusnya saya mengajar di rumah. Apalagi anak-anak sudah mulai berdatangan ke rumah. Supaya bisa nonton dengan pacar, maka mau tidak mau saya pindahkan saja jamnya. Namanya juga first love. Jadi, apapun akan saya usahakan yang penting saya bisa berduaan sama pacar saya,” kenang Angie seraya tersenyum. Kondisi seperti ini tentu saja membuat para orang tua murid menjadi geram. Angie pun tidak lagi dipercaya untuk mengajar les bahasa Inggris.

Selepas dari SMAN 2 Manado, Angie mendaftarkan diri ke Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Setelah mengikuti serangkaian ujian saringan masuk, Angie pun dinyatakan lulus. Tentu saja Angie senang sekali. Ia pun langsung mengurus persyaratan administrasinya sampai dengan mencari tempat kost. Kendati telah diterima di UGM, hati Angie tak sepenuhnya berada di kampus tersebut. Konsentrasi kuliahnya lagi-lagi terpecah karena sang arjuna tak berada di sampingnya melainkan berkuliah di Jakarta.

Atas nama cinta, Angie pun mengurungkan niatnya untuk kuliah di UGM dan memohon kepada kedua orang tuanya agar diijinkan untuk berkuliah di Jakarta. ”Karena terbiasa dengan pola hidup demokratis, Papa dan Mama pun tidak terlalu ambil pusing dan biasanya keputusan itu dirembukkan bersama di atas meja makan,” urai Angie.

Permintaan Angie itu pun akhirnya diiyakan oleh kedua orang tuanya dengan catatan, Angie bisa merampungkan kuliah dalam kurun waktu 3 tahun dengan nilai IPK selalu di atas 3,5 tiap semesternya. Setelah mengantongi ijin dari orang tua, Angie pun berangkat ke Jakarta dan berkuliah di Fakultas Ekonomi Manajemen Unika Atmajaya demi menyusul sang arjuna di Jakarta. Angie pun akhirnya berhasil membuktikannya seperti apa yang dinginkan papanya.

Selama kuliah di Jakarta, prestasi Angie memang luar biasa. Selain ditetapkan sebagai asisten dosen, Angie juga kembali mencoba untuk mengajar bahasa Inggris di kampusnya. ”Ya lumayan uangnya bisa digunakan untuk tambahan uang saku dan modal buat pacaran, karena saya tidak mau terus meminta uang pada orang tua di Manado,” katanya.

Kendati sibuk dengan jadwal pacaran, namun Angie tidak melupakan tugasnya untuk mencetak prestasi akademik. Empat tahun lamanya terhitung semenjak SMA kelas 2 di Manado, Angie menjalin hubungannya dengan pria bernama Marcellino Leffrand (pemain sinetron, red), yang dikenalnya ketika pertama kali Angie mengikuti kontes cowok-cewek keren dimana Marcell sendiri bertindak sebagai juri.

Usai merampungkan kuliah, Angie kembali ke Manado dan bergabung bersama kakaknya bekerja di perusahaan kontraktor. Dengan alasan tidak mau bergantung di bawah payung keluarga, Angie kemudian memutuskan keluar dan kembali mencari kerja di Jakarta. Di Jakarta Angie sempat bekerja di kantor imigrasi, kemudian pindah ke Australian First bagian kepengurusan visa. Angie juga sempat menjabat PR and Communications Director di PT Royalindo Expoduta.

S-2 VS Puteri Indonesia. Dunia akademisi tampaknya sudah begitu mendarah daging dalam tubuhnya. Sambil bekerja di Jakarta, Angie terus mengisi waktu senggangnya dengan mencari informasi untuk beasiswa S2. ”Karena Papa banyak kenalannya, jadinya Papa banyak tahu akan informasi soal beasiswa. Kendati saya di Jakarta, saya terus kontak Papa. Apalagi papa aktif di ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), kan lumayan kalau dapat pendidikan tanpa harus membayar,” jelas Angie yang begitu mengagumi papanya tersebut.

Usaha Angie mencari beasiswa S-2 berhasil. Angie mendapatkan dua kesempatan beasiswa pendidikan di Jerman dan Jepang. Dari kedua option yang diajukan, Angie lebih memilih untuk berangkat ke Jerman. Angie pun mempersiapkan diri dengan mengikuti kursus bahasa Jerman dan international marketing, sebagai modal awal kuliah S-2-nya nanti. Karena masih dianggap belum cukup, setibanya di Jerman, sebelum masuk kelas kuliah, terlebih dahulu selama enam bulan Angie harus masuk kelas bahasa. Setelah semuanya dianggap selesai dan siap terbang ke Jerman, tiba-tiba Angie diterima sebagai Puteri Indonesia.

Tentu saja hal ini menjadi dilema tersendiri bagi Angie. Di satu sisi Angie begitu antusias untuk bisa melanjutkan studi S-2-nya ke Jerman, di sisi lain, tantangan untuk menjadi Puteri Indonesia juga begitu besar. Angie pun lebih memilih menjalani karirnya untuk menjadi Puteri Indonesia. “Tadinya kalau saya tidak terpilih jadi Puteri Indonesia September 2001 seperti jadwal yang telah ditentukan, saya akan terbang ke Jerman untuk melanjutkan S-2,” urai Angie.

Angie mengaku dengan terpilih sebagai Puteri Indonesia, otomatis mengubah segala konstalasi dalam hidupnya. Tidak hanya itu, kontes Puteri Indonesia ini juga sangat membukakan jalannya untuk bisa kenal dan dekat dengan orang hebat lebih banyak lagi. Meski demikian Angie tetap pada rencana awalnya dimana ia akan mengabdikan dirinya sebagai pengajar dan akademisi seperti halnya sang papa. “Apapun yang saya lakukan dalam hidup saya, yang jelas tujuan akhirnya bisa menjadi seorang akademisi dan pengajar,” ucap Angie yang juga pernah bercita-cita sebagai wartawan karena kesenangannya menulis.

Jadi, apapun yang dilakukan Angie sepanjang hidupnya sangatlah didukung kedua orang tuanya, khususnya sang papa yang begitu menyayanginya. “Buat saya, Papa sangat luar biasa. Sepanjang hidupnya, beliau memang tidak meninggalkan warisan kekayaan secara materi. Tetapi sebaliknya, Papa malah meninggalkan warisan yang sangat bernilai, melebihi dari segala materi. Itu juga yang terus memotivasi saya untuk bisa menjadi seperti Papa, hidup mempunyai value, baik dalam keluarga maupun pada sesama,” tambah Angie.

Angie mengaku kalau papanya banyak sekali mengajarkan arti bagaimana menghargai hidup yang sesungguhnya. Bahkan sejauh ini papanya sudah memikirkan ke mana kelak nantinya Angie akan mengarah kalau tidak lagi menjadi anggota dewan. “Papa mengajarkan saya untuk membiasakan diri dengan apa adanya dan meninggalkan segala embel-embel yang melekat sebelum ataupun sesudah. Artinya, belajar menikmati hidup tidak dengan seperangkat jabatan, melainkan menikmati hidup dengan seperangkat energi positif yang harus tercipta dan itu memang harus dibangun,” papar Angie. Hal itu pula yang turut membuat Angie selalu mensyukuri hidup ini dengan cara stop complaining. Menikmati segala apa yang telah diberikan Tuhan.

Pengabdian Diri. Meski sibuk menjadi anggota dewan dan juga harus menyelesaikan kuliah S-2-nya, Angie tetap peduli dengan lingkungan sekitar dengan aktif di dua yayasan yaitu Yayasan Women (Perempuan) dan Orang Utan Foundation. Angie ingin dengan bergabung di Yayasan Women, bisa merasakan bahwa sebagai manusia tentunya ingin diperlakukan layaknya manusia. ”Itu sebabnya, sebagai manusia kita juga harus turut berkontribusi dalam pembangunan. Dan saya tahu apa yang saya lakukan bersama dengan beberapa teman lainnya, belum begitu berarti. Tetapi paling tidak, saya dan teman-teman lainnya sudah mencoba untuk ambil bagian yaitu mau peduli pada sesama dan lingkungan sekitar dalam pengentasan kemiskinan dan kebodohan,” kata Angie. ”Memang tujuan kita disini adalah lebih difokuskan pada pendidikan anak, karena anak sebagai cikal bakal majunya sebuah bangsa. Inilah yang akan terus saya lakukan jikalau Tuhan berkehendak. Saya ingin mengabdikan diri saya dan mengaktualisasikan kemampuan intelektual yang saya miliki, dengan cara berbagi dan mengajar anak-anak yang jauh tertinggal pengetahuannya. Dengan demikian, kemampuan akademik mereka bisa bertambah. Ini tinggal urusan waktunya saja yang belum tepat,” tambahnya bersemangat.

Selain bergerak bersama yayasan Women dalam membantu pengentasan kemiskinan, Angie pun turut tergabung dalam Orang Utan Foundation. Ia merasa hutan sebagai habitat dari Orang Utan tersebut, jika dipahami secara mendetail, suplay oksigen dan air bersih itu datangnya dari hutan. Menurutnya, jika manusia ikut melestarikan dan menjaga satu Orang Utan saja, maka sudah turut menjaga ribuan hektar hutan dimana manfaatnya sangat banyak untuk kesinambungan hidup manusia ke depannya nanti. Gilbert


Aktif di Yayasan Perempuan dan Orang Utan Foundation

Dengan bermodalkan kemampuan akademisi dan kekayaan intelektual yang dimilikinya, maka semakin hari membawa Angie untuk lebih peduli atas kaum sesamanya yaitu perempuan. Khususnya perempuan Indonesia yang seringkali tertindas karena masih minimnya pendidikan perempuan Indonesia. Sebut saja seperti perdagangan perempuan dan anak perempuan di bawah umur yang oleh pihak tertentu dijadikan sebagai satu ladang mata pencaharian, dengan keuntungan sepihak.

Angie seringkali merasa kalau selama ini perempuan hanya dijadikan sebagai obyek kecantikan saja, tanpa terlebih dahulu mau melihat kemampuan intelektual si perempuan itu sendiri. Hal ini tentunya ditakutkan akan berujung pada pelecehan terhadap kaum perempuan. Menurut Angie semestinya hal ini tidak diperbolehkan terus terjadi. Kaum perempuan juga harus menjadi subyek dari bagian untuk kemajuan pembangunan bangsa.

Untuk itu, Angie bersama dengan beberapa teman seangkatannya di Puteri Indonesia dan bersama dengan beberapa rekan lainnya, sebut saja seperti Ivy Batuta, Anissa Pohan, Olga Lidya, dan Ami Gumelar, mendirikan yayasan khusus perempuan yang diberi nama Women (Women Act for Humanity and Environment) dengan jumlah keseluruhan anggota sekitar 200 orang.

Alasan yang melatarbelakangi berdirinya yayasan Women ini salah satunya adalah kurangnya penghargaan terhadap kaum perempuan muda di Indonesia yang berprestasi. Sehingga ke depannya nanti diharapkan yayasan Women ini bisa menjadi wadah bagi perempuan muda Indonesia yang berprestasi tetapi kurang mendapatkan perhatian dan penghargaan yang layak. Selain itu, dalam yayasan ini juga diajarkan bagaimana caranya untuk bisa menjadi seorang perempuan yang bisa mengaktualisasikan diri lebih baik daripada sebelumnya. “Di sini kita peduli makanya kita beraksi,” kata Angie tegas.

Dalam yayasan ini, Angie bersama dengan beberapa rekan lainnya yang turut tergabung didalamnya, bukan hanya mengurusi soal bidang keperempuanan saja, juga turut melakukan aksi peduli kemanusiaan. Adapun kegiatan yang pernah dilakukan dan terlaksana sebut saja seperti, membagikan susu di daerah Jawa Tengah, membantu korban bencana Pangandaran, dan menjual sembako murah di beberapa kota di Indonesia. Pengentasan buta aksara dan target utamanya adalah mendirikan rumah bina bacaan untuk anak-anak, seperti yang sudah berjalan di daerah Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, dan beberapa daerah tertinggal lainnya.

Tidak hanya itu, yayasan Women juga turut melakukan kepedulian untuk kesehatan ibu dan anak. “Saya sendiri cukup kagum karena ketika saya turun ke lokasi, langsung dengan beberapa teman, ternyata antusias masyarakat begitu besar kepada kita. Dan yang terlebih penting lagi disini, teman-teman bekerja dengan semangat dan militansi yang tinggi, sehingga kita bisa bekerja cukup solid tanpa harus memperhitungkan untung dan ruginya. Kita disini kerja bareng dan urunan, jadi semua ini dilakukan demi kemajuan dan kepentingan bersama,” urai Angie. Gilbert